Heroik : Taruna Akpol Selamatkan Bocah Hanyut di Sungai Aceh Tamiang

Aceh Tamiang  ( Aceh dalam berita ) Jum’at 30-1-2026 Aksi cepat tanggap dan Keberanian ditunjukkan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) bersama warga saat menyelamatkan seorang anak yang hanyut di sungai kawasan bawah Jembatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.45 WIB, tepat di lokasi yang berdekatan dengan area rencana kegiatan bakti sosial dan trauma healing Taruna Akpol. Korban diketahui bernama Haikal, seorang anak yang terseret arus sungai saat bermain di pinggiran bantaran.

Taruna Akpol yang berada di lokasi bersama masyarakat sekitar dengan cepat merespons kejadian tersebut. Begitu korban terlihat hanyut dan mengalami kesulitan bernapas, Taruna langsung melakukan penyelamatan darurat.

Taruna Akpol Muhammad menjelaskan, kejadian bermula ketika korban berusaha mengambil barang miliknya yang jatuh ke sungai.

“Saat mencoba mengambil handphone dan sendalnya yang hanyut, Haikal ikut terseret arus sungai dan tidak mampu menyelamatkan diri,” ujar Taruna Muhammad.

Setelah berhasil diangkat ke daratan, Taruna Akpol segera memberikan pertolongan pertama berupa tindakan resusitasi jantung paru (RJP) untuk menyelamatkan nyawa korban.

Taruna Davin menuturkan kondisi korban saat berhasil dievakuasi.

“Korban dalam kondisi napas terengah dan hampir tidak sadar. Kami langsung melakukan RJP hingga korban mengeluarkan lumpur dari mulutnya dan mulai merespons,” ungkapnya.

Selanjutnya, Haikal segera dibawa ke Posko Polri untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan dari tim Biddokkes Polda Aceh, sebelum dirujuk ke rumah sakit menggunakan ambulans.

Taruna Jasen mengapresiasi respons cepat tenaga medis di lokasi.

“Penanganan dari Biddokkes sangat cepat, korban langsung diberi bantuan oksigen dan perawatan awal sebelum dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.

Di rumah sakit, korban mendapatkan perawatan lanjutan dan penanganan medis secara intensif. Taruna Akpol juga turut memberikan keterangan kepada tenaga medis serta membantu menenangkan orang tua korban.

Aksi penyelamatan ini menjadi bukti nyata kehadiran Taruna Akpol di tengah masyarakat, tidak hanya dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, tetapi juga dalam situasi darurat yang menyangkut keselamatan nyawa warga.

Heroik : Taruna Akpol Selamatkan Bocah Hanyut di Sungai Aceh Tamiang

Aceh Tamiang  ( Aceh dalam berita ) Jum’at 30-1-2026 Aksi cepat tanggap dan Keberanian ditunjukkan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) bersama warga saat menyelamatkan seorang anak yang hanyut di sungai kawasan bawah Jembatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.45 WIB, tepat di lokasi yang berdekatan dengan area rencana kegiatan bakti sosial dan trauma healing Taruna Akpol. Korban diketahui bernama Haikal, seorang anak yang terseret arus sungai saat bermain di pinggiran bantaran.

Taruna Akpol yang berada di lokasi bersama masyarakat sekitar dengan cepat merespons kejadian tersebut. Begitu korban terlihat hanyut dan mengalami kesulitan bernapas, Taruna langsung melakukan penyelamatan darurat.

Taruna Akpol Muhammad menjelaskan, kejadian bermula ketika korban berusaha mengambil barang miliknya yang jatuh ke sungai.

“Saat mencoba mengambil handphone dan sendalnya yang hanyut, Haikal ikut terseret arus sungai dan tidak mampu menyelamatkan diri,” ujar Taruna Muhammad.

Setelah berhasil diangkat ke daratan, Taruna Akpol segera memberikan pertolongan pertama berupa tindakan resusitasi jantung paru (RJP) untuk menyelamatkan nyawa korban.

Taruna Davin menuturkan kondisi korban saat berhasil dievakuasi.

“Korban dalam kondisi napas terengah dan hampir tidak sadar. Kami langsung melakukan RJP hingga korban mengeluarkan lumpur dari mulutnya dan mulai merespons,” ungkapnya.

