Kasad Resmikan Pembangunan Jembatan ARMCO Garuda di Ace

Lhokseumawe ( Aceh dalam berita ) Senin 9-3-2026 Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., meresmikan pembangunan Jembatan ARMCO dalam Program Jembatan Garuda yang diluncurkan dari Provinsi Aceh sebagai bagian dari pembangunan ratusan jembatan di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut merupakan langkah strategis TNI Angkatan Darat dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur sekaligus membantu pemulihan wilayah yang terdampak bencana alam

Kegiatan launching program tersebut dipusatkan di Desa Lhok Kuyun, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Acara tersebut dihadiri oleh Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Pangdam IM) Mayor Jenderal TNI Joko Hadi Susilo, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh, pejabat TNI-Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat yang turut menyaksikan peresmian pembangunan jembatan tersebut.

Dalam sambutannya, Kasad menjelaskan bahwa Jembatan ARMCO merupakan salah satu jenis jembatan yang dirancang untuk memperkuat infrastruktur jalan di wilayah yang memiliki aliran sungai kecil, saluran air besar, maupun drainase yang membutuhkan struktur jembatan yang kokoh dan mampu menahan arus air. Konstruksi ARMCO menggunakan material baja bergelombang yang memiliki daya tahan tinggi, sehingga sangat efektif digunakan pada wilayah yang sering mengalami peningkatan debit air maupun kondisi tanah yang menantang.

Kasad menegaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut tidak hanya bertujuan memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bencana, tetapi juga untuk membuka konektivitas antarwilayah yang sebelumnya terhambat. Dengan tersedianya jembatan yang kuat dan aman, mobilitas masyarakat akan semakin lancar, distribusi logistik dapat berjalan lebih efektif, serta aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah dapat meningkat secara signifikan.

Di Provinsi Aceh, pembangunan Jembatan ARMCO Garuda tersebar di sejumlah kabupaten yang membutuhkan penguatan infrastruktur jalan, khususnya di daerah yang memiliki aliran sungai kecil maupun jalur drainase besar. Di Kabupaten Aceh Tamiang, pembangunan jembatan dilakukan di kawasan Alue Gadeng Dua, Alue Sentang, Terban, serta Blang Kandis. Sementara itu di Kabupaten Aceh Timur, pembangunan tersebar di berbagai titik seperti Buket Kuta, Alue Buloh, Paya Biliesa, Blang Gleum, Buket Makmur, Lhok Seuntang, Gampong Baroh, Alur Pinrang, Alue Itam, Peunaron Lama, Alue Siwah, hingga Keudongdong.

Pembangunan jembatan juga dilaksanakan di Kabupaten Bireuen yang meliputi wilayah Batee Raya, Juli Tambo, Krueng Juli, Alue Limeng, serta Salah Sirong Jaya. Di Kabupaten Aceh Utara, pembangunan dilakukan di kawasan Buket Linteueng, Masjid Meuraksa, serta Bangka Jaya. Selain itu, sejumlah pembangunan Jembatan ARMCO juga dilaksanakan di beberapa titik wilayah pedalaman Kabupaten Bener Meriah yang selama ini membutuhkan penguatan akses transportasi bagi masyarakat.

Secara keseluruhan, sebanyak empat puluh unit Jembatan ARMCO telah berhasil diselesaikan pembangunannya di berbagai wilayah di Provinsi Aceh. Pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan pembangunan infrastruktur pascabencana yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Darat melalui program Jembatan Garuda.

Keberadaan jembatan-jembatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperlancar mobilitas masyarakat, serta mendukung distribusi hasil pertanian, perkebunan, dan berbagai komoditas lainnya dari daerah pedalaman menuju pusat-pusat ekonomi. Selain itu, pembangunan jembatan ini juga menjadi faktor penting dalam mendukung pemerataan pembangunan serta mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Kasad menegaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut merupakan wujud nyata komitmen TNI Angkatan Darat dalam membantu pemerintah daerah mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi rakyat.
“TNI AD akan terus hadir membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengatasi berbagai kesulitan serta mempercepat proses pemulihan pascabencana,” tegas Kasad.

