Satgas Gulbencal TNI Laksankan Pembersihan PAUD Alfia Pidie Jaya, Pascabanjir Bandang

Pidie Jaya  ( Aceh dalam berita ) Senin 12-1-2026 Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) TNI dari Kodim 0102/Pidie bersama Yonif TP 836/Brahma Yudha melaksanakan pembersihan fasilitas pendidikan PAUD Alfia di Desa Blang Cut Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Kegiatan tersebut.

Akai ini merupakan wujud kepedualian dan Komitmen TNI sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan pasca bencana, khususnya di sektor pendidikan.

PAUD Alfia merupakan salah satu sarana pendidikan yang mengalami kerusakan cukup berat akibat bencana alam tersebut. Bangunan sekolah tertutup lumpur tebal, sampah, serta material sisa banjir yang mengakibatkan terhentinya kegiatan belajar mengajar.

Sejumlah personel TNI yang tergabung dalam satgas penanggulangan bencana alam di dikerahkan untuk melaksanakan pembersihan ruang kelas, halaman sekolah, dan fasilitas pendukung dengan menggunakan peralatan manual serta dukungan alat berat.

Komandan Kodim 0102/Pidie, Letkol Inf Abdul Hadi, S.Sos., menyampaikan bahwa pembersihan PAUD Alfia menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan pendidikan anak-anak usia dini pasca bencana.

“Kami memprioritaskan pembersihan fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan berat, termasuk PAUD Alfia, agar proses belajar mengajar di wilayah terdampak dapat segera kembali berjalan dalam kondisi yang aman, bersih, dan layak,” tegas Dandim 0102/Pidie.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pengerahan personel, alat berat, serta peralatan manual seperti cangkul dan sekop dilakukan untuk mempercepat pengangkatan material lumpur yang mengendap cukup tebal di dalam ruangan maupun area sekolah, sehingga sarana pendidikan dapat segera difungsikan kembali.

Kepala Sekolah PAUD Alfia, Rizki Maydia, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh TNI. Ia menjelaskan bahwa kondisi sekolah sebelum dilakukan pembersihan sangat tidak memungkinkan untuk digunakan, sehingga kegiatan belajar mengajar sementara waktu dilaksanakan di bawah tenda darurat.

“Material lumpur menumpuk hingga hampir setinggi tiga meter dan tidak dapat kami tangani secara mandiri. Kehadiran dan bantuan TNI sangat membantu serta menjadi harapan besar bagi para guru, peserta didik, dan wali murid agar anak anak dapat kembali belajar dengan nyaman dan normal,” ujarnya.

Kegiatan pembersihan PAUD Alfia ini merupakan bagian dari rangkaian upaya pemulihan pascabencana yang dilaksanakan oleh Satgas Gulbencal Kodam Iskandar Muda.

Selain mempercepat pemulihan sarana pendidikan, kegiatan tersebut juga mencerminkan komitmen TNI dalam mendukung pemulihan kehidupan masyarakat serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat di wilayah terdampak bencana alam.

Polres Bireuen Kebut Pembersihan SD Negeri 11 Peusangan Agar Kegiatan Belajar Kembali Normal

Bireuen  ( Aceh dalam berita ) Senin 12-1-2026  Pasca bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, berbagai infrastruktur publik terdampak, termasuk fasilitas pendidikan. Salah satu sekolah yang mengalami kerusakan dan dipenuhi lumpur akibat banjir adalah SD Negeri 11 Peusangan, Kabupaten Bireuen.

Guna memastikan proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal, personel Polres Bireuen melakukan pembersihan intensif di sekolah tersebut.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, S.I.K., mengatakan bahwa kegiatan pembersihan dilakukan secara gotong royong oleh personel Polres Bireuen dengan menargetkan percepatan pemulihan fasilitas sekolah.

“Personel Polres Bireuen bekerja bahu membahu untuk mengebut pembersihan SD Negeri 11 Peusangan agar dapat segera digunakan kembali untuk kegiatan belajar mengajar,” ujar Kabid Humas.

