Wagub Aceh Minta Baitul Mal Kelola Zakat dan Sedekah Secara Transparan agar Dipercaya Masyarakat

Banda Aceh ( Inforakyataceh ) Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau yang akrab disapa Dek Fadh mengingatkan pentingnya transparansi dalam pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf oleh Baitul Mal. Menurutnya, kepercayaan masyarakat menjadi kunci utama untuk meningkatkan penghimpunan dana umat di Aceh.

Hal tersebut disampaikan Wagub Aceh saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Baitul Mal se-Aceh di Aula Hotel Rasamala, Banda Aceh, Rabu (15/7/2026). Kegiatan itu dihadiri seluruh komisioner Baitul Mal kabupaten dan kota se-Aceh.

“Dalam pengelolaan zakat, sedekah dan wakaf, transparansi adalah hal yang paling penting. Insya Allah kalau transparan, rakyat pasti percaya kepada Baitul Mal. Ini salah satu kuncinya,” kata Dek Fadh.

Ia menegaskan, Baitul Mal merupakan salah satu lembaga yang lahir dari amanat perdamaian Aceh melalui MoU Helsinki sehingga harus mampu menunjukkan tata kelola yang baik dan profesional.

Dek Fadh mencontohkan pengelolaan Wakaf Baitul Asyi di Arab Saudi yang hingga kini tetap konsisten menyalurkan manfaat wakaf untuk masyarakat Aceh sesuai dengan ikrar wakaf yang telah ditetapkan.

“Walaupun pernah ada keinginan agar hasil wakaf itu bisa dialihkan untuk seluruh masyarakat Indonesia, tetapi tidak bisa karena dalam ikrar wakaf sudah sangat jelas diperuntukkan bagi masyarakat Aceh. Nazirnya tetap teguh menjalankan amanah tersebut,” ujarnya.

Selain menekankan transparansi, Wagub juga mengungkapkan Pemerintah Aceh telah mengusulkan ketentuan mengenai zakat sebagai pengurang pajak dalam revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Usulan itu diharapkan dapat mendorong lebih banyak perusahaan di Aceh menunaikan kewajiban zakat melalui Baitul Mal.

“Insya Allah usulan ini disetujui. Jika zakat menjadi pengurang pajak, otomatis akan meningkatkan pendapatan Baitul Mal sehingga manfaatnya juga semakin besar untuk masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Baitul Mal Aceh, Tgk. Muhammad Yunus mengatakan Rakor Baitul Mal se-Aceh digelar untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama antara Baitul Mal Aceh dengan Baitul Mal kabupaten dan kota.

Ia mengakui berbagai tantangan yang dihadapi Baitul Mal di seluruh Aceh relatif sama, salah satunya belum optimalnya dukungan dari para pemangku kebijakan di daerah.

“Masalah yang kita hadapi hampir sama. Bila tidak ada dorongan dari pimpinan daerah, maka program-program Baitul Mal tidak dapat berjalan secara optimal,” ujarnya.

Muhammad Yunus menyebutkan, hingga saat ini sumber pendapatan Baitul Mal masih didominasi oleh zakat profesi yang berasal dari pemotongan gaji aparatur sipil negara (ASN). Karena itu, pihaknya berharap Pemerintah Aceh dapat mendorong perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Aceh untuk menyalurkan zakat melalui Baitul Mal.

“Kami berharap Pak Wagub dapat memanggil perusahaan-perusahaan yang ada di Aceh agar membayarkan zakatnya melalui Baitul Mal. Potensinya sangat besar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Rakor tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antar-Baitul Mal di Aceh sekaligus meningkatkan tata kelola lembaga yang transparan dan akuntabel demi menumbuhkan kepercayaan publik dalam pengelolaan dana umat.

