Dugaan tindakan Pemukulan Oknum Anggota TNI di Aceh Barat berakhir Damai

Aceh Barat  ( Aceh dalam berita ) Senin 23-2-2026 Proses mediasi dan penandatanganan surat pernyataan damai terkait dugaan tindakan pemukulan terhadap seorang warga oleh oknum prajurit TNI di wilayah Kabupaten Aceh Barat resmi dilaksanakan Kegiatan tersebut menjadi langkah penyelesaian secara kekeluargaan yang difasilitasi oleh jajaran Korem 012/Teuku Umar sebagai bentuk tanggung jawab institusi dalam menyikapi insiden yang terjadi.

Mediasi ini digelar dengan mengedepankan asas musyawarah dan mufakat, tanpa mengesampingkan proses hukum yang berlaku di lingkungan militer. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan dihadiri oleh sejumlah pejabat Korem 012/TU, di antaranya Kasrem 012/TU, Kakumrem 012/TU, serta para pejabat staf terkait. Turut hadir aparatur Desa Panggong, yakni Keuchik Desa Panggong Iskandar, S.Pd., dan Tuha Peut Deni Sandi, bersama kedua orang tua korban, Nasruddin dan Musriani, serta keluarga korban lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kasrem 012/TU Letkol Inf Hendra Mirza menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada keluarga korban atas tindakan yang dilakukan oleh oknum prajurit TNI.
“Atas nama Korem 012/TU, kami menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban atas kejadian pemukulan yang dilakukan oleh oknum prajurit kami. Peristiwa ini menjadi evaluasi serius bagi kami agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.

Kasrem juga menegaskan bahwa walaupun penyelesaian dilakukan melalui jalur mediasi dan telah tercapai kesepakatan damai, proses penyelidikan dan penegakan disiplin terhadap oknum prajurit tetap berjalan sesuai ketentuan hukum militer. Institusi TNI, khususnya Korem 012/TU, berkomitmen menindak tegas setiap pelanggaran yang dilakukan anggotanya sesuai aturan yang berlaku.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan institusional, pihak Korem 012/TU juga menyatakan kesediaan untuk menanggung biaya pengobatan korban sesuai dengan permintaan dan kesepakatan bersama keluarga.

Permohonan maaf secara langsung turut disampaikan oleh oknum prajurit TNI kepada pihak keluarga korban. Nasruddin selaku ayah korban menerima permohonan maaf tersebut, dengan harapan peristiwa ini tidak terulang kembali di kemudian hari.

Untuk memastikan kondisi kesehatan korban, yang bersangkutan menjalani pemeriksaan rontgen di Rumah Sakit Kesrem Meulaboh. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dibacakan oleh dr. Indah, kondisi korban dinyatakan dalam keadaan normal dan tidak ditemukan adanya patah tulang pada bagian dada maupun bahu kiri. Meski demikian, pihak keluarga tetap diminta untuk memantau kondisi korban secara berkala guna memastikan pemulihan berjalan optimal.

Selanjutnya, oknum prajurit bersama keluarga korban menandatangani surat pernyataan damai yang disaksikan langsung oleh aparatur Desa Panggong. Penandatanganan tersebut menandai berakhirnya proses mediasi secara resmi.

Meski telah tercapai kesepakatan damai antara kedua belah pihak, berdasarkan arahan Danrem 012/TU, proses hukum terhadap oknum prajurit tetap dilimpahkan ke satuan masing-masing untuk diproses sesuai ketentuan hukum militer yang berlaku. Hal ini sebagai bentuk komitmen institusi dalam menegakkan disiplin dan menjaga marwah TNI di tengah masyarakat.

Melalui penyelesaian ini, diharapkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, tetap terjaga dengan kondusif. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi seluruh prajurit TNI untuk senantiasa menjunjung tinggi disiplin, etika, serta profesionalisme dalam menjalankan tugas, serta membangun hubungan harmonis dengan masyarakat di setiap wilayah penugasan.

Dugaan tindakan Pemukulan Oknum Anggota TNI di Aceh Barat berakhir Damai

Aceh Barat  ( Aceh dalam berita ) Senin 23-2-2026 Proses mediasi dan penandatanganan surat pernyataan damai terkait dugaan tindakan pemukulan terhadap seorang warga oleh oknum prajurit TNI di wilayah Kabupaten Aceh Barat resmi dilaksanakan Kegiatan tersebut menjadi langkah penyelesaian secara kekeluargaan yang difasilitasi oleh jajaran Korem 012/Teuku Umar sebagai bentuk tanggung jawab institusi dalam menyikapi insiden yang terjadi.

Mediasi ini digelar dengan mengedepankan asas musyawarah dan mufakat, tanpa mengesampingkan proses hukum yang berlaku di lingkungan militer. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan dihadiri oleh sejumlah pejabat Korem 012/TU, di antaranya Kasrem 012/TU, Kakumrem 012/TU, serta para pejabat staf terkait. Turut hadir aparatur Desa Panggong, yakni Keuchik Desa Panggong Iskandar, S.Pd., dan Tuha Peut Deni Sandi, bersama kedua orang tua korban, Nasruddin dan Musriani, serta keluarga korban lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kasrem 012/TU Letkol Inf Hendra Mirza menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada keluarga korban atas tindakan yang dilakukan oleh oknum prajurit TNI.
“Atas nama Korem 012/TU, kami menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban atas kejadian pemukulan yang dilakukan oleh oknum prajurit kami. Peristiwa ini menjadi evaluasi serius bagi kami agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.

