Nilam Resmi Masuk Sistem Resi Gudang, Gubernur Mualem Instruksikan Percepat Hilirisasi

BANDA ACEH ( Inforakyataceh ) Upaya Pemerintah Aceh mempercepat hilirisasi nilam membuahkan hasil. Kementerian Perdagangan RI resmi menetapkan minyak nilam sebagai komoditas yang dapat disimpan dalam Sistem Resi Gudang (SRG).

Menindaklanjuti ketetapan itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) langsung menginstruksikan tim ekonomi Pemerintah Aceh untuk mempercepat hilirisasi nilam di daerah.

“Payung hukumnya sudah ada, sekarang tinggal dilaksanakan saja. Ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan petani nilam,” kata Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Sabtu (7/11/2026).

Payung hukum yang dimaksud tertuang dalam Keputusan Menteri Perdagangan (Kepmendag) Nomor 2055 Tahun 2026 tentang Perubahan Barang yang Dapat Disimpan di Gudang SRG.

Aturan itu diteken Menteri Perdagangan, Budi Santoso, di Jakarta pada 26 Oktober 2026 dan langsung berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Nurlis mengatakan, Gubernur Mualem menyambut baik lahirnya keputusan tersebut dan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat.

“Bapak Gubernur Mualem mengapresiasi Menteri Perdagangan Budi Santoso. Terbitnya Kepmendag 2055 Tahun 2026 ini adalah terobosan penting. Aturan ini memperkuat langkah Pemerintah Aceh dalam menyiapkan ekosistem SRG untuk menstabilkan harga nilam,” ujar Nurlis.

Selain kepada pemerintah pusat, Mualem juga mengapresiasi kerja keras tim ekonomi Pemerintah Aceh yang mengawal lahirnya aturan yang menguntungkan petani ini.

Nurlis menjelaskan bahwa usulan tersebut berawal dari rapat koordinasi lintas sektor yang dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Teuku Robby Izra, di Kantor Gubernur Aceh pada 22 Juli 2026.

Rapat tersebut melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, pihak perbankan, serta PT Razma Agro Jaya selaku pelaku usaha sekaligus pemrakarsa pengusulan minyak nilam sebagai salah satu komoditas dalam Sistem Resi Gudang (SRG) di Aceh.

Rapat itu memutuskan langkah strategis untuk mengusulkan minyak nilam masuk ke dalam skema SRG, sekaligus memperkuat industri pengolahan dan akses pasar. Ikhtiar tersebut kini tuntas dengan terbitnya Kepmendag Nomor 2055 Tahun 2026.

Lewat keputusan baru itu, minyak nilam resmi tercatat sebagai komoditas urutan ke-31 dalam sistem resi gudang nasional.

“Minyak nilam kini bersanding dengan komoditas unggulan Aceh lainnya yang sudah lebih dulu masuk daftar SRG. Mulai dari kopi, kakao, pala, pinang, cengkeh, hingga ikan kayu,” kata Nurlis.

Menurut Nurlis, masuknya nilam ke dalam SRG langsung menjawab persoalan klasik tata niaga di Aceh. Selama ini, petani dan penyuling selalu terpukul saat harga pasar tiba-tiba jatuh. Posisi tawar mereka lemah di hadapan tengkulak.

“Kini petani punya instrumen tunda jual yang sah. Saat harga anjlok, minyak nilam tidak perlu buru-buru dijual. Barang bisa disimpan dulu di gudang SRG dengan mutu yang terjaga. Bukti resi gudangnya bisa diagunkan ke bank untuk modal kerja. Saat harga kembali membaik, barulah barang dilepas ke pasar,” Nurlis menegaskan.

Ia menjelaskan, aturan pelaksanaan dari Pasal 5 ayat (3) Permendag Nomor 14 Tahun 2026 ini memiliki empat tujuan utama. Yakni mendukung produktivitas, menjaga kualitas, menstabilkan harga jual, serta meningkatkan nilai ekonomi minyak nilam—baik untuk pasar dalam negeri maupun ekspor.

“Dengan skema ini, posisi tawar petani makin kuat dan industri hilir nilam Aceh lebih berdaya saing di pasar nasional maupun global,” kata Nurlis.

Agar manfaat tersebut segera dirasakan masyarakat, Gubernur Mualem meminta Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) terkait langsung bergerak menyiapkan sarana pendukung di lapangan.