Wagub Aceh Sambut Komitmen Mentan Dukung Kopi Gayo dan Sektor Pertanian

BENER MERIAH ( Inforakyataceh ) Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, mendampingi Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, meninjau lokasi produksi benih kopi arabika di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Selasa (14/7/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Wagub turut didampingi Bupati Bener Meriah, Bupati Aceh Tengah, Bupati Gayo Lues, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Kepala Dinas Pangan Aceh, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh.

‎‎Kunjungan itu menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat memperkuat sektor pertanian Aceh, khususnya pengembangan kopi Gayo yang selama ini menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia.‎‎

Pada kesempatan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten di wilayah tengah Aceh atas komitmen dalam memajukan sektor pertanian. Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Wakil Gubernur Aceh atas sinergi dan komunikasi yang selama ini terjalin dengan Kementerian Pertanian.‎‎

Menurut Amran, Gubernur Aceh Muzakir Manaf bersama Wakil Gubernur Fadhlullah merupakan di antara kepala daerah yang paling aktif berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dalam mendorong pembangunan sektor pertanian di daerah.

‎‎”Komunikasi yang intens seperti ini sangat kami hargai karena mempercepat penyelesaian berbagai kebutuhan di lapangan,” ujar Amran.

‎‎Ia menegaskan Kementerian Pertanian akan terus memantau perkembangan pertanian Aceh dan memberikan dukungan melalui berbagai program, termasuk penyediaan sarana dan prasarana pertanian serta bantuan lain yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas petani.‎‎

Menteri Pertanian juga memberikan apresiasi terhadap produktivitas kopi Gayo yang terus menunjukkan peningkatan dan memiliki nilai ekspor yang semakin tinggi. Menurutnya, potensi tersebut harus terus dikembangkan melalui penyediaan benih unggul, pendampingan kepada petani, serta penguatan rantai pasok agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.‎‎

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menyampaikan terima kasih atas perhatian besar yang diberikan Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Pertanian RI kepada Aceh.Ia menilai dukungan pemerintah pusat selama ini tidak hanya dirasakan dalam pengembangan sektor pertanian, tetapi juga saat Aceh menghadapi bencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu.‎‎

Wagub mengatakan kunjungan Menteri Pertanian menjadi bukti nyata komitmen pemerintah pusat dalam melihat langsung kondisi pertanian Aceh sekaligus memastikan berbagai program pengembangan dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.‎‎

Menurutnya, Pemerintah Aceh siap memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Pertanian dan pemerintah kabupaten untuk meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga kualitas kopi Gayo sebagai komoditas unggulan daerah, serta memperluas akses pasar sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi para petani Aceh.‎‎

“Atas nama Pemerintah Aceh, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Menteri Pertanian atas perhatian dan komitmen yang terus diberikan kepada Aceh. Dukungan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama perekonomian daerah,” ujar Fadhlullah.

‎‎Ia menambahkan, Pemerintah Aceh akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota agar berbagai program pembangunan pertanian dapat berjalan optimal, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan Aceh, khususnya kopi Gayo, di pasar nasional maupun internasional. []

Illiza Serahkan Bantuan Rumah kepada Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Banda Aceh – Dalam memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasiln rendah (MBR), Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal kembali menyerahkan bantuan rumah layak huni kepada tiga warga dalam Kecamatan Ulee Kareng, Rabu (15/7/2026).

Adapun penerima pertama yaitu Nurmalawati warga Gampong Lamteh, kemudian Cut Asna warga Gampong Illie dan Syahrial warga Gampong Pango Deah. Pembangunan dilaksanakan melalui dana APBK yang diusulkan oleh DPRK, lalu Pemko melakukan verifikasi dan ke tiga warga tersebut memenuhi kriteria sebagai penerima bantuan.

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan bahwa untuk tahun 2026 ini ada 71 rumah yang dibangun dan diperbaiki, saat ini baru selesai 21 rumah.

“Mudah-mudahan rumah layak huni yang kita serahkan ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dan memberikan kenyamanan beribadah dan keluarga bisa lebih bahagia,” harap Illiza.

