Brigif TP 90/YGD Bagikan Tas Sekolah Bagi Murid SDN 10 Rusip Antara, Aceh Tengah

Aceh Tengah  ( Aceh dalam berita ) Minggu 18-1-2026 Sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap dunia pendidikan dan masa depan generasi muda, personel Brigade Infanteri Tempur (Brigif TP) 90/Yudha Gatra Dharma (YGD) melaksanakan kegiatan sosial dengan membagikan ransel sekolah kepada siswa-siswi SD Negeri 10 Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah,

Kegiatan tersebut merupakan wujud perhatian TNI terhadap anak-anak usia sekolah, khususnya yang berada di wilayah terdampak bencana banjir dan masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan. Bantuan ransel sekolah ini diharapkan dapat menunjang kegiatan belajar para siswa serta memberikan motivasi agar mereka tetap semangat menuntut ilmu meskipun berada dalam kondisi yang tidak mudah.

Raut wajah ceria dan senyum tulus tampak jelas dari para siswa saat menerima ransel baru yang diserahkan langsung oleh personel Brigif TP 90/YGD. Bagi anak-anak tersebut, bantuan ini bukan sekadar perlengkapan sekolah, melainkan juga menjadi penyemangat dan bentuk perhatian yang memberikan harapan untuk terus belajar dan meraih cita-cita di masa depan.

Kehadiran personel TNI di lingkungan sekolah mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah, para guru, serta orang tua murid. Mereka mengapresiasi kepedulian Brigif TP 90/YGD yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir langsung membantu anak-anak di wilayah Rusip Antara.

Melalui kegiatan ini, Brigif TP 90/YGD berharap dapat meringankan beban orang tua siswa sekaligus menumbuhkan kembali semangat belajar anak-anak pascabanjir yang melanda daerah tersebut. Pendidikan dipandang sebagai pondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, sehingga perlu mendapatkan perhatian dan dukungan dari semua pihak.

Di balik seragam loreng yang dikenakan, tersimpan kepedulian, empati, dan kasih sayang terhadap generasi penerus bangsa. Brigif TP 90/YGD menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat dan berkontribusi secara positif, tidak hanya dalam menjalankan tugas pokok pertahanan negara, tetapi juga dalam mendukung kemajuan pendidikan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah tugasnya.

Brigif TP 90/YGD Bagikan Tas Sekolah Bagi Murid SDN 10 Rusip Antara, Aceh Tengah

Aceh Tengah  ( Aceh dalam berita ) Minggu 18-1-2026 Sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap dunia pendidikan dan masa depan generasi muda, personel Brigade Infanteri Tempur (Brigif TP) 90/Yudha Gatra Dharma (YGD) melaksanakan kegiatan sosial dengan membagikan ransel sekolah kepada siswa-siswi SD Negeri 10 Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah,

Kegiatan tersebut merupakan wujud perhatian TNI terhadap anak-anak usia sekolah, khususnya yang berada di wilayah terdampak bencana banjir dan masih menghadapi berbagai keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan. Bantuan ransel sekolah ini diharapkan dapat menunjang kegiatan belajar para siswa serta memberikan motivasi agar mereka tetap semangat menuntut ilmu meskipun berada dalam kondisi yang tidak mudah.

Raut wajah ceria dan senyum tulus tampak jelas dari para siswa saat menerima ransel baru yang diserahkan langsung oleh personel Brigif TP 90/YGD. Bagi anak-anak tersebut, bantuan ini bukan sekadar perlengkapan sekolah, melainkan juga menjadi penyemangat dan bentuk perhatian yang memberikan harapan untuk terus belajar dan meraih cita-cita di masa depan.

Kehadiran personel TNI di lingkungan sekolah mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah, para guru, serta orang tua murid. Mereka mengapresiasi kepedulian Brigif TP 90/YGD yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir langsung membantu anak-anak di wilayah Rusip Antara.

Melalui kegiatan ini, Brigif TP 90/YGD berharap dapat meringankan beban orang tua siswa sekaligus menumbuhkan kembali semangat belajar anak-anak pascabanjir yang melanda daerah tersebut. Pendidikan dipandang sebagai pondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, sehingga perlu mendapatkan perhatian dan dukungan dari semua pihak.