Ia menambahkan, percepatan pembersihan ini bertujuan agar para siswa dan tenaga pendidik dapat kembali melaksanakan proses pendidikan dengan aman dan nyaman pasca banjir.

“Dengan dikebutnya pembersihan, diharapkan proses belajar mengajar dapat segera terselenggara kembali secara normal,” jelasnya.

Menurutnya, pembersihan yang dilakukan secara intensif membuahkan hasil nyata, di mana material dan lumpur sisa banjir berhasil dibersihkan dari lingkungan sekolah.

“Polri hadir sebagai bentuk kepedulian dan memberikan solusi demi keamanan serta kenyamanan masyarakat, khususnya kalangan pelajar, agar fasilitas pendidikan dapat kembali dimanfaatkan,” tutup Kabid Humas.

Prajurit Yonif 117/KY Bersihkan lumpur sisa banjir MIN 4 Kuala Simpang

Aceh Tamiang  ( Aceh dalam berita ) Senin 12-1-2026 Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan pendidikan, prajurit Batalyon Infanteri 117/Ksatria Yudha melaksanakan kegiatan pembersihan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Kuala Simpang yang berlokasi di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang,

Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan penuh semangat dan rasa kebersamaan. Sasaran pembersihan meliputi ruang kelas, halaman sekolah, saluran air, serta lingkungan sekitar sekolah guna menciptakan suasana belajar yang bersih, sehat, dan nyaman bagi para siswa serta tenaga pendidik.

Kegiatan tersebut sejalan dengan komitmen TNI AD dalam mewujudkan kemanunggalan TNI dengan rakyat serta mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif.

Lagi, TNI AD Rampungkan Dua Jembatan Bailey di Bener Meriah

Bener Meriah  ( Aceh dalam berita ) Senin 12-1-2026 Prajurit TNI kembali menunjukkan dedikasi dan komitmennya dalam membantu masyarakat dengan menuntaskan perbaikan jembatan yang terputus akibat bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, termasuk Kabupaten Bener Meriah. Upaya pemulihan infrastruktur ini dilaksanakan sebagai langkah cepat untuk memulihkan akses transportasi dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Dalam pelaksanaan tugas kemanusiaan tersebut, TNI berhasil menyelesaikan pembangunan dua jembatan Bailey di kawasan Jamur Ujung, Kabupaten Bener Meriah, yang berada pada ruas jalan strategis Bireuen – Bener Meriah – Takengon. Jalur ini merupakan akses vital yang menghubungkan beberapa kabupaten dan menjadi urat nadi pergerakan masyarakat serta distribusi logistik.

Jembatan Jamur Ujung 1 dibangun dengan tipe Bailey 3-1 sepanjang 36 meter atau 15 petak. Pembangunan jembatan ini menggunakan material dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Garuda) serta dukungan material dari Yonzikon 13/KE dan Yonzikon 14/SWS. Sebanyak 60 personel dari satuan Menzikon, yang terdiri dari Yonzikon 13/KE dan Yonzikon 14/SWS, dikerahkan dalam pengerjaan jembatan ini. Pembangunan jembatan tersebut ditargetkan selesai pada Januari 2026 dan berhasil dirampungkan lebih cepat dengan progres mencapai 100 persen pada 7 Januari 2026.

Sementara itu, Jembatan Jamur Ujung 2 dibangun dengan tipe Bailey 2-1 (Akropanel) dengan panjang 24 meter atau 8 petak. Material jembatan berasal dari Denzipur 3/ATD. Pengerjaan jembatan ini melibatkan personel dari Yonzikon 13/KE sebanyak 27 orang dan Yonzikon 14/SWS sebanyak 17 orang. Jembatan Jamur Ujung 2 juga berhasil diselesaikan sesuai target dengan progres 100 persen pada 11 Januari 2026.