Selanjutnya, Haikal segera dibawa ke Posko Polri untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan dari tim Biddokkes Polda Aceh, sebelum dirujuk ke rumah sakit menggunakan ambulans.

Taruna Jasen mengapresiasi respons cepat tenaga medis di lokasi.

“Penanganan dari Biddokkes sangat cepat, korban langsung diberi bantuan oksigen dan perawatan awal sebelum dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.

Di rumah sakit, korban mendapatkan perawatan lanjutan dan penanganan medis secara intensif. Taruna Akpol juga turut memberikan keterangan kepada tenaga medis serta membantu menenangkan orang tua korban.

Aksi penyelamatan ini menjadi bukti nyata kehadiran Taruna Akpol di tengah masyarakat, tidak hanya dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, tetapi juga dalam situasi darurat yang menyangkut keselamatan nyawa warga.

Polda Aceh Tanam 10.000 Mangrove untuk Wujudkan Program Green Policing

Banda Aceh ( Aceh dalam berita ) Jum’at 30-1-2026 Polda Aceh melaksanakan kegiatan penghijauan dengan menanam 10.000 bibit pohon mangrove di Desa Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Kegiatan ini merupakan bagian dari program Green Policing sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap pelestarian ekosistem pesisir.

Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah mengatakan, program Green Policing merupakan wujud nyata komitmen Polda Aceh dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup, khususnya kawasan pesisir yang memiliki peran strategis dalam mitigasi bencana, pencegahan abrasi, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

Menurutnya, penanaman mangrove juga merupakan investasi jangka panjang bagi generasi yang akan datang. Mangrove memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pantai, menjadi habitat berbagai biota laut, sekaligus berfungsi sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen bagi kehidupan.

“Green Policing Polda Aceh diawali dengan penanaman 10.000 bibit pohon mangrove. Ke depan, saya akan memerintahkan seluruh Kapolres dan Kapolresta jajaran di Aceh untuk melaksanakan kegiatan serupa,” ujar Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah usai penanaman mangrove tersebut.

Ke depan, Kapolda Aceh akan menginstruksikan kepada seluruh jajaran agar melaksanakan kegiatan serupa di wilayah masing-masing. Apabila setiap satuan mampu menanam minimal 5.000 bibit mangrove, ditambah dengan 10.000 bibit dari Polda Aceh, maka total penanaman dapat mencapai sekitar 125.000 pohon mangrove.

“Tentu kita dapat membayangkan manfaat luar biasa yang akan dihasilkan apabila jumlah pohon yang kita tanam terus bertambah,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa program penghijauan Polda Aceh ini tidak hanya difokuskan pada kawasan pesisir, tetapi juga akan dikembangkan melalui program “Sejuta Pohon untuk Masyarakat” yang dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai wilayah Aceh.

Sejalan dengan program tersebut, Polda Aceh juga terus mendorong berbagai inovasi sebagai bagian dari upaya antisipasi dan mitigasi bencana di Aceh. Salah satu terobosan yang telah digagas adalah pemanfaatan tanah lumpur pascabencana banjir untuk direklamasi dan diolah kembali menjadi lahan tanam yang produktif.

“Tanah lumpur yang sebelumnya menjadi sumber permasalahan lingkungan kini dimanfaatkan sebagai media tanam berbagai jenis tanaman bernilai ekonomi, sehingga tidak hanya berfungsi memulihkan lingkungan, tetapi juga membuka peluang dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Terakhir, ia mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dansatbrimob, panitia, serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ia berharap apa yang dilakukan hari ini menjadi amal jariah dan membawa manfaat besar bagi lingkungan serta masyarakat Aceh.

“Keberhasilan program ini membutuhkan sinergi dan komitmen bersama antara Polri, pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, mahasiswa, dan masyarakat,” pungkasnya.

Polda Aceh Tanam 10.000 Mangrove untuk Wujudkan Program Green Policing

Banda Aceh ( Aceh dalam berita ) Jum’at 30-1-2026 Polda Aceh melaksanakan kegiatan penghijauan dengan menanam 10.000 bibit pohon mangrove di Desa Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Kegiatan ini merupakan bagian dari program Green Policing sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap pelestarian ekosistem pesisir.

Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah mengatakan, program Green Policing merupakan wujud nyata komitmen Polda Aceh dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup, khususnya kawasan pesisir yang memiliki peran strategis dalam mitigasi bencana, pencegahan abrasi, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

Menurutnya, penanaman mangrove juga merupakan investasi jangka panjang bagi generasi yang akan datang. Mangrove memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pantai, menjadi habitat berbagai biota laut, sekaligus berfungsi sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen bagi kehidupan.

“Green Policing Polda Aceh diawali dengan penanaman 10.000 bibit pohon mangrove. Ke depan, saya akan memerintahkan seluruh Kapolres dan Kapolresta jajaran di Aceh untuk melaksanakan kegiatan serupa,” ujar Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah usai penanaman mangrove tersebut.

Ke depan, Kapolda Aceh akan menginstruksikan kepada seluruh jajaran agar melaksanakan kegiatan serupa di wilayah masing-masing. Apabila setiap satuan mampu menanam minimal 5.000 bibit mangrove, ditambah dengan 10.000 bibit dari Polda Aceh, maka total penanaman dapat mencapai sekitar 125.000 pohon mangrove.

“Tentu kita dapat membayangkan manfaat luar biasa yang akan dihasilkan apabila jumlah pohon yang kita tanam terus bertambah,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa program penghijauan Polda Aceh ini tidak hanya difokuskan pada kawasan pesisir, tetapi juga akan dikembangkan melalui program “Sejuta Pohon untuk Masyarakat” yang dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai wilayah Aceh.

Sejalan dengan program tersebut, Polda Aceh juga terus mendorong berbagai inovasi sebagai bagian dari upaya antisipasi dan mitigasi bencana di Aceh. Salah satu terobosan yang telah digagas adalah pemanfaatan tanah lumpur pascabencana banjir untuk direklamasi dan diolah kembali menjadi lahan tanam yang produktif.

“Tanah lumpur yang sebelumnya menjadi sumber permasalahan lingkungan kini dimanfaatkan sebagai media tanam berbagai jenis tanaman bernilai ekonomi, sehingga tidak hanya berfungsi memulihkan lingkungan, tetapi juga membuka peluang dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Terakhir, ia mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dansatbrimob, panitia, serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ia berharap apa yang dilakukan hari ini menjadi amal jariah dan membawa manfaat besar bagi lingkungan serta masyarakat Aceh.

“Keberhasilan program ini membutuhkan sinergi dan komitmen bersama antara Polri, pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, mahasiswa, dan masyarakat,” pungkasnya.

Polda Aceh Tanam 10.000 Mangrove untuk Wujudkan Program Green Policing

Banda Aceh ( Aceh dalam berita ) Jum’at 30-1-2026 Polda Aceh melaksanakan kegiatan penghijauan dengan menanam 10.000 bibit pohon mangrove di Desa Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Kegiatan ini merupakan bagian dari program Green Policing sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap pelestarian ekosistem pesisir.

Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah mengatakan, program Green Policing merupakan wujud nyata komitmen Polda Aceh dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup, khususnya kawasan pesisir yang memiliki peran strategis dalam mitigasi bencana, pencegahan abrasi, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

Menurutnya, penanaman mangrove juga merupakan investasi jangka panjang bagi generasi yang akan datang. Mangrove memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pantai, menjadi habitat berbagai biota laut, sekaligus berfungsi sebagai penyerap karbon dan penghasil oksigen bagi kehidupan.

“Green Policing Polda Aceh diawali dengan penanaman 10.000 bibit pohon mangrove. Ke depan, saya akan memerintahkan seluruh Kapolres dan Kapolresta jajaran di Aceh untuk melaksanakan kegiatan serupa,” ujar Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah usai penanaman mangrove tersebut.

Ke depan, Kapolda Aceh akan menginstruksikan kepada seluruh jajaran agar melaksanakan kegiatan serupa di wilayah masing-masing. Apabila setiap satuan mampu menanam minimal 5.000 bibit mangrove, ditambah dengan 10.000 bibit dari Polda Aceh, maka total penanaman dapat mencapai sekitar 125.000 pohon mangrove.