Di balik seragam loreng yang dikenakan, tersimpan kepedulian, empati, dan kasih sayang terhadap generasi penerus bangsa. Brigif TP 90/YGD menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat dan berkontribusi secara positif, tidak hanya dalam menjalankan tugas pokok pertahanan negara, tetapi juga dalam mendukung kemajuan pendidikan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah tugasnya.

Polri Bersama Masyarakat Bangun Jembatan Darurat, Akses Tiga Kampung di Rusip Antara Kembali Terhubung

Takengon  ( Aceh dalam berita ) Sabtu 17-1-2026 Polri bersama masyarakat terus menunjukkan sinergi dan kepedulian dalam percepatan pemulihan pascabencana alam di Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah.

Personel BKO Brimob Polda Aceh bersama Personel Polsubsektor Rusip Antara melaksanakan gotong royong lanjutan pengisian beronjong sebagai bantalan jembatan darurat di Kampung Pilar.

Jembatan darurat tersebut dibangun untuk menghubungkan Kampung Pilar dengan dua kampung lainnya, yakni Kampung Pilar Wih Kiri dan Kampung Tirmiara. Sebelumnya, jembatan penghubung utama hanyut dan rusak parah akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025 lalu, sehingga memutus akses transportasi dan menghambat aktivitas masyarakat.

Kegiatan gotong royong ini melibatkan Personel Polsubsektor Rusip Antara, Personel Brimob BKO Polda Aceh, para Reje Kampung Pilar, Pilar Wih Kiri, dan Tirmiara, serta masyarakat dari ketiga kampung. Seluruh unsur bahu-membahu mempercepat pembangunan jembatan darurat agar segera dapat dilalui kendaraan roda dua (R2) maupun roda empat (R4).

Kapolres Aceh Tengah, AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H., mengatakan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat tidak berjuang sendiri dalam situasi sulit pascabencana.
“Kami merasakan langsung bagaimana beratnya aktivitas warga ketika akses utama terputus. Anak-anak sulit ke sekolah, hasil kebun terhambat dibawa ke pasar, dan kebutuhan sehari-hari menjadi tidak mudah. Karena itu, Polri hadir bukan sekadar bekerja, tetapi ikut merasakan dan bergotong royong bersama masyarakat,” ungkap Kapolres.

Ia menegaskan bahwa jembatan darurat ini memiliki peran vital sebagai urat nadi kehidupan warga, terutama dalam mendukung mobilitas, perekonomian, dan pelayanan sosial masyarakat antar kampung.
“Jembatan ini mungkin bersifat darurat, tetapi harapan masyarakat tidak boleh terhenti. Dengan kebersamaan dan semangat gotong royong, kami optimistis akses ini segera kembali normal dan aktivitas warga bisa berjalan seperti sediakala,” tambahnya.

Sementara itu, salah seorang warga Kampung Pilar, Jamaluddin (45), mengaku sangat terbantu dengan pembangunan jembatan darurat yang dilakukan secara gotong royong bersama Polri.
“Sejak jembatan hanyut, kami harus memutar jauh kalau mau ke kampung sebelah atau membawa hasil kebun. Sekarang melihat Polri turun langsung bersama kami, rasanya kami tidak sendirian. Ini sangat membantu kehidupan kami sehari-hari,” ujarnya.

Kapolres Aceh Tengah juga memastikan Polres Aceh Tengah akan terus mendukung upaya pemulihan infrastruktur pascabencana serta menjaga keamanan dan kelancaran aktivitas masyarakat di wilayah Rusip Antara.
Melalui kegiatan gotong royong ini, Polri bersama masyarakat menegaskan komitmen untuk saling membantu dan memperkuat solidaritas sosial, sehingga proses pemulihan pascabencana di Kecamatan Rusip Antara dapat berjalan lebih cepat, aman, dan berkelanjutan.

Polri Bersama Masyarakat Bangun Jembatan Darurat, Akses Tiga Kampung di Rusip Antara Kembali Terhubung

Takengon  ( Aceh dalam berita ) Sabtu 17-1-2026 Polri bersama masyarakat terus menunjukkan sinergi dan kepedulian dalam percepatan pemulihan pascabencana alam di Kecamatan Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah.

Personel BKO Brimob Polda Aceh bersama Personel Polsubsektor Rusip Antara melaksanakan gotong royong lanjutan pengisian beronjong sebagai bantalan jembatan darurat di Kampung Pilar.