Melalui Program Jembatan Garuda ini, TNI Angkatan Darat kembali menegaskan perannya sebagai bagian dari solusi dalam pembangunan nasional. Kehadiran jembatan-jembatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat infrastruktur daerah, tetapi juga semakin mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

Kasad Launching 11 Jembatan Gantung di Aceh, Buka Akses Wilayah Terisolasi Pascabencana

Aceh ( Aceh dalam berita ) Senin 9-3-2026 TNI Angkatan Darat melalui program Jembatan Garuda membangun 11 jembatan perintis (gantung) di berbagai wilayah Provinsi Aceh guna membuka akses transportasi masyarakat yang sebelumnya terisolasi akibat kerusakan infrastruktur pascabencana.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah di Aceh dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc. menegaskan bahwa pembangunan jembatan gantung tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana penghubung wilayah, tetapi juga sebagai upaya mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat.
“Jembatan bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi simbol hadirnya negara untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap berjalan dan perekonomian rakyat dapat pulih,” ujar Kasad.
Sebanyak 11 jembatan gantung tersebut dibangun di sejumlah daerah, yakni:
Pidie Jaya: Desa Ara dan Desa Blang Awe
Aceh Utara: Sungai Lhok Kuyun, Gampong Teungoh, dan Blang Teurekan
Aceh Tamiang: Sungai Tamiang
Aceh Timur: Sungai Pante Kera
Pidie: Desa Baro Yaman
Aceh Barat: Kajeung
Aceh Tenggara: Kali Alas
Aceh Tengah: Burni Bius
Pembangunan jembatan tersebut diharapkan dapat mempermudah masyarakat menuju sekolah, pasar, fasilitas kesehatan, serta pusat kegiatan ekonomi lainnya.
Kasad menegaskan bahwa TNI AD akan terus berperan aktif membantu pemerintah daerah mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.

Kasad Launching 11 Jembatan Gantung di Aceh, Buka Akses Wilayah Terisolasi Pascabencana

Aceh ( Aceh dalam berita ) Senin 9-3-2026 TNI Angkatan Darat melalui program Jembatan Garuda membangun 11 jembatan perintis (gantung) di berbagai wilayah Provinsi Aceh guna membuka akses transportasi masyarakat yang sebelumnya terisolasi akibat kerusakan infrastruktur pascabencana.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah di Aceh dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc. menegaskan bahwa pembangunan jembatan gantung tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana penghubung wilayah, tetapi juga sebagai upaya mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat.
“Jembatan bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi simbol hadirnya negara untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap berjalan dan perekonomian rakyat dapat pulih,” ujar Kasad.
Sebanyak 11 jembatan gantung tersebut dibangun di sejumlah daerah, yakni:
Pidie Jaya: Desa Ara dan Desa Blang Awe
Aceh Utara: Sungai Lhok Kuyun, Gampong Teungoh, dan Blang Teurekan
Aceh Tamiang: Sungai Tamiang
Aceh Timur: Sungai Pante Kera
Pidie: Desa Baro Yaman
Aceh Barat: Kajeung
Aceh Tenggara: Kali Alas
Aceh Tengah: Burni Bius
Pembangunan jembatan tersebut diharapkan dapat mempermudah masyarakat menuju sekolah, pasar, fasilitas kesehatan, serta pusat kegiatan ekonomi lainnya.
Kasad menegaskan bahwa TNI AD akan terus berperan aktif membantu pemerintah daerah mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.

Babinsa Koramil 02/Karang Baru Kodim 0117/Aceh Tamiang Bantu Padamkan Kebakaran Tumpukan Kayu Pasca Banjir Bandang di Desa Tanjung Karang

Aceh Tamiang ( Aceh dalam berita ) Kamis malam 6-3-2026 Babinsa Koramil 02/Karang Baru Kodim 0117/Aceh Tamiang, Kopka Mhd. Fauzi Kurniawan, turut membantu proses pemadaman kebakaran yang terjadi pada tumpukan kayu sisa material pasca banjir bandang di belakang Pondok Pesantren Al-Mucklisin, Dusun Bukit, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Peristiwa kebakaran tersebut pertama kali terpantau sekitar pukul 19.30 WIB ketika api mulai terlihat membesar dari tumpukan kayu yang sebelumnya terbawa arus banjir bandang dan menumpuk di area tersebut. Tumpukan kayu yang cukup banyak serta kondisi material yang kering membuat api dengan cepat membesar dan berpotensi meluas ke area sekitar.