Salah seorang warga setempat, Umar, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kerja keras prajurit TNI yang telah membangun kembali jembatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sejak jembatan terputus akibat banjir bandang, aktivitas warga menjadi sangat terbatas, terutama dalam mengangkut hasil pertanian dan keperluan sehari-hari.

Ia menuturkan bahwa keberadaan jembatan ini sangat penting bagi masyarakat karena menjadi satu-satunya akses penghubung antarwilayah. Dengan rampungnya pembangunan jembatan, mobilitas warga kembali normal dan roda perekonomian perlahan dapat bergerak kembali.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan hanya memberikan rasa aman, tetapi juga menghadirkan solusi nyata atas kesulitan yang dialami warga pasca bencana. Menurutnya, prajurit TNI telah bekerja tanpa mengenal lelah, siang dan malam, demi memastikan jembatan dapat segera digunakan.

Beliau berharap sinergi antara TNI, pemerintah, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik, khususnya dalam menghadapi situasi darurat dan bencana alam di masa mendatang. Ia juga mendoakan agar seluruh prajurit TNI senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.

Rampungnya dua jembatan Bailey di Jamur Ujung ini menjadi bukti nyata peran aktif TNI dalam membantu percepatan pemulihan infrastruktur pasca bencana serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Lagi, TNI AD Rampungkan Dua Jembatan Bailey di Bener Meriah

Bener Meriah  ( Aceh dalam berita ) Senin 12-1-2026 Prajurit TNI kembali menunjukkan dedikasi dan komitmennya dalam membantu masyarakat dengan menuntaskan perbaikan jembatan yang terputus akibat bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh, termasuk Kabupaten Bener Meriah. Upaya pemulihan infrastruktur ini dilaksanakan sebagai langkah cepat untuk memulihkan akses transportasi dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Dalam pelaksanaan tugas kemanusiaan tersebut, TNI berhasil menyelesaikan pembangunan dua jembatan Bailey di kawasan Jamur Ujung, Kabupaten Bener Meriah, yang berada pada ruas jalan strategis Bireuen – Bener Meriah – Takengon. Jalur ini merupakan akses vital yang menghubungkan beberapa kabupaten dan menjadi urat nadi pergerakan masyarakat serta distribusi logistik.

Jembatan Jamur Ujung 1 dibangun dengan tipe Bailey 3-1 sepanjang 36 meter atau 15 petak. Pembangunan jembatan ini menggunakan material dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Garuda) serta dukungan material dari Yonzikon 13/KE dan Yonzikon 14/SWS. Sebanyak 60 personel dari satuan Menzikon, yang terdiri dari Yonzikon 13/KE dan Yonzikon 14/SWS, dikerahkan dalam pengerjaan jembatan ini. Pembangunan jembatan tersebut ditargetkan selesai pada Januari 2026 dan berhasil dirampungkan lebih cepat dengan progres mencapai 100 persen pada 7 Januari 2026.

Sementara itu, Jembatan Jamur Ujung 2 dibangun dengan tipe Bailey 2-1 (Akropanel) dengan panjang 24 meter atau 8 petak. Material jembatan berasal dari Denzipur 3/ATD. Pengerjaan jembatan ini melibatkan personel dari Yonzikon 13/KE sebanyak 27 orang dan Yonzikon 14/SWS sebanyak 17 orang. Jembatan Jamur Ujung 2 juga berhasil diselesaikan sesuai target dengan progres 100 persen pada 11 Januari 2026.

Salah seorang warga setempat, Umar, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kerja keras prajurit TNI yang telah membangun kembali jembatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa sejak jembatan terputus akibat banjir bandang, aktivitas warga menjadi sangat terbatas, terutama dalam mengangkut hasil pertanian dan keperluan sehari-hari.

Ia menuturkan bahwa keberadaan jembatan ini sangat penting bagi masyarakat karena menjadi satu-satunya akses penghubung antarwilayah. Dengan rampungnya pembangunan jembatan, mobilitas warga kembali normal dan roda perekonomian perlahan dapat bergerak kembali.