Jembatan darurat tersebut dibangun untuk menghubungkan Kampung Pilar dengan dua kampung lainnya, yakni Kampung Pilar Wih Kiri dan Kampung Tirmiara. Sebelumnya, jembatan penghubung utama hanyut dan rusak parah akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025 lalu, sehingga memutus akses transportasi dan menghambat aktivitas masyarakat.

Kegiatan gotong royong ini melibatkan Personel Polsubsektor Rusip Antara, Personel Brimob BKO Polda Aceh, para Reje Kampung Pilar, Pilar Wih Kiri, dan Tirmiara, serta masyarakat dari ketiga kampung. Seluruh unsur bahu-membahu mempercepat pembangunan jembatan darurat agar segera dapat dilalui kendaraan roda dua (R2) maupun roda empat (R4).

Kapolres Aceh Tengah, AKBP Muhamad Taufiq, S.I.K., M.H., mengatakan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat tidak berjuang sendiri dalam situasi sulit pascabencana.
“Kami merasakan langsung bagaimana beratnya aktivitas warga ketika akses utama terputus. Anak-anak sulit ke sekolah, hasil kebun terhambat dibawa ke pasar, dan kebutuhan sehari-hari menjadi tidak mudah. Karena itu, Polri hadir bukan sekadar bekerja, tetapi ikut merasakan dan bergotong royong bersama masyarakat,” ungkap Kapolres.

Ia menegaskan bahwa jembatan darurat ini memiliki peran vital sebagai urat nadi kehidupan warga, terutama dalam mendukung mobilitas, perekonomian, dan pelayanan sosial masyarakat antar kampung.
“Jembatan ini mungkin bersifat darurat, tetapi harapan masyarakat tidak boleh terhenti. Dengan kebersamaan dan semangat gotong royong, kami optimistis akses ini segera kembali normal dan aktivitas warga bisa berjalan seperti sediakala,” tambahnya.

Sementara itu, salah seorang warga Kampung Pilar, Jamaluddin (45), mengaku sangat terbantu dengan pembangunan jembatan darurat yang dilakukan secara gotong royong bersama Polri.
“Sejak jembatan hanyut, kami harus memutar jauh kalau mau ke kampung sebelah atau membawa hasil kebun. Sekarang melihat Polri turun langsung bersama kami, rasanya kami tidak sendirian. Ini sangat membantu kehidupan kami sehari-hari,” ujarnya.

Kapolres Aceh Tengah juga memastikan Polres Aceh Tengah akan terus mendukung upaya pemulihan infrastruktur pascabencana serta menjaga keamanan dan kelancaran aktivitas masyarakat di wilayah Rusip Antara.
Melalui kegiatan gotong royong ini, Polri bersama masyarakat menegaskan komitmen untuk saling membantu dan memperkuat solidaritas sosial, sehingga proses pemulihan pascabencana di Kecamatan Rusip Antara dapat berjalan lebih cepat, aman, dan berkelanjutan.

Paradoks Koperasi Merah Putih: Pelukan Negara Terlalu Erat, Rakyat Sulit Berdaulat

Serba-serbi ( Aceh dalam berita ) Sabtu 17-1-2026 Koperasi di Indonesia mendapat perhatian besar dari pemerintah, termasuk kementerian khusus yang menangani koperasi, terpisah dari UMKM. Namun, perhatian yang berlebihan justru menimbulkan masalah: koperasi sulit tumbuh mandiri karena terlalu dikendalikan negara.

Menurut Alip Purnomo, Direktur IndexPolitica, “Koperasi yang terlalu erat dalam pelukan negara tanpa ruang otonomi akan sulit berdaulat. Ia hidup, tetapi tidak sepenuhnya menentukan arah hidupnya sendiri.” Pernyataan ini relevan dengan Koperasi Merah Putih, yang sejak awal dibebani fungsi strategis: menjadi simpul distribusi, penggerak logistik, dan wajah ekonomi nasional di desa.

Situasi ini mencerminkan praktik etatisme, di mana negara memegang kendali langsung atas organisasi ekonomi warga melalui BUMN dan kebijakan struktural, bukan membiarkan koperasi berkembang dari kebutuhan anggota.

“Perlakuan ini jarang terjadi pada korporasi. Perusahaan diberi ruang menentukan model bisnis dan menanggung risiko, sedangkan Koperasi Merah Putih diberi paket lengkap: nama, skema usaha, target, dan peran ditentukan. Seolah-olah koperasi hanya badan hukum, bukan organisasi hidup berdaulat,” tambah Alip.