“Tentu kita dapat membayangkan manfaat luar biasa yang akan dihasilkan apabila jumlah pohon yang kita tanam terus bertambah,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahwa program penghijauan Polda Aceh ini tidak hanya difokuskan pada kawasan pesisir, tetapi juga akan dikembangkan melalui program “Sejuta Pohon untuk Masyarakat” yang dilaksanakan secara berkelanjutan di berbagai wilayah Aceh.

Sejalan dengan program tersebut, Polda Aceh juga terus mendorong berbagai inovasi sebagai bagian dari upaya antisipasi dan mitigasi bencana di Aceh. Salah satu terobosan yang telah digagas adalah pemanfaatan tanah lumpur pascabencana banjir untuk direklamasi dan diolah kembali menjadi lahan tanam yang produktif.

“Tanah lumpur yang sebelumnya menjadi sumber permasalahan lingkungan kini dimanfaatkan sebagai media tanam berbagai jenis tanaman bernilai ekonomi, sehingga tidak hanya berfungsi memulihkan lingkungan, tetapi juga membuka peluang dan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Terakhir, ia mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dansatbrimob, panitia, serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ia berharap apa yang dilakukan hari ini menjadi amal jariah dan membawa manfaat besar bagi lingkungan serta masyarakat Aceh.

“Keberhasilan program ini membutuhkan sinergi dan komitmen bersama antara Polri, pemerintah daerah, akademisi, komunitas lingkungan, mahasiswa, dan masyarakat,” pungkasnya.

Akademisi, Ulama, dan Tokoh Masyarakat Pidie Tegaskan Dukungan Polri Tetap di Bawah Presiden

Mapolres Sigli  ( Aceh dalam berita ) Kamis 29-1-2026 Dukungan terhadap kedudukan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) agar tetap berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia terus menguat. Kali ini, dukungan tersebut datang dari kalangan akademisi, ulama, serta tokoh masyarakat di Kabupaten Pidie.

Rektor Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli, Dr. Heri Fajri, M.Pd, menegaskan bahwa posisi Polri di bawah Presiden merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas nasional serta memperkuat profesionalitas institusi kepolisian.

“Polri memiliki tugas yang sangat strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban nasional. Oleh karena itu, sudah tepat jika Polri berada langsung di bawah Presiden agar pelaksanaan tugas dapat berjalan efektif, profesional, dan tetap netral,” ujar Dr. Heri Fajri,. M.Pd

Ia menambahkan, kedudukan tersebut juga sejalan dengan sistem ketatanegaraan Indonesia serta memperkuat peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pidie, Ustaz Isafuddin, S.Ag, MH. Menurutnya, keberadaan Polri di bawah Presiden merupakan amanat konstitusi yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen bangsa.

“Polri adalah institusi negara yang bertugas menjaga keamanan dan persatuan bangsa. Dengan berada langsung di bawah Presiden, Polri dapat bekerja lebih maksimal dalam menjaga stabilitas dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutur Ketua PCNU Pidie

Dari kalangan pendidikan kesehatan, pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Medical Nurul Islam Sigli, Risna, S.Kep, M.Kep juga menyampaikan dukungan penuh terhadap kedudukan Polri saat ini.

“Kami mendukung Polri tetap berada di bawah Presiden. Dengan struktur yang jelas dan kuat, Polri akan semakin profesional serta mampu merespons berbagai tantangan keamanan dan sosial di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kabupaten Pidie, H. Jamaluddin Abdullah, menilai Polri telah menunjukkan komitmen dan dedikasi dalam menjaga keamanan serta melayani masyarakat.

“Kami sebagai masyarakat melihat Polri terus berbenah dan semakin humanis. Dengan tetap berada di bawah Presiden, Polri diharapkan semakin kuat, solid, dan selalu hadir memberikan rasa aman kepada masyarakat,” kata H. Jamaluddin Abdullah.