Ia juga menegaskan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan hanya memberikan rasa aman, tetapi juga menghadirkan solusi nyata atas kesulitan yang dialami warga pasca bencana. Menurutnya, prajurit TNI telah bekerja tanpa mengenal lelah, siang dan malam, demi memastikan jembatan dapat segera digunakan.

Beliau berharap sinergi antara TNI, pemerintah, dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik, khususnya dalam menghadapi situasi darurat dan bencana alam di masa mendatang. Ia juga mendoakan agar seluruh prajurit TNI senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.

Rampungnya dua jembatan Bailey di Jamur Ujung ini menjadi bukti nyata peran aktif TNI dalam membantu percepatan pemulihan infrastruktur pasca bencana serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Polres Pidie Salurkan Sumur Bor Bantuan Kapolda Aceh untuk Warga Gampong Tanjong

Mapolres Sigli ( Aceh dalam berita ) Minggu 11-1-2026 Kepolisian Republik Indonesia kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat terdampak bencana. Melalui program Polri Untuk Masyarakat, Polres Pidie menyalurkan bantuan berupa pembuatan sumur bor bantuan Kapolda Aceh kepada warga Gampong Tanjong, Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, pasca bencana banjir.

Bantuan sumur bor ini merupakan dukungan langsung dari Kapolda Aceh guna membantu pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.

Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana SIK, SIK menyampaikan bahwa dengan melibatkan sejumlah personel Satlantas Polres Pidie serta personel Polsek Kembang Tanjong.
Sumur bor bantuan Kapolda Aceh dengan kedalaman kurang lebih 30 meter tersebut dibangun di area Meunasah Gampong Tanjong dan diperuntukkan bagi kepentingan umum, khususnya untuk kebutuhan air bersih pasca banjir, seperti keperluan wudhu dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Bantuan sumur bor ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi warga serta meningkatkan kualitas air bersih untuk masyarakat Gampong Tanjong pasca bencana banjir,” ujar Kapolres Pidie.

Penyaluran bantuan ini disambut antusias oleh masyarakat setempat dalam situasi saat ini pasca bencana.

Sekretaris Gampong Tanjong, Muhammad Hafidillah (45) saat menerima bantuan sumur bor tersebut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Kapolri, Kapolda Aceh dan jajaran Polres Pidie atas bantuan yang diberikan.

“Kami mewakili seluruh masyarakat Gampong Tanjong mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri, Kapolda Aceh dan Kapolres Pidie dan jajarannya.

Bantuan sumur bor ini sangat bermanfaat bagi warga kami, terutama pasca banjir, karena kebutuhan air bersih menjadi sangat penting untuk ibadah dan kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Ia berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan dan dijaga bersama oleh masyarakat serta menjadi keberkahan bagi semua pihak.

Polri Bersihkan Lumpur Tebal di SD Negeri 1 Peusangan Pascabanjir

Bireuen ( Aceh dalam berita ) Minggu 11-1-2206 Personel Polres Bireuen melakukan pembersihan lumpur tebal di SD Negeri 1 Peusangan, Kabupaten Bireuen, pasca banjir yang melanda kawasan tersebut beberapa waktu lalu.

Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian Polri terhadap dunia pendidikan sekaligus upaya mempercepat pemulihan pascabencana, khususnya di lingkungan sekolah yang terdampak banjir.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, S.I.K., mengatakan bahwa pembersihan dilakukan untuk menghilangkan sisa lumpur dan material yang terbawa arus banjir agar lingkungan sekolah kembali bersih dan layak digunakan.

“Pembersihan fasilitas pendidikan ini bertujuan agar proses belajar mengajar dapat segera kembali dilaksanakan tanpa hambatan,” ujar Kabid Humas.

Ia menambahkan, kehadiran Polri di tengah masyarakat pascabencana diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman, sekaligus membantu percepatan pemulihan kondisi sosial masyarakat, khususnya bagi para siswa dan tenaga pendidik.