Pengalaman di berbagai negara menunjukkan koperasi kuat ketika negara menahan diri dari pengendalian langsung, tetapi tegas menjalankan tanggung jawab: menjamin kesejahteraan dasar, menegakkan hukum persaingan, menyediakan infrastruktur netral, dan melindungi hak anggota.

“Selama koperasi di Indonesia tetap dalam pelukan etatisme, kemandirian sulit tercapai. Negara ingin membantu, tapi justru rakyat terbebani. Lebih baik fokus pada pendidikan gratis, jaminan sosial memadai, dan layanan kesehatan berkualitas, sementara koperasi dibiarkan berkembang sebagai kekuatan ekonomi akar rumput,” tutup Alip.

Prajurit Yonif 114/SM bersama warga gotong royong buka akses jalan tertutup longsor di Bener Meriah

Bener Meriah  ( Aceh dalam berita ) Sabtu 17-1-2026 Akses jalan utama yang menghubungkan Desa Pantan Lues, Kecamatan Gajah Putih menuju Desa Sumber Jaya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, sempat terputus akibat tertutup material longsor sebagai dampak dari bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh beberapa waktu lalu.

Longsor terjadi di beberapa titik sepanjang jalur tersebut, dengan kondisi terparah berada di bagian tengah jalan penghubung antar Kecamatan Gajah Putih dan Kecamatan Timang Gajah. Material longsoran berupa tanah dan bebatuan menutup badan jalan dengan ketinggian mencapai kurang lebih satu meter, sehingga tidak dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki. Kondisi ini sangat menghambat aktivitas masyarakat yang sehari-hari bergantung pada jalur tersebut sebagai akses utama menuju kebun, pusat ekonomi, serta fasilitas umum lainnya.

Menanggapi kondisi tersebut, personel TNI dari Koramil 03/Timang Gajah bersama prajurit Yonif 114/Satria Musara yang tergabung dalam Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) bergerak cepat melaksanakan gotong royong pembersihan material longsor. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama masyarakat setempat  sebagai bentuk kepedulian dan respons cepat terhadap kesulitan warga di wilayah binaan.

Danramil 03/Timang Gajah, Kapten Inf Takdir Anur, mengatakan bahwa upaya pembukaan akses jalan ini dilakukan secara bersama-sama dengan warga menggunakan peralatan seadanya guna mempercepat proses pembersihan.
“Jalan ini merupakan akses vital bagi masyarakat dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, TNI bersama warga melaksanakan gotong royong membuka akses jalan yang tertutup longsor agar dapat segera dilalui kembali,” ujar Kapten Takdir.

Ia menambahkan, meskipun dihadapkan dengan keterbatasan alat dan kondisi medan yang cukup berat, semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat menjadi kunci utama dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan akses transportasi serta meringankan beban masyarakat pascabencana.

“Melalui kebersamaan dan semangat gotong royong, kami berharap akses jalan ini segera pulih sehingga aktivitas warga dapat kembali berjalan normal. Ini juga merupakan wujud nyata kehadiran TNI di tengah-tengah masyarakat, khususnya dalam membantu penanganan dampak bencana,” pungkasnya.

Sementara itu, Subhan, salah seorang warga Desa Pantan Lues yang turut serta dalam kegiatan gotong royong tersebut, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada TNI yang telah sigap membantu masyarakat.

“Kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang telah turun langsung membantu membersihkan longsor. Kehadiran TNI sangat membantu dan memberikan semangat bagi kami warga,” ungkapnya.

Ia berharap, kerja sama dan kepedulian seperti ini terus terjalin, serta adanya perhatian lanjutan dari pihak terkait agar ke depan penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat dan akses jalan utama masyarakat tetap terjaga dengan baik, terutama saat musim hujan yang rawan terjadi longsor.

Prajurit Yonif 115/Macan Leuser Bersihkan lumpur banjir di lingkungan Kantor MPD Aceh Tamiang

Aceh Tamiang  ( Aceh dalam berita ) Sabtu 17-1-2926  Sebagai bentuk kepedulian dan respons cepat terhadap dampak bencana banjir, Prajurit Yonif 115/Macan Leuser melaksanakan kegiatan pembersihan sisa lumpur dan material banjir di sektor Kantor Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang,

Banjir yang melanda wilayah tersebut beberapa hari sebelumnya mengakibatkan endapan lumpur tebal menutupi halaman kantor, akses keluar masuk gedung, serta saluran air di sekitarnya. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas perkantoran, tetapi juga berpotensi menimbulkan genangan susulan apabila tidak segera ditangani secara menyeluruh.