“Bapak Gubernur meminta dinas terkait segera berkoordinasi dengan Bappebti, perbankan, pengelola gudang, serta pemerintah kabupaten/kota sentra nilam. Infrastruktur dan kelembagaan harus segera siap. Kita ingin petani nilam Aceh secepatnya merasakan dampak nyata dari kebijakan ini,” tutur Nurlis.

Sebagai langkah konkret pertama, Kementerian Perdagangan bersama Pemerintah Aceh akan meluncurkan (launching) operasional SRG Minyak Nilam di Kabupaten Aceh Jaya pada akhir tahun 2026.

“Peluncuran di Aceh Jaya ini menjadi titik awal penerapan SRG minyak nilam di Aceh. Operasionalnya akan didukung kesiapan gudang, standardisasi mutu, kelembagaan petani, dan akses pembiayaan perbankan,” kata Nurlis.

Ia menegaskan, penetapan minyak nilam sebagai komoditas SRG merupakan hasil nyata sinergi antara Pemerintah Aceh, pelaku usaha nilam, dan Kementerian Perdagangan dalam memperkuat tata niaga serta mempercepat hilirisasi.

“Implementasinya di Aceh Jaya nanti diharapkan menjadi langkah awal untuk mewujudkan stabilitas harga, peningkatan nilai tambah, dan kesejahteraan petani nilam Aceh,” ujar Nurlis. []

Pemkab Aceh Besar Gelar Retret 234 Keuchik, Perkuat Kepemimpinan Pemerintahan Gampong

Aceh Besar ( Inforakyataceh ) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Besar melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) akan menggelar kegiatan retret bagi 234 keuchik yang dilantik pada 2025. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Kota Jantho pada 8 hingga 11 November 2026.

Kegiatan retret ini merupakan gagasan Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris bersama Wakil Bupati Drs. H. Syukri A. Jalil setelah keduanya mengikuti retret nasional kepala daerah yang diselenggarakan pada Februari 2025.

Kepala DPMG Aceh Besar, Jakfar, SP, M.Si, mengatakan bahwa pengalaman mengikuti retret nasional menjadi inspirasi bagi Bupati dan Wakil Bupati untuk menghadirkan kegiatan serupa bagi para keuchik di Aceh Besar.

“Bapak Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris dan Bapak Wakil Bupati Drs. H. Syukri A. Jalil termasuk kepala daerah yang berkesempatan mengikuti kegiatan retret kepala daerah se-Indonesia. Berawal dari pengalaman tersebut, beliau berdua menilai kegiatan seperti ini sangat bermanfaat jika dilaksanakan di Aceh Besar,” ujar Jakfar di Kota Jantho, Jumat (6/11/2026).

Menurut Jakfar, retret tersebut mengusung tema Memperkuat Kepemimpinan Keuchik untuk Mewujudkan Pemerintahan Gampong yang Profesional, Akuntabel, Responsif, Mandiri, dan Berdaya Saing.

Ia menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan pembekalan kepada para keuchik, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi serta pertukaran informasi terkait pembangunan antarpimpinan pemerintahan gampong.

Selain itu, retret diharapkan mampu menyelaraskan arah kebijakan pembangunan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dengan program yang dilaksanakan oleh masing-masing gampong, sekaligus memperkuat integritas dan kapasitas kepemimpinan para keuchik.

“Keuchik sebagai pimpinan pemerintahan gampong merupakan perpanjangan tangan pemerintah kabupaten dalam melaksanakan kebijakan dan pembangunan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas kepemimpinan mereka menjadi sangat penting,” jelasnya.

Jakfar menambahkan, kegiatan tersebut akan dipusatkan di Kota Jantho dan dibuka secara resmi oleh Bupati Aceh Besar pada 8 November 2026. Retret dijadwalkan berlangsung hingga 11 November 2026 dengan melibatkan 234 keuchik yang dilantik pada 2025.

Terkait materi pembekalan, Jakfar menyebutkan terdapat sejumlah fokus utama yang akan diberikan kepada para peserta. Materi tersebut meliputi visi dan misi pemerintahan Kabupaten Aceh Besar di bawah kepemimpinan H. Muharram Idris dan Drs. H. Syukri A. Jalil, serta pemahaman mengenai arah kebijakan dan pembangunan daerah.

Selain itu, peserta juga akan mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan keuangan gampong atau dana desa, pencegahan korupsi, keamanan dan ketertiban, serta peningkatan kualitas pelayanan publik.

“Materi pembekalan akan disampaikan oleh sejumlah narasumber dari organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Aceh Besar serta instansi vertikal terkait. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi bekal bagi para keuchik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di tengah masyarakat,” pungkas Jakfar. (**)