Dukungan dari akademisi, ulama, dan tokoh masyarakat ini menjadi cerminan kepercayaan publik terhadap Polri sebagai institusi negara yang memiliki peran vital dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Akademisi, Ulama, dan Tokoh Masyarakat Pidie Tegaskan Dukungan Polri Tetap di Bawah Presiden

Mapolres Sigli  ( Aceh dalam berita ) Kamis 29-1-2026 Dukungan terhadap kedudukan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) agar tetap berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia terus menguat. Kali ini, dukungan tersebut datang dari kalangan akademisi, ulama, serta tokoh masyarakat di Kabupaten Pidie.

Rektor Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli, Dr. Heri Fajri, M.Pd, menegaskan bahwa posisi Polri di bawah Presiden merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas nasional serta memperkuat profesionalitas institusi kepolisian.

“Polri memiliki tugas yang sangat strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban nasional. Oleh karena itu, sudah tepat jika Polri berada langsung di bawah Presiden agar pelaksanaan tugas dapat berjalan efektif, profesional, dan tetap netral,” ujar Dr. Heri Fajri,. M.Pd

Ia menambahkan, kedudukan tersebut juga sejalan dengan sistem ketatanegaraan Indonesia serta memperkuat peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pidie, Ustaz Isafuddin, S.Ag, MH. Menurutnya, keberadaan Polri di bawah Presiden merupakan amanat konstitusi yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen bangsa.

“Polri adalah institusi negara yang bertugas menjaga keamanan dan persatuan bangsa. Dengan berada langsung di bawah Presiden, Polri dapat bekerja lebih maksimal dalam menjaga stabilitas dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutur Ketua PCNU Pidie

Dari kalangan pendidikan kesehatan, pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Medical Nurul Islam Sigli, Risna, S.Kep, M.Kep juga menyampaikan dukungan penuh terhadap kedudukan Polri saat ini.

“Kami mendukung Polri tetap berada di bawah Presiden. Dengan struktur yang jelas dan kuat, Polri akan semakin profesional serta mampu merespons berbagai tantangan keamanan dan sosial di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kabupaten Pidie, H. Jamaluddin Abdullah, menilai Polri telah menunjukkan komitmen dan dedikasi dalam menjaga keamanan serta melayani masyarakat.

“Kami sebagai masyarakat melihat Polri terus berbenah dan semakin humanis. Dengan tetap berada di bawah Presiden, Polri diharapkan semakin kuat, solid, dan selalu hadir memberikan rasa aman kepada masyarakat,” kata H. Jamaluddin Abdullah.

Dukungan dari akademisi, ulama, dan tokoh masyarakat ini menjadi cerminan kepercayaan publik terhadap Polri sebagai institusi negara yang memiliki peran vital dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Akademisi, Ulama, dan Tokoh Masyarakat Pidie Tegaskan Dukungan Polri Tetap di Bawah Presiden

Mapolres Sigli  ( Aceh dalam berita ) Kamis 29-1-2026 Dukungan terhadap kedudukan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) agar tetap berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia terus menguat. Kali ini, dukungan tersebut datang dari kalangan akademisi, ulama, serta tokoh masyarakat di Kabupaten Pidie.

Rektor Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli, Dr. Heri Fajri, M.Pd, menegaskan bahwa posisi Polri di bawah Presiden merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas nasional serta memperkuat profesionalitas institusi kepolisian.

“Polri memiliki tugas yang sangat strategis dalam menjaga keamanan dan ketertiban nasional. Oleh karena itu, sudah tepat jika Polri berada langsung di bawah Presiden agar pelaksanaan tugas dapat berjalan efektif, profesional, dan tetap netral,” ujar Dr. Heri Fajri,. M.Pd

Ia menambahkan, kedudukan tersebut juga sejalan dengan sistem ketatanegaraan Indonesia serta memperkuat peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pidie, Ustaz Isafuddin, S.Ag, MH. Menurutnya, keberadaan Polri di bawah Presiden merupakan amanat konstitusi yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen bangsa.

“Polri adalah institusi negara yang bertugas menjaga keamanan dan persatuan bangsa. Dengan berada langsung di bawah Presiden, Polri dapat bekerja lebih maksimal dalam menjaga stabilitas dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutur Ketua PCNU Pidie

Dari kalangan pendidikan kesehatan, pimpinan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Medical Nurul Islam Sigli, Risna, S.Kep, M.Kep juga menyampaikan dukungan penuh terhadap kedudukan Polri saat ini.