Menurutnya, Polri berkomitmen untuk terus hadir dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan pascabencana alam, termasuk memastikan sarana dan prasarana pendidikan berada dalam kondisi aman dan layak.

“Ini merupakan wujud kepedulian Polri terhadap masyarakat, demi terciptanya keamanan, kenyamanan, serta keberlangsungan kembali proses belajar mengajar di sekolah,” tutup Kabid Humas.

Kapolda Aceh Sebut Pembangunan Meutuah Residen Sejalan dengan Prinsip Maqashid Syariah

Banda Aceh ( Aceh dalam berita ) Minggu 11-1-2026 Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah mengatakan bahwa dalam ajaran Islam, penyediaan tempat tinggal yang layak bagi keluarga merupakan bagian dari upaya menjaga maqashid syariah, khususnya dalam menjaga jiwa, keturunan, dan kehormatan.

“Pembangunan perumahan ini tidak hanya sebagai pembangunan fisik semata, tetapi juga mengandung nilai ibadah serta tanggung jawab moral untuk menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat bagi keluarga besar Polri. Ini juga bagian dari upaya menjaga maqashid syariah,” kata Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, dalam sambutannya pada peletakan batu pertama pembangunan Perumahan Meutuah Residen di Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Abituren Akabri 1991 itu juga menyebutkan bahwa Aceh sebagai Serambi Mekkah memiliki nilai-nilai luhur yang berlandaskan ajaran Islam dan adat istiadat yang kuat. Menurutnya, hal tersebut tercermin dalam falsafah hidup masyarakat Aceh, “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala”, yang bermakna di mana adat dan hukum berjalan seiring, selaras, dan saling menguatkan.

“Nilai-nilai inilah yang diharapkan dapat tercermin dalam pembangunan perumahan Polda Aceh, yakni menjadi hunian yang harmonis, menjunjung tinggi kebersamaan, serta mampu mempererat hubungan antara aparat kepolisian dan masyarakat sekitar. Dengan lingkungan yang baik dan kondusif, insyaallah akan tumbuh keluarga-keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah,” ujarnya.

Ia juga meyakini bahwa personel Polri yang hidup dalam suasana keluarga yang tenang, aman, dan sejahtera akan mampu melaksanakan tugas pengabdian dengan lebih profesional, berintegritas, serta mengedepankan pendekatan humanis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di bumi Serambi Mekkah ini.

Pada kesempatan itu, jenderal bintang dua asal Tangse tersebut mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terwujudnya pembangunan Meutuah Residen, baik pemerintah daerah, pengembang, mitra kerja, maupun masyarakat. Ia berharap kerja sama yang terjalin menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan bagi semua pihak.

“Bismillahirrahmanirrahim, secara resmi kita mulai pembangunan perumahan Polda Aceh melalui peletakan batu pertama. Semoga kawasan ini kelak menjadi hunian yang membawa ketenteraman, keberkahan, serta manfaat bagi keluarga besar Polda Aceh dan masyarakat sekitar,” tutupnya.

Kapolda Aceh Sebut Pembangunan Meutuah Residen Sejalan dengan Prinsip Maqashid Syariah

Banda Aceh ( Aceh dalam berita ) Minggu 11-1-2026 Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah mengatakan bahwa dalam ajaran Islam, penyediaan tempat tinggal yang layak bagi keluarga merupakan bagian dari upaya menjaga maqashid syariah, khususnya dalam menjaga jiwa, keturunan, dan kehormatan.