Menyadari potensi bahaya yang dapat ditimbulkan, Babinsa Kopka Mhd. Fauzi Kurniawan bersama perangkat desa dan warga setempat segera melakukan langkah cepat dengan melakukan pemantauan sekaligus berupaya melakukan penanganan awal sambil berkoordinasi dengan pihak pemadam kebakaran agar segera turun ke lokasi.

Babinsa yang berada di lokasi kejadian juga turut membantu masyarakat dalam mengamankan area sekitar serta memastikan api tidak merambat ke fasilitas lain, khususnya kawasan Pondok Pesantren Al-Mucklisin yang berada tidak jauh dari titik kebakaran. Kehadiran Babinsa di tengah masyarakat menjadi bagian dari upaya tanggap cepat aparat teritorial dalam membantu masyarakat menghadapi situasi darurat.

Sekitar pukul 20.27 WIB, dua unit mobil pemadam kebakaran dari Pos Kota Kuala Simpang tiba di lokasi untuk melakukan proses pemadaman. Petugas pemadam kebakaran bersama Babinsa serta masyarakat bahu-membahu memadamkan api yang membakar tumpukan kayu tersebut.
Upaya pemadaman terus dilakukan secara maksimal mengingat besarnya tumpukan kayu yang terbakar. Tidak lama kemudian, tepatnya pada pukul 20.40 WIB, tambahan tujuh unit mobil pemadam kebakaran kembali tiba di lokasi untuk memperkuat proses pemadaman. Tiga unit mobil pemadam kebakaran berasal dari Mabes TNI AD, sementara empat unit lainnya berasal dari Pos Kota Kuala Simpang.

Dengan demikian, total sembilan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani kebakaran tersebut. Kehadiran tambahan armada pemadam kebakaran tersebut sangat membantu mempercepat proses pemadaman serta mencegah api agar tidak meluas ke area permukiman maupun fasilitas lainnya di sekitar lokasi kejadian.

Dalam proses pemadaman tersebut, Babinsa bersama perangkat desa dan masyarakat juga terus membantu petugas pemadam kebakaran dengan melakukan pengamanan lokasi, membantu pengaturan akses di sekitar area kebakaran, serta memastikan masyarakat tetap berada pada jarak aman.

Babinsa Koramil 02/Karang Baru Kodim 0117/Aceh Tamiang terus melakukan pemantauan perkembangan situasi di lapangan guna memastikan api benar-benar dapat dikendalikan dan tidak kembali menyala. Koordinasi antara aparat TNI, petugas pemadam kebakaran, pemerintah desa, serta masyarakat terus dilakukan demi mempercepat penanganan kejadian tersebut.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila melihat adanya potensi kebakaran atau kondisi yang dapat membahayakan lingkungan sekitar, terutama di area yang masih terdapat tumpukan material sisa banjir bandang.

Hingga saat ini, situasi di lokasi kebakaran masih terus dipantau oleh aparat terkait guna memastikan kondisi benar-benar aman dan terkendali. Informasi perkembangan lebih lanjut akan terus dimonitor dan dilaporkan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Pembangunan jembatan Armco Desa Bangka Jaya, Aceh Utara Capai 92 Persen.

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Rabu 4-3-2026 Pembangunan Jembatan Armco di Desa Bangka Jaya, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, kini telah mencapai progres 92 persen dan memasuki tahap penyelesaian akhir. Pekerjaan yang dilaksanakan secara intensif dan terencana ini menunjukkan komitmen kuat TNI dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah.