“Kami mendukung Polri tetap berada di bawah Presiden. Dengan struktur yang jelas dan kuat, Polri akan semakin profesional serta mampu merespons berbagai tantangan keamanan dan sosial di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kabupaten Pidie, H. Jamaluddin Abdullah, menilai Polri telah menunjukkan komitmen dan dedikasi dalam menjaga keamanan serta melayani masyarakat.

“Kami sebagai masyarakat melihat Polri terus berbenah dan semakin humanis. Dengan tetap berada di bawah Presiden, Polri diharapkan semakin kuat, solid, dan selalu hadir memberikan rasa aman kepada masyarakat,” kata H. Jamaluddin Abdullah.

Dukungan dari akademisi, ulama, dan tokoh masyarakat ini menjadi cerminan kepercayaan publik terhadap Polri sebagai institusi negara yang memiliki peran vital dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Komandan Korem 173/PVB Kunjungi Jajaran Satgas Yonif 112/DJ

Puncak Jaya  ( Aceh dalam berita ) Kamis 29-1-2026 Satgas Yonif 112/DJ menerima kunjungan kerja dari Danrem 173/PVB Brigjen TNI I Ketut Mertha Gunarda beserta rombongan ke Pos Kotis dan jajaran wilayah penugasan Sektor Kabupaten Puncak Jaya Provinsi Papua Tengah.

Danrem 173/PVB selaku Dankolakops didampingi Kasiintel Kasrem 173/PVB Kolonel Inf Yudi Suradi melaksanakan kunjungan kerja sekaligus memeberi semangat ke jajaran Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG Kewilayahan Yonif 112/DJ wilayah Puncak Jaya yang akan melaksanakan Purna Tugas.

Kunjungan kerja ini dalam rangka melaksanakan pengawasan dan evaluasi pelaksanaan tugas Satgas Yonif 112/DJ yang bertugas kurang lebih selama 1 Tahun mengamankan wilayah sektor kabupaten Puncak Jaya Provinsi Papua Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Danrem 173/PVB selaku Dankolakops memberikan apresiasi kepada Satgas Yonif 112/DJ atas kinerja dan dedikasinya dalam menjaga keamanan di Papua Tengah, Danrem 173/PVB juga mengingatkan pentingnya kerjasama antara TNI dan Masyarakat setempat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Papua.

Dari Kepedulian untuk Masa Depan: Polri–Universitas Jambi Bantu Pelajar Aceh Tamiang

Aceh Tamiang ( Aceh dalam berita ) Rabu 28-1-2026 Polres Aceh Tamiang berkolaborasi dengan Universitas Jambi menyalurkan bantuan pendidikan kepada pelajar terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap pemulihan pendidikan pascabencana banjir yang terjadi pada 27 November 2025 lalu.

Bantuan yang disalurkan berupa tas sekolah, buku tulis, dan perlengkapan alat tulis untuk mendukung kelangsungan proses belajar anak-anak yang terdampak secara langsung.

KBO Lantas Polres Aceh Tamiang Ipda Indra Maulana menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kehadiran Polri bersama perguruan tinggi dalam membantu masyarakat, khususnya pelajar.

“Kami memberikan bantuan peralatan sekolah kepada para pelajar terdampak banjir. Semoga bantuan ini bermanfaat dan menjadi berkah bagi anak-anak kita,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDIT Muhammadiyah Desa Tupah, Kecamatan Karang Baru, Wati Sukarman, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut sangat dibutuhkan oleh para siswa.

“Bantuan ini sangat bermanfaat karena kelengkapan sekolah anak-anak kami banyak yang habis akibat banjir,” ungkapnya.

Rasa syukur juga disampaikan oleh para siswa penerima bantuan. Nurhijrah Afifah dengan senyum bahagia mengatakan,

“Makasih ya Pak Polisi sama Universitas Jambi.”

Hal senada diungkapkan Muhammad Abinair Pratama,

“Terima kasih Pak Polisi dan Universitas Jambi, sehingga kami bisa sekolah lagi.”

Melalui sinergi Polri dan Universitas Jambi ini, diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat Aceh Tamiang sekaligus membangkitkan kembali semangat belajar anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.