Pembangunan rumah layak huni ini juga sejalan dengan asta cita Presiden RI untuk memperbaiki kualitas keluarga.

Adapun rumah yang dibangun dengan tipe 36 dengan fasilitas dasar mecakup 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu/keluarga dan dapur serta dilengkapi dengan utilitas yang memadai. (Hus)

Wali Kota Illiza Resmikan Sarana WASH Ramah Anak di SMPN 9 Banda Aceh

BANDA ACEH (Inforakyataceh) Lingkungan sekolah yang bersih, sehat, aman, dan nyaman menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses belajar mengajar. Untuk mendukung hal tersebut, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, meresmikan sekaligus menyerahkan sarana Air, Sanitasi, dan Hygiene (WASH) di SMP Negeri 9 Banda Aceh, Rabu (15/7/2026).

Sarana WASH yang dibangun tersebut dirancang aman, inklusif, serta berketahanan terhadap perubahan iklim. Fasilitas itu merupakan hasil kerja sama antara UNICEF Indonesia, Yayasan Aceh Hijau, PT Wings Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Pemerintah Kota Banda Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, Illiza menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menghadirkan fasilitas pendukung kesehatan dan kenyamanan bagi warga sekolah.

Ia berharap pembangunan fasilitas tersebut dapat menjadi awal dari semakin banyaknya sekolah di Banda Aceh yang memiliki sarana sanitasi dan air bersih yang layak.“Semoga ini menjadi langkah awal bagi banyak sekolah di Banda Aceh untuk memiliki lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan nyaman, demi mencetak generasi masa depan yang cerdas dan peduli terhadap lingkungan,” ujar Illiza.

Selain meresmikan fasilitas WASH, Illiza juga mengajak para siswa untuk turut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.Ia mendorong para siswa membiasakan diri membawa botol minum dari rumah sebagai bagian dari penerapan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 9 Banda Aceh, Nurdin, mengatakan sekolahnya mendapatkan dua fasilitas utama melalui program tersebut.Fasilitas itu meliputi pembangunan toilet yang layak dan ramah anak serta penyediaan air minum siap saji dengan menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO).Menurut Nurdin, keberadaan sarana tersebut sangat membantu memenuhi kebutuhan dasar siswa maupun tenaga pendidik di lingkungan sekolah.

Ia menyebutkan, fasilitas air bersih dan sanitasi yang layak selama ini menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan mendukung aktivitas belajar mengajar.Dengan adanya fasilitas WASH tersebut, SMP Negeri 9 Banda Aceh diharapkan dapat menjadi salah satu contoh penerapan sarana sanitasi dan air bersih yang aman, inklusif, serta ramah lingkungan di lingkungan sekolah.(TM)

Kalaksa BPBD Aceh Besar Beri Penguatan SPAB pada MPLS SMAN Modal Bangsa

KOTA JANTHO ( Inforakyataceh ) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil SSos MSi, memberikan materi tentang Penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) kepada peserta Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN Modal Bangsa, Jalan Bandara Sultan Iskandar Muda, Gampong Cot Geundreut, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (15/7/2026).

Dalam kegiatan yang turut didampingi oleh staf BPBD Aceh Besar tersebut, Ridwan Jamil yang akrab disapa RJ, menyampaikan materi mengenai Penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sebagai bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.

RJ menjelaskan, mitigasi kebencanaan di sekolah merupakan upaya yang dilakukan secara sistematis untuk mengurangi risiko bencana melalui dua pilar utama, yakni mitigasi struktural dan mitigasi nonstruktural.

“Mitigasi struktural dilakukan melalui penguatan fisik bangunan dan sarana prasarana sekolah agar lebih aman terhadap ancaman bencana. Sementara mitigasi nonstruktural dilakukan dengan meningkatkan kapasitas siswa, guru, dan seluruh warga sekolah agar memiliki pengetahuan serta keterampilan menghadapi bencana,” ujarnya.

Menurutnya, kedua aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sehingga sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga lingkungan yang aman dan tangguh terhadap berbagai potensi bencana.