“Pembangunan perumahan ini tidak hanya sebagai pembangunan fisik semata, tetapi juga mengandung nilai ibadah serta tanggung jawab moral untuk menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat bagi keluarga besar Polri. Ini juga bagian dari upaya menjaga maqashid syariah,” kata Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, dalam sambutannya pada peletakan batu pertama pembangunan Perumahan Meutuah Residen di Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Abituren Akabri 1991 itu juga menyebutkan bahwa Aceh sebagai Serambi Mekkah memiliki nilai-nilai luhur yang berlandaskan ajaran Islam dan adat istiadat yang kuat. Menurutnya, hal tersebut tercermin dalam falsafah hidup masyarakat Aceh, “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala”, yang bermakna di mana adat dan hukum berjalan seiring, selaras, dan saling menguatkan.

“Nilai-nilai inilah yang diharapkan dapat tercermin dalam pembangunan perumahan Polda Aceh, yakni menjadi hunian yang harmonis, menjunjung tinggi kebersamaan, serta mampu mempererat hubungan antara aparat kepolisian dan masyarakat sekitar. Dengan lingkungan yang baik dan kondusif, insyaallah akan tumbuh keluarga-keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah,” ujarnya.

Ia juga meyakini bahwa personel Polri yang hidup dalam suasana keluarga yang tenang, aman, dan sejahtera akan mampu melaksanakan tugas pengabdian dengan lebih profesional, berintegritas, serta mengedepankan pendekatan humanis dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat di bumi Serambi Mekkah ini.

Pada kesempatan itu, jenderal bintang dua asal Tangse tersebut mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terwujudnya pembangunan Meutuah Residen, baik pemerintah daerah, pengembang, mitra kerja, maupun masyarakat. Ia berharap kerja sama yang terjalin menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan bagi semua pihak.

“Bismillahirrahmanirrahim, secara resmi kita mulai pembangunan perumahan Polda Aceh melalui peletakan batu pertama. Semoga kawasan ini kelak menjadi hunian yang membawa ketenteraman, keberkahan, serta manfaat bagi keluarga besar Polda Aceh dan masyarakat sekitar,” tutupnya.

Wagub Fadhlullah Kawal Langsung Percepatan Pemulihan Pascabencana Aceh

Banda Aceh ( Aceh dalam berita ) Minggu 11-1-2026 Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, mendampingi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Muhammad Tito Karnavian, meninjau langsung penanganan dan pemulihan pascabencana di Aceh, Kunjungan kerja tersebut diawali di Kabupaten Aceh Tamiang dan dilanjutkan ke Kabupaten Bener Meriah.

Di Aceh Tamiang, Mendagri menyerahkan bantuan berupa 456 unit gerobak dorong dan 1.300 dus mi instan untuk mendukung pembersihan lumpur serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak banjir. Mendagri menilai proses pemulihan di Aceh Tamiang mulai menunjukkan kemajuan, ditandai dengan kembalinya roda pemerintahan dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah pusat, kata Mendagri, juga telah mengucurkan anggaran tahap awal guna mempercepat pemulihan, termasuk untuk pembayaran gaji aparatur dan perbaikan fasilitas pemerintahan yang terdampak bencana.
Selanjutnya, Mendagri bersama Wakil Gubernur Aceh melanjutkan peninjauan ke Kabupaten Bener Meriah. Setibanya di Bandara Rembele, rombongan meninjau lokasi pembangunan hunian sementara (huntara) dan posko pengungsian di Desa Tunyang, sekaligus berdialog langsung dengan warga terdampak.

Rombongan juga meninjau Jembatan Jamur Ujung yang sempat terputus akibat banjir dan longsor. Saat ini, akses jalur nasional tersebut telah kembali tersambung melalui pembangunan jembatan bailey sebagai solusi sementara.
Mendagri menegaskan, kehadirannya bersama Wakil Gubernur Aceh merupakan tindak lanjut arahan langsung Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk memastikan percepatan pemulihan pascabencana di wilayah terdampak Aceh berjalan optimal.

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menyampaikan apresiasi atas dukungan konkret pemerintah pusat. Ia menegaskan Pemerintah Aceh berkomitmen penuh mengawal proses penanganan dan pemulihan pascabencana agar berlangsung cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan, demi memulihkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh. [ ]