Jembatan tersebut dikerjakan oleh prajurit TNI AD dari Yonzipur 5/ABW di bawah jajaran Kodam V/Brawijaya, yang saat ini tengah melaksanakan tugas Bantuan Kendali Operasi (BKO) di wilayah Aceh. Pekerjaan dimulai pada 16 Februari 2026 dan direncanakan selesai pada 5 Maret 2026, sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan setelah melalui proses survei dan kajian teknis di lapangan yang menunjukkan adanya kerusakan signifikan pada struktur jembatan lama. Kerusakan paling parah terjadi pada bagian pondasi yang hancur akibat tergerus aliran air, sehingga menyebabkan sebagian badan jalan mengalami ambles. Kondisi tersebut membuat jembatan hanya dapat dilalui kendaraan dengan pembatasan tonase, sehingga menghambat aktivitas masyarakat dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Sebagai solusi permanen dan lebih kokoh, konstruksi baru menggunakan dua set silinder culvert Armco, masing-masing sepanjang 5 meter dengan diameter 2 meter. Struktur ini difungsikan sebagai saluran utama penyalur aliran air guna mencegah terjadinya penggerusan pada bagian bawah badan jalan. Di atas struktur tersebut dilakukan penimbunan material pilihan, pemadatan badan jalan secara bertahap, serta penguatan sisi oprit untuk memastikan konstruksi memiliki daya tahan optimal dan aman digunakan dalam jangka panjang.

Jalur penghubung ini memiliki peran strategis karena menghubungkan Desa Bangka Jaya dengan Desa Kaude Krueng Geukueh. Selain itu, jembatan tersebut menjadi akses vital bagi para nelayan dan petambak dalam mengangkut hasil tambak ikan, serta mendukung kelancaran distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Dengan rampungnya pembangunan ini, diharapkan aktivitas ekonomi warga dapat berjalan lebih lancar dan efisien.

Meskipun dijadwalkan melaksanakan serah pasukan (serpas) dan kembali ke Surabaya pada 7 Maret 2026 menggunakan KRI Surabaya, prajurit Yonzipur 5/ABW tetap menunjukkan dedikasi tinggi dengan berkomitmen menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas. Jembatan ini menjadi karya terakhir yang mereka tinggalkan di wilayah penugasan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan pengabdian kepada masyarakat.

Keberadaan Jembatan Armco ini diharapkan mampu meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memperlancar konektivitas antar desa, serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Pembangunan ini sekaligus menjadi bukti nyata sinergi TNI dalam membantu pemerintah daerah mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah.

Pembangunan jembatan Armco Desa Bangka Jaya, Aceh Utara Capai 92 Persen.

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Rabu 4-3-2026 Pembangunan Jembatan Armco di Desa Bangka Jaya, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, kini telah mencapai progres 92 persen dan memasuki tahap penyelesaian akhir. Pekerjaan yang dilaksanakan secara intensif dan terencana ini menunjukkan komitmen kuat TNI dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah.

Jembatan tersebut dikerjakan oleh prajurit TNI AD dari Yonzipur 5/ABW di bawah jajaran Kodam V/Brawijaya, yang saat ini tengah melaksanakan tugas Bantuan Kendali Operasi (BKO) di wilayah Aceh. Pekerjaan dimulai pada 16 Februari 2026 dan direncanakan selesai pada 5 Maret 2026, sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan setelah melalui proses survei dan kajian teknis di lapangan yang menunjukkan adanya kerusakan signifikan pada struktur jembatan lama. Kerusakan paling parah terjadi pada bagian pondasi yang hancur akibat tergerus aliran air, sehingga menyebabkan sebagian badan jalan mengalami ambles. Kondisi tersebut membuat jembatan hanya dapat dilalui kendaraan dengan pembatasan tonase, sehingga menghambat aktivitas masyarakat dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Sebagai solusi permanen dan lebih kokoh, konstruksi baru menggunakan dua set silinder culvert Armco, masing-masing sepanjang 5 meter dengan diameter 2 meter. Struktur ini difungsikan sebagai saluran utama penyalur aliran air guna mencegah terjadinya penggerusan pada bagian bawah badan jalan. Di atas struktur tersebut dilakukan penimbunan material pilihan, pemadatan badan jalan secara bertahap, serta penguatan sisi oprit untuk memastikan konstruksi memiliki daya tahan optimal dan aman digunakan dalam jangka panjang.

Jalur penghubung ini memiliki peran strategis karena menghubungkan Desa Bangka Jaya dengan Desa Kaude Krueng Geukueh. Selain itu, jembatan tersebut menjadi akses vital bagi para nelayan dan petambak dalam mengangkut hasil tambak ikan, serta mendukung kelancaran distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Dengan rampungnya pembangunan ini, diharapkan aktivitas ekonomi warga dapat berjalan lebih lancar dan efisien.