Menyikapi situasi tersebut, Prajurit Macan Leuser turun langsung ke lokasi dengan membawa peralatan seadanya untuk melaksanakan pembersihan. Dengan semangat gotong royong, para prajurit membersihkan lumpur yang mengendap, mengangkat sampah sisa banjir, serta melakukan normalisasi saluran air agar aliran kembali lancar dan lingkungan kantor menjadi bersih serta aman untuk digunakan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan lingkungan pascabanjir, sekaligus wujud pembinaan teritorial TNI dalam membantu masyarakat dan instansi pemerintahan yang terdampak bencana alam. Kehadiran Prajurit Yonif 115/Macan Leuser diharapkan dapat memberikan manfaat nyata serta meringankan beban pihak-pihak yang terdampak.

Komandan Yonif 115/Macan Leuser, Letkol Inf Adi Nofriadi Nata, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen satuan dalam membantu pemulihan pascabanjir dan mendukung kelancaran aktivitas masyarakat serta instansi pemerintah.

“Kegiatan pembersihan ini kami laksanakan sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap lingkungan dan masyarakat yang terdampak banjir. Kami ingin memastikan fasilitas umum dan perkantoran dapat kembali digunakan secara normal,” ujarnya.

Lebih lanjut, Letkol Inf Adi Nofriadi Nata menambahkan bahwa keterlibatan prajurit dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab TNI dalam membantu pemerintah daerah, khususnya dalam penanganan bencana alam.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami juga ingin menanamkan nilai-nilai kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong kepada seluruh prajurit, sehingga kemanunggalan TNI dengan masyarakat dapat terus terjaga,” tambahnya.

Ia juga menuturkan bahwa sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat diperlukan agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

“Dengan kerja sama yang baik dari semua pihak, kami berharap dampak banjir ini dapat segera teratasi dan masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sediakala,” tuturnya.

Letkol Inf Adi Nofriadi Nata berharap ke depan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan terus meningkat, sehingga risiko bencana serupa dapat diminimalisir, terutama pada musim hujan.

Sementara itu, salah seorang warga setempat menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian Prajurit Yonif 115/Macan Leuser yang telah turun langsung membantu pembersihan lingkungan.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran bapak-bapak TNI. Pembersihan ini membuat lingkungan kantor kembali bersih dan nyaman,” ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa kehadiran TNI tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberikan semangat dan motivasi bagi masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan.

Ia juga berharap, sinergi dan kepedulian seperti ini dapat terus terjalin, sehingga TNI dan masyarakat semakin solid dalam menghadapi berbagai situasi, khususnya saat terjadi bencana alam.

Prajurit Yonif 115/Macan Leuser Bersihkan lumpur banjir di lingkungan Kantor MPD Aceh Tamiang

Aceh Tamiang  ( Aceh dalam berita ) Sabtu 17-1-2926  Sebagai bentuk kepedulian dan respons cepat terhadap dampak bencana banjir, Prajurit Yonif 115/Macan Leuser melaksanakan kegiatan pembersihan sisa lumpur dan material banjir di sektor Kantor Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang,

Banjir yang melanda wilayah tersebut beberapa hari sebelumnya mengakibatkan endapan lumpur tebal menutupi halaman kantor, akses keluar masuk gedung, serta saluran air di sekitarnya. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas perkantoran, tetapi juga berpotensi menimbulkan genangan susulan apabila tidak segera ditangani secara menyeluruh.

Menyikapi situasi tersebut, Prajurit Macan Leuser turun langsung ke lokasi dengan membawa peralatan seadanya untuk melaksanakan pembersihan. Dengan semangat gotong royong, para prajurit membersihkan lumpur yang mengendap, mengangkat sampah sisa banjir, serta melakukan normalisasi saluran air agar aliran kembali lancar dan lingkungan kantor menjadi bersih serta aman untuk digunakan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan lingkungan pascabanjir, sekaligus wujud pembinaan teritorial TNI dalam membantu masyarakat dan instansi pemerintahan yang terdampak bencana alam. Kehadiran Prajurit Yonif 115/Macan Leuser diharapkan dapat memberikan manfaat nyata serta meringankan beban pihak-pihak yang terdampak.