“Aceh merupakan daerah yang memiliki potensi berbagai jenis bencana. Karena itu, edukasi mitigasi harus ditanamkan sejak dini agar para siswa memahami risiko yang ada dan mengetahui langkah-langkah penyelamatan diri ketika terjadi keadaan darurat,” katanya.

Kalaksa BPBD Aceh Besar itu berharap materi yang diberikan pada kegiatan MPLS dapat meningkatkan kesadaran para peserta didik baru terhadap pentingnya kesiapsiagaan bencana serta mendorong mereka menjadi pelopor keselamatan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

“Kami berharap seluruh warga sekolah dapat bersama-sama membangun budaya sadar bencana. Dengan begitu, tujuan mewujudkan Satuan Pendidikan Aman Bencana dapat tercapai dan risiko bencana di lingkungan pendidikan dapat diminimalkan,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen BPBD Aceh Besar dalam memperkuat pendidikan kebencanaan di satuan pendidikan melalui implementasi program SPAB, sehingga tercipta sekolah yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana.(*)

Plt Dirut Perumda Tirta Mountala Tutup Pelatihan Kompetensi SPAM, Tekankan Peningkatan Layanan Pelanggan

KOTA JANTHO ( Inforakyataceh ) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Mountala Aceh Besar terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) guna menghadirkan pelayanan air minum yang semakin profesional kepada masyarakat.Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Evaluasi dan Peningkatan Kompetensi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dan Pelayanan yang resmi ditutup oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Tirta Mountala Aceh Besar, Ir. Yusmadi, MM, di Aula Kantor Pusat Operasional Perumda Tirta Mountala, Siron, Sabtu (11/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, sejak Kamis hingga Sabtu itu diikuti enam orang karyawan Perumda Tirta Mountala Aceh Besar sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas aparatur dalam mendukung pelayanan air bersih yang optimal.Turut hadir dalam penutupan kegiatan tersebut Anggota Dewan Pengawas T. Abulis Samarkhan ST, Direktur Umum Devid Zainal SE, serta jajaran manajemen Perumda Tirta Mountala Aceh Besar.

Kepala Bagian Umum Sunawar ST, selaku panitia kegiatan mengatakan pelatihan dirancang untuk memperkuat kemampuan teknis maupun pelayanan para pegawai agar mampu menjawab tantangan pengelolaan Sistem Penyediaan Air Minum yang semakin kompleks.Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi yang mencakup aspek produksi, operasional, teknik distribusi, hingga pelayanan pelanggan. Materi tersebut disampaikan oleh tim pemateri dan evaluator yang terdiri dari Muhammad Ichsan Nizali SE, Muhammad Taufik ST, dan Sudirman ST.

Dalam amanatnya saat menutup kegiatan, Plt Direktur Utama Perumda Tirta Mountala Aceh Besar, Ir. Yusmadi, MM, menegaskan bahwa peningkatan kompetensi pegawai harus menjadi budaya kerja yang terus dikembangkan seiring perubahan dan perkembangan teknologi.”Terus tingkatkan kompetensi, adaptif terhadap setiap perubahan, dan yang paling utama adalah mengutamakan pelayanan kepada pelanggan. Kepuasan masyarakat merupakan tolok ukur keberhasilan kita sebagai perusahaan pelayanan publik,” tegas Yusmadi.

Ia menambahkan, tantangan pengelolaan air minum ke depan semakin besar, sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang profesional, memiliki kemampuan teknis yang baik, serta mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan responsif kepada masyarakat.Menurutnya, peningkatan kualitas SDM akan berdampak langsung terhadap kualitas layanan Perumda Tirta Mountala, baik dari sisi kontinuitas distribusi air bersih maupun penyelesaian berbagai keluhan pelanggan.