Meskipun dijadwalkan melaksanakan serah pasukan (serpas) dan kembali ke Surabaya pada 7 Maret 2026 menggunakan KRI Surabaya, prajurit Yonzipur 5/ABW tetap menunjukkan dedikasi tinggi dengan berkomitmen menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas. Jembatan ini menjadi karya terakhir yang mereka tinggalkan di wilayah penugasan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan pengabdian kepada masyarakat.

Keberadaan Jembatan Armco ini diharapkan mampu meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memperlancar konektivitas antar desa, serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Pembangunan ini sekaligus menjadi bukti nyata sinergi TNI dalam membantu pemerintah daerah mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah.

Pembangunan jembatan Armco Desa Bangka Jaya, Aceh Utara Capai 92 Persen.

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Rabu 4-3-2026 Pembangunan Jembatan Armco di Desa Bangka Jaya, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, kini telah mencapai progres 92 persen dan memasuki tahap penyelesaian akhir. Pekerjaan yang dilaksanakan secara intensif dan terencana ini menunjukkan komitmen kuat TNI dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah.

Jembatan tersebut dikerjakan oleh prajurit TNI AD dari Yonzipur 5/ABW di bawah jajaran Kodam V/Brawijaya, yang saat ini tengah melaksanakan tugas Bantuan Kendali Operasi (BKO) di wilayah Aceh. Pekerjaan dimulai pada 16 Februari 2026 dan direncanakan selesai pada 5 Maret 2026, sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan setelah melalui proses survei dan kajian teknis di lapangan yang menunjukkan adanya kerusakan signifikan pada struktur jembatan lama. Kerusakan paling parah terjadi pada bagian pondasi yang hancur akibat tergerus aliran air, sehingga menyebabkan sebagian badan jalan mengalami ambles. Kondisi tersebut membuat jembatan hanya dapat dilalui kendaraan dengan pembatasan tonase, sehingga menghambat aktivitas masyarakat dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Sebagai solusi permanen dan lebih kokoh, konstruksi baru menggunakan dua set silinder culvert Armco, masing-masing sepanjang 5 meter dengan diameter 2 meter. Struktur ini difungsikan sebagai saluran utama penyalur aliran air guna mencegah terjadinya penggerusan pada bagian bawah badan jalan. Di atas struktur tersebut dilakukan penimbunan material pilihan, pemadatan badan jalan secara bertahap, serta penguatan sisi oprit untuk memastikan konstruksi memiliki daya tahan optimal dan aman digunakan dalam jangka panjang.

Jalur penghubung ini memiliki peran strategis karena menghubungkan Desa Bangka Jaya dengan Desa Kaude Krueng Geukueh. Selain itu, jembatan tersebut menjadi akses vital bagi para nelayan dan petambak dalam mengangkut hasil tambak ikan, serta mendukung kelancaran distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Dengan rampungnya pembangunan ini, diharapkan aktivitas ekonomi warga dapat berjalan lebih lancar dan efisien.

Meskipun dijadwalkan melaksanakan serah pasukan (serpas) dan kembali ke Surabaya pada 7 Maret 2026 menggunakan KRI Surabaya, prajurit Yonzipur 5/ABW tetap menunjukkan dedikasi tinggi dengan berkomitmen menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas. Jembatan ini menjadi karya terakhir yang mereka tinggalkan di wilayah penugasan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan pengabdian kepada masyarakat.

Keberadaan Jembatan Armco ini diharapkan mampu meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memperlancar konektivitas antar desa, serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Pembangunan ini sekaligus menjadi bukti nyata sinergi TNI dalam membantu pemerintah daerah mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah.

Yon Zipur 16/DA kebut Pembangunan Jembatan Bailey Blang Reubik–Buket Sendang Aceh Utara

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Selasa 3-3-2026 Pembangunan Jembatan Bailey yang menghubungkan Desa Blang Reubik dan Desa Buket Sendang, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, terus menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga awal Maret 2026, progres pengerjaan telah mencapai 92 persen.