Komandan Yonif 115/Macan Leuser, Letkol Inf Adi Nofriadi Nata, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen satuan dalam membantu pemulihan pascabanjir dan mendukung kelancaran aktivitas masyarakat serta instansi pemerintah.

“Kegiatan pembersihan ini kami laksanakan sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap lingkungan dan masyarakat yang terdampak banjir. Kami ingin memastikan fasilitas umum dan perkantoran dapat kembali digunakan secara normal,” ujarnya.

Lebih lanjut, Letkol Inf Adi Nofriadi Nata menambahkan bahwa keterlibatan prajurit dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab TNI dalam membantu pemerintah daerah, khususnya dalam penanganan bencana alam.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami juga ingin menanamkan nilai-nilai kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong kepada seluruh prajurit, sehingga kemanunggalan TNI dengan masyarakat dapat terus terjaga,” tambahnya.

Ia juga menuturkan bahwa sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat diperlukan agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

“Dengan kerja sama yang baik dari semua pihak, kami berharap dampak banjir ini dapat segera teratasi dan masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sediakala,” tuturnya.

Letkol Inf Adi Nofriadi Nata berharap ke depan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan terus meningkat, sehingga risiko bencana serupa dapat diminimalisir, terutama pada musim hujan.

Sementara itu, salah seorang warga setempat menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepedulian Prajurit Yonif 115/Macan Leuser yang telah turun langsung membantu pembersihan lingkungan.

“Kami sangat terbantu dengan kehadiran bapak-bapak TNI. Pembersihan ini membuat lingkungan kantor kembali bersih dan nyaman,” ungkapnya.

Ia menuturkan bahwa kehadiran TNI tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberikan semangat dan motivasi bagi masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan.

Ia juga berharap, sinergi dan kepedulian seperti ini dapat terus terjalin, sehingga TNI dan masyarakat semakin solid dalam menghadapi berbagai situasi, khususnya saat terjadi bencana alam.

Prajurit Yonif TP 854, Relawan dan Warga gotong royong bangun jembatan darurat di Reje Payung, Aceh Tengah

Takengon  ( Aceh dalam berita ) Sabtu 17-1-2026 Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) Kodim 0106/Aceh Tengah bersama Yonif TP 854/DK serta instansi terkait mulai melaksanakan pembangunan jembatan apung di wilayah Kemukiman Weh, Dusun Jamat, Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Pembangunan jembatan apung ini merupakan langkah cepat dan strategis dalam memulihkan akses transportasi masyarakat pascabencana, khususnya sebagai jalur penghubung antara Desa Jamat dan Desa Reje Payung yang selama ini mengalami kendala akibat terputusnya akses darat.

Sebagai bentuk kesiapan di lapangan, Satgas Gulbencal telah mendatangkan dan menyiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk pembangunan jembatan apung. Peralatan tersebut meliputi tali seling, drum plastik sebagai pelampung, besi, balok kayu, kawat, serta paku. Seluruh material ini akan dirakit secara manual menjadi konstruksi jembatan apung yang kokoh dan aman untuk digunakan masyarakat.

Kesiapan personel serta kelengkapan material ini diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan, sehingga jembatan apung dapat segera difungsikan dan dimanfaatkan oleh warga untuk mendukung aktivitas sehari-hari, termasuk mobilitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan sosial.

Pembangunan jembatan apung tersebut merupakan hasil koordinasi lintas instansi yang melibatkan unsur Kodim 0106/Aceh Tengah, Yonif TP 854/DK, Aparatur Sipil Negara (ASN), relawan, Hands Foundation, relawan dari Jagong–Atu Lintang, serta masyarakat Desa Jamat dan Reje Payung. Sinergi ini menjadi bukti nyata kuatnya semangat gotong royong dalam penanganan dampak bencana.

Dalam hasil koordinasi tersebut, disepakati bahwa pembangunan jembatan apung pada jalur Desa Jamat menuju Desa Reje Payung akan memiliki panjang sekitar 75 meter dengan lebar 1,5 meter dan dikerjakan secara manual, menyesuaikan kondisi medan serta keterbatasan akses alat berat di lokasi.