Sementara itu, Anggota Dewan Pengawas Perumda Tirta Mountala, T. Abulis Samarkhan ST, berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari sehingga mampu meningkatkan kinerja perusahaan secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan evaluasi dan peningkatan kompetensi tersebut, Perumda Tirta Mountala Aceh Besar menegaskan komitmennya untuk terus membangun SDM yang unggul, profesional, dan berorientasi pada pelayanan prima demi memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Aceh Besar secara optimal.(**)

Produksi Sampah Capai 250 Ton Per Hari, Illiza Dorong Warga Pilah Sampah dari Rumah

BANDA ACEH (Inforakyataceh) Pemerintah Kota Banda Aceh terus mendorong perubahan pola pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Langkah tersebut dinilai penting menyusul produksi sampah di ibu kota Provinsi Aceh yang kini mencapai sekitar 249 hingga 250 ton setiap harinya.Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Diperlukan keterlibatan seluruh masyarakat agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.Hal tersebut disampaikan Illiza saat membuka Sosialisasi Waste Collecting Point (WCP) di Aula Balai Kota Banda Aceh, Rabu (15/7/2026).

Illiza menyebutkan, jumlah penduduk Banda Aceh yang mencapai 269.552 jiwa turut berpengaruh terhadap tingginya volume sampah yang dihasilkan setiap hari.“Ini bukan angka yang kecil. Jika seluruh sampah hanya berakhir di tempat pemrosesan akhir tanpa pemilahan dan pengurangan dari sumbernya, maka beban lingkungan akan semakin berat,” ujarnya.

Menurut Illiza, pengelolaan sampah harus dimulai sejak dari sumbernya, terutama rumah tangga. Warga diharapkan tidak lagi mencampur seluruh jenis sampah, melainkan memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu.

Upaya tersebut diyakini dapat mengurangi jumlah sampah yang dibawa ke tempat pemrosesan akhir sekaligus meningkatkan potensi pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.“Kalau pemilahan dilakukan sejak dari rumah, volume sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang. Di sisi lain, tingkat daur ulang meningkat dan lingkungan menjadi lebih bersih,” kata Illiza.

Ia menjelaskan, penerapan Waste Collecting Point (WCP) merupakan salah satu bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah. WCP diharapkan tidak hanya menjadi tempat pengumpulan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemilahan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Program tersebut sejalan dengan program ASRI (Aksi Solutif untuk Ramah Lingkungan) yang menjadi salah satu langkah Pemerintah Kota Banda Aceh dalam mewujudkan kota yang bersih, sehat, hijau, serta mampu menghadapi tantangan perubahan iklim.

Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga terus mendorong pengembangan berbagai fasilitas pengelolaan sampah, termasuk TPS 3R dan TPST, serta memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.Illiza menegaskan, keberhasilan program pengelolaan sampah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen untuk mengambil peran, baik pemerintah, masyarakat, dunia usaha, sekolah, perguruan tinggi, komunitas lingkungan maupun tokoh agama.Ia juga memberikan apresiasi kepada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Banda Aceh yang telah menginisiasi program WCP dengan melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai pengelola.

Illiza menilai keterlibatan KWT dapat memperkuat edukasi lingkungan di tingkat keluarga. Para ibu dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan anggota keluarga, termasuk dalam hal memilah dan mengelola sampah.“Saya berharap Kelompok Wanita Tani dapat menjadi agen perubahan yang mengajak masyarakat membiasakan pemilahan sampah dari rumah, sekaligus mengembangkan pengelolaan sampah yang memiliki nilai ekonomi,” ungkapnya.

Illiza berharap kolaborasi berbagai pihak dapat mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang lebih baik di Banda Aceh.“Pemerintah menyiapkan kebijakan dan fasilitas, masyarakat membangun budaya disiplin, dunia usaha ikut berpartisipasi, dan komunitas menjadi penggerak di lapangan. Jika semua bergerak bersama, saya yakin Banda Aceh akan menjadi kota yang semakin bersih, sehat, dan nyaman,” pungkasnya.[Daus]