Jembatan ini dibangun sebagai pengganti jembatan sebelumnya yang mengalami kerusakan akibat bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Kerusakan tersebut sempat memutus akses utama masyarakat, sehingga aktivitas sosial dan ekonomi warga di kedua desa mengalami hambatan yang cukup signifikan.

Pembangunan jembatan dilaksanakan oleh personel Batalyon Zeni Tempur 16/Dhika Anoraga (Yonzipur 16/DA) sebagai bagian dari tugas kemanusiaan dan dukungan terhadap percepatan pemulihan infrastruktur daerah terdampak bencana. Kehadiran satuan Zeni TNI AD di lokasi menjadi bentuk respons cepat dalam membantu pemerintah daerah dan masyarakat guna memastikan akses transportasi dapat segera dipulihkan.

Jembatan yang dibangun menggunakan konstruksi Bailey tipe 3-1 dengan panjang bentang mencapai 30 meter atau terdiri dari 10 petak panel. Material jembatan merupakan dukungan dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia berupa material modular luar negeri tahun 2026 yang memiliki standar kekuatan dan keamanan tinggi. Konstruksi ini dirancang untuk mampu menopang beban kendaraan roda dua maupun roda empat serta menjamin keselamatan pengguna jalan dalam jangka waktu yang dibutuhkan.

Ruas jalan yang menghubungkan Desa Blang Reubik dan Desa Buket Sendang memiliki peran vital dalam menunjang mobilitas masyarakat. Jalur ini menjadi akses utama bagi warga untuk menuju pusat kecamatan, pasar tradisional, fasilitas pendidikan, serta layanan kesehatan. Selain itu, jalan tersebut juga menjadi jalur distribusi hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat setempat.

Akibat kerusakan jembatan sebelumnya, warga terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh dengan kondisi jalan yang kurang memadai. Hal ini berdampak pada bertambahnya waktu tempuh, meningkatnya biaya transportasi, serta terhambatnya distribusi hasil perkebunan dan kebutuhan pokok masyarakat.

Dalam proses pengerjaannya, personel Yonzipur 16/DA bekerja secara profesional, terukur, dan sistematis sesuai dengan tahapan konstruksi jembatan Bailey. Hingga saat ini, pekerjaan yang telah dilaksanakan meliputi pemasangan plat lantai jembatan sebagai bagian dari tahap akhir penyempurnaan struktur atas. Setiap tahapan dikerjakan dengan memperhatikan ketepatan posisi, kekuatan sambungan, serta kesesuaian dengan spesifikasi teknis agar jembatan dapat difungsikan secara aman dan optimal.

Dengan capaian progres 92 persen, pembangunan ini ditargetkan dapat segera rampung sesuai rencana kerja yang telah ditetapkan. Penyelesaian jembatan diharapkan mampu mengembalikan kelancaran arus transportasi antar desa serta mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabanjir.
Keberadaan jembatan Bailey ini menjadi bukti nyata komitmen TNI AD dalam mendukung pemerintah daerah dalam percepatan pemulihan infrastruktur akibat bencana. Selain memastikan akses transportasi kembali normal, pembangunan ini juga mencerminkan sinergi yang kuat antara aparat negara dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan wilayah serta meningkatkan kesejahteraan bersama.

Masyarakat setempat menyambut baik hampir selesainya pembangunan jembatan tersebut dan berharap jembatan dapat segera difungsikan sehingga aktivitas sehari-hari dapat berjalan lancar, aman, dan optimal seperti sediakala. Mereka berharap jembatan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang serta menjadi sarana penghubung yang kokoh dalam mendukung kemajuan Desa Blang Reubik dan Desa Buket Sendang di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.

Personel Yonzipur 16/Dhika Anoraga Bangun Jembatan Bailey di Lukup Sabun Barat, Progres Capai 25 Persen

Aceh Tengah ( Aceh dalam berita ) Selasa Personel Satuan Zeni TNI AD melalui unsur Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 16/Dhika Anoraga terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana dengan melaksanakan pembangunan Jembatan Bailey di Desa Lukup Sabun Barat, Kabupaten Aceh Tengah. Pembangunan tersebut dilakukan menyusul kerusakan jembatan akibat bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah itu beberapa waktu lalu.