Dandim 0106/Aceh Tengah, Letkol Inf Raden Herman Sasmita, menyampaikan bahwa pembangunan jembatan apung ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab TNI bersama pemerintah serta seluruh elemen masyarakat dalam membantu percepatan pemulihan pascabencana di wilayah pedalaman.
Beliau menambahkan bahwa keberadaan jembatan apung ini sangat penting sebagai solusi sementara namun vital, guna memastikan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal sambil menunggu pembangunan infrastruktur permanen.

Ia juga menuturkan bahwa semangat kebersamaan antara TNI, instansi terkait, relawan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam setiap upaya penanggulangan bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kesulitan geografis cukup tinggi seperti Kecamatan Linge.

Dandim menegaskan bahwa seluruh personel yang terlibat akan bekerja secara maksimal dengan tetap mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan selama proses pembangunan berlangsung.
Letkol Inf Raden Herman berharap pembangunan jembatan apung ini dapat segera rampung dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, sekaligus menjadi wujud nyata kehadiran negara melalui TNI di tengah-tengah rakyat yang sedang membutuhkan.

Prajurit Yonif TP 854, Relawan dan Warga gotong royong bangun jembatan darurat di Reje Payung, Aceh Tengah

Takengon  ( Aceh dalam berita ) Sabtu 17-1-2026 Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) Kodim 0106/Aceh Tengah bersama Yonif TP 854/DK serta instansi terkait mulai melaksanakan pembangunan jembatan apung di wilayah Kemukiman Weh, Dusun Jamat, Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah.

Pembangunan jembatan apung ini merupakan langkah cepat dan strategis dalam memulihkan akses transportasi masyarakat pascabencana, khususnya sebagai jalur penghubung antara Desa Jamat dan Desa Reje Payung yang selama ini mengalami kendala akibat terputusnya akses darat.

Sebagai bentuk kesiapan di lapangan, Satgas Gulbencal telah mendatangkan dan menyiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk pembangunan jembatan apung. Peralatan tersebut meliputi tali seling, drum plastik sebagai pelampung, besi, balok kayu, kawat, serta paku. Seluruh material ini akan dirakit secara manual menjadi konstruksi jembatan apung yang kokoh dan aman untuk digunakan masyarakat.

Kesiapan personel serta kelengkapan material ini diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan, sehingga jembatan apung dapat segera difungsikan dan dimanfaatkan oleh warga untuk mendukung aktivitas sehari-hari, termasuk mobilitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan sosial.

Pembangunan jembatan apung tersebut merupakan hasil koordinasi lintas instansi yang melibatkan unsur Kodim 0106/Aceh Tengah, Yonif TP 854/DK, Aparatur Sipil Negara (ASN), relawan, Hands Foundation, relawan dari Jagong–Atu Lintang, serta masyarakat Desa Jamat dan Reje Payung. Sinergi ini menjadi bukti nyata kuatnya semangat gotong royong dalam penanganan dampak bencana.

Dalam hasil koordinasi tersebut, disepakati bahwa pembangunan jembatan apung pada jalur Desa Jamat menuju Desa Reje Payung akan memiliki panjang sekitar 75 meter dengan lebar 1,5 meter dan dikerjakan secara manual, menyesuaikan kondisi medan serta keterbatasan akses alat berat di lokasi.

Dandim 0106/Aceh Tengah, Letkol Inf Raden Herman Sasmita, menyampaikan bahwa pembangunan jembatan apung ini merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab TNI bersama pemerintah serta seluruh elemen masyarakat dalam membantu percepatan pemulihan pascabencana di wilayah pedalaman.
Beliau menambahkan bahwa keberadaan jembatan apung ini sangat penting sebagai solusi sementara namun vital, guna memastikan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal sambil menunggu pembangunan infrastruktur permanen.

Ia juga menuturkan bahwa semangat kebersamaan antara TNI, instansi terkait, relawan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam setiap upaya penanggulangan bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kesulitan geografis cukup tinggi seperti Kecamatan Linge.

Dandim menegaskan bahwa seluruh personel yang terlibat akan bekerja secara maksimal dengan tetap mengutamakan faktor keamanan dan keselamatan selama proses pembangunan berlangsung.
Letkol Inf Raden Herman berharap pembangunan jembatan apung ini dapat segera rampung dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, sekaligus menjadi wujud nyata kehadiran negara melalui TNI di tengah-tengah rakyat yang sedang membutuhkan.