Hingga awal Maret 2026, progres pekerjaan pembangunan jembatan telah mencapai 25 persen. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan positif sekaligus menjadi bagian dari langkah strategis percepatan pemulihan akses infrastruktur yang sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir.

Jembatan Lukup Sabun Barat dibangun pada ruas jalan yang menghubungkan Desa Lukup Sabun Barat dengan Blang Paku. Jalur ini merupakan akses vital yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, baik untuk aktivitas sehari-hari, distribusi hasil pertanian, maupun sebagai penghubung kegiatan sosial dan ekonomi warga setempat. Kerusakan jembatan akibat banjir bandang sempat menghambat aktivitas warga dan memperpanjang waktu tempuh menuju pusat kecamatan maupun pasar tradisional, sehingga berdampak langsung terhadap roda perekonomian masyarakat.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Satuan Zeni TNI AD melalui unsur Yonzipur 16/Dhika Anoraga diterjunkan guna melaksanakan pembangunan jembatan Bailey sebagai solusi cepat, efektif, dan tepat guna. Jembatan Bailey dipilih karena memiliki sistem konstruksi modular yang memungkinkan proses perakitan dilakukan dalam waktu relatif singkat namun tetap memenuhi standar kekuatan dan keamanan.

Di lapangan, para personel bekerja secara intensif dan terukur sesuai tahapan konstruksi yang telah direncanakan. Jembatan yang dibangun menggunakan konstruksi Bailey tipe 3-1 dengan panjang 15 meter atau delapan petak panel. Konstruksi ini dirancang untuk mampu menahan beban kendaraan roda dua maupun roda empat serta mendukung aktivitas masyarakat secara aman dan berkelanjutan.

Sejauh ini, tahapan pekerjaan yang telah dilaksanakan meliputi proses perakitan rangka jembatan Bailey. Proses perakitan dilakukan secara sistematis dengan memastikan ketepatan pemasangan panel, pin pengunci, serta komponen struktural lainnya agar sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan. Tahapan ini menjadi fase krusial sebelum dilakukan proses pendorongan (launching) jembatan ke posisi akhir di atas bentang sungai.

Meskipun dihadapkan pada tantangan kondisi medan yang cukup berat serta cuaca yang berubah-ubah, semangat dan profesionalisme personel di lapangan tetap terjaga. Seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan mengedepankan faktor keselamatan kerja serta kualitas konstruksi demi memastikan jembatan dapat berfungsi optimal dalam jangka waktu yang dibutuhkan.

Keberadaan Jembatan Bailey ini nantinya diharapkan mampu mengembalikan kelancaran arus transportasi antara Lukup Sabun Barat dan Blang Paku, sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabanjir. Selain itu, pembangunan ini menjadi wujud nyata kehadiran TNI AD dalam membantu pemerintah daerah menangani dampak bencana serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya akses transportasi, tetap terpenuhi.

Dengan progres yang terus bergerak maju, diharapkan seluruh tahapan pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu sehingga jembatan dapat segera difungsikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Aceh Tengah secara aman dan optimal.

Salah seorang warga setempat, Bapak Subhan, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas pembangunan jembatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sejak jembatan rusak akibat banjir, aktivitas warga menjadi sangat terbatas dan harus memutar melalui jalur alternatif yang cukup jauh.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada TNI yang sudah turun langsung membantu membangun kembali jembatan ini. Kehadiran jembatan Bailey ini sangat kami nantikan karena menjadi akses utama untuk membawa hasil kebun dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Beliau berharap proses pembangunan dapat berjalan lancar hingga selesai dan jembatan segera dapat digunakan oleh masyarakat. Ia juga berharap sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat terus terjalin dengan baik dalam upaya membangun kembali infrastruktur yang terdampak bencana, sehingga kehidupan warga dapat kembali normal seperti sediakala.

Personel Yonzipur 16/Dhika Anoraga Bangun Jembatan Bailey di Lukup Sabun Barat, Progres Capai 25 Persen

Aceh Tengah ( Aceh dalam berita ) Selasa Personel Satuan Zeni TNI AD melalui unsur Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) 16/Dhika Anoraga terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana dengan melaksanakan pembangunan Jembatan Bailey di Desa Lukup Sabun Barat, Kabupaten Aceh Tengah. Pembangunan tersebut dilakukan menyusul kerusakan jembatan akibat bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah itu beberapa waktu lalu.

Hingga awal Maret 2026, progres pekerjaan pembangunan jembatan telah mencapai 25 persen. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan positif sekaligus menjadi bagian dari langkah strategis percepatan pemulihan akses infrastruktur yang sebelumnya mengalami kerusakan parah akibat terjangan banjir.

Jembatan Lukup Sabun Barat dibangun pada ruas jalan yang menghubungkan Desa Lukup Sabun Barat dengan Blang Paku. Jalur ini merupakan akses vital yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, baik untuk aktivitas sehari-hari, distribusi hasil pertanian, maupun sebagai penghubung kegiatan sosial dan ekonomi warga setempat. Kerusakan jembatan akibat banjir bandang sempat menghambat aktivitas warga dan memperpanjang waktu tempuh menuju pusat kecamatan maupun pasar tradisional, sehingga berdampak langsung terhadap roda perekonomian masyarakat.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Satuan Zeni TNI AD melalui unsur Yonzipur 16/Dhika Anoraga diterjunkan guna melaksanakan pembangunan jembatan Bailey sebagai solusi cepat, efektif, dan tepat guna. Jembatan Bailey dipilih karena memiliki sistem konstruksi modular yang memungkinkan proses perakitan dilakukan dalam waktu relatif singkat namun tetap memenuhi standar kekuatan dan keamanan.

Di lapangan, para personel bekerja secara intensif dan terukur sesuai tahapan konstruksi yang telah direncanakan. Jembatan yang dibangun menggunakan konstruksi Bailey tipe 3-1 dengan panjang 15 meter atau delapan petak panel. Konstruksi ini dirancang untuk mampu menahan beban kendaraan roda dua maupun roda empat serta mendukung aktivitas masyarakat secara aman dan berkelanjutan.

Sejauh ini, tahapan pekerjaan yang telah dilaksanakan meliputi proses perakitan rangka jembatan Bailey. Proses perakitan dilakukan secara sistematis dengan memastikan ketepatan pemasangan panel, pin pengunci, serta komponen struktural lainnya agar sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan. Tahapan ini menjadi fase krusial sebelum dilakukan proses pendorongan (launching) jembatan ke posisi akhir di atas bentang sungai.

Meskipun dihadapkan pada tantangan kondisi medan yang cukup berat serta cuaca yang berubah-ubah, semangat dan profesionalisme personel di lapangan tetap terjaga. Seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan mengedepankan faktor keselamatan kerja serta kualitas konstruksi demi memastikan jembatan dapat berfungsi optimal dalam jangka waktu yang dibutuhkan.

Keberadaan Jembatan Bailey ini nantinya diharapkan mampu mengembalikan kelancaran arus transportasi antara Lukup Sabun Barat dan Blang Paku, sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat pascabanjir. Selain itu, pembangunan ini menjadi wujud nyata kehadiran TNI AD dalam membantu pemerintah daerah menangani dampak bencana serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya akses transportasi, tetap terpenuhi.

Dengan progres yang terus bergerak maju, diharapkan seluruh tahapan pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu sehingga jembatan dapat segera difungsikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat Kabupaten Aceh Tengah secara aman dan optimal.

Salah seorang warga setempat, Bapak Subhan, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas pembangunan jembatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sejak jembatan rusak akibat banjir, aktivitas warga menjadi sangat terbatas dan harus memutar melalui jalur alternatif yang cukup jauh.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada TNI yang sudah turun langsung membantu membangun kembali jembatan ini. Kehadiran jembatan Bailey ini sangat kami nantikan karena menjadi akses utama untuk membawa hasil kebun dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Beliau berharap proses pembangunan dapat berjalan lancar hingga selesai dan jembatan segera dapat digunakan oleh masyarakat. Ia juga berharap sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat terus terjalin dengan baik dalam upaya membangun kembali infrastruktur yang terdampak bencana, sehingga kehidupan warga dapat kembali normal seperti sediakala.