Kasrem juga menegaskan bahwa walaupun penyelesaian dilakukan melalui jalur mediasi dan telah tercapai kesepakatan damai, proses penyelidikan dan penegakan disiplin terhadap oknum prajurit tetap berjalan sesuai ketentuan hukum militer. Institusi TNI, khususnya Korem 012/TU, berkomitmen menindak tegas setiap pelanggaran yang dilakukan anggotanya sesuai aturan yang berlaku.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan institusional, pihak Korem 012/TU juga menyatakan kesediaan untuk menanggung biaya pengobatan korban sesuai dengan permintaan dan kesepakatan bersama keluarga.

Permohonan maaf secara langsung turut disampaikan oleh oknum prajurit TNI kepada pihak keluarga korban. Nasruddin selaku ayah korban menerima permohonan maaf tersebut, dengan harapan peristiwa ini tidak terulang kembali di kemudian hari.

Untuk memastikan kondisi kesehatan korban, yang bersangkutan menjalani pemeriksaan rontgen di Rumah Sakit Kesrem Meulaboh. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dibacakan oleh dr. Indah, kondisi korban dinyatakan dalam keadaan normal dan tidak ditemukan adanya patah tulang pada bagian dada maupun bahu kiri. Meski demikian, pihak keluarga tetap diminta untuk memantau kondisi korban secara berkala guna memastikan pemulihan berjalan optimal.

Selanjutnya, oknum prajurit bersama keluarga korban menandatangani surat pernyataan damai yang disaksikan langsung oleh aparatur Desa Panggong. Penandatanganan tersebut menandai berakhirnya proses mediasi secara resmi.

Meski telah tercapai kesepakatan damai antara kedua belah pihak, berdasarkan arahan Danrem 012/TU, proses hukum terhadap oknum prajurit tetap dilimpahkan ke satuan masing-masing untuk diproses sesuai ketentuan hukum militer yang berlaku. Hal ini sebagai bentuk komitmen institusi dalam menegakkan disiplin dan menjaga marwah TNI di tengah masyarakat.

Melalui penyelesaian ini, diharapkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, tetap terjaga dengan kondusif. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi seluruh prajurit TNI untuk senantiasa menjunjung tinggi disiplin, etika, serta profesionalisme dalam menjalankan tugas, serta membangun hubungan harmonis dengan masyarakat di setiap wilayah penugasan.

Dugaan tindakan Pemukulan Oknum Anggota TNI di Aceh Barat berakhir Damai

Aceh Barat  ( Aceh dalam berita ) Senin 23-2-2026 Proses mediasi dan penandatanganan surat pernyataan damai terkait dugaan tindakan pemukulan terhadap seorang warga oleh oknum prajurit TNI di wilayah Kabupaten Aceh Barat resmi dilaksanakan Kegiatan tersebut menjadi langkah penyelesaian secara kekeluargaan yang difasilitasi oleh jajaran Korem 012/Teuku Umar sebagai bentuk tanggung jawab institusi dalam menyikapi insiden yang terjadi.

Mediasi ini digelar dengan mengedepankan asas musyawarah dan mufakat, tanpa mengesampingkan proses hukum yang berlaku di lingkungan militer. Pertemuan berlangsung dalam suasana terbuka dan dihadiri oleh sejumlah pejabat Korem 012/TU, di antaranya Kasrem 012/TU, Kakumrem 012/TU, serta para pejabat staf terkait. Turut hadir aparatur Desa Panggong, yakni Keuchik Desa Panggong Iskandar, S.Pd., dan Tuha Peut Deni Sandi, bersama kedua orang tua korban, Nasruddin dan Musriani, serta keluarga korban lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kasrem 012/TU Letkol Inf Hendra Mirza menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada keluarga korban atas tindakan yang dilakukan oleh oknum prajurit TNI.
“Atas nama Korem 012/TU, kami menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban atas kejadian pemukulan yang dilakukan oleh oknum prajurit kami. Peristiwa ini menjadi evaluasi serius bagi kami agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.

Kasrem juga menegaskan bahwa walaupun penyelesaian dilakukan melalui jalur mediasi dan telah tercapai kesepakatan damai, proses penyelidikan dan penegakan disiplin terhadap oknum prajurit tetap berjalan sesuai ketentuan hukum militer. Institusi TNI, khususnya Korem 012/TU, berkomitmen menindak tegas setiap pelanggaran yang dilakukan anggotanya sesuai aturan yang berlaku.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan institusional, pihak Korem 012/TU juga menyatakan kesediaan untuk menanggung biaya pengobatan korban sesuai dengan permintaan dan kesepakatan bersama keluarga.

Permohonan maaf secara langsung turut disampaikan oleh oknum prajurit TNI kepada pihak keluarga korban. Nasruddin selaku ayah korban menerima permohonan maaf tersebut, dengan harapan peristiwa ini tidak terulang kembali di kemudian hari.

Untuk memastikan kondisi kesehatan korban, yang bersangkutan menjalani pemeriksaan rontgen di Rumah Sakit Kesrem Meulaboh. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dibacakan oleh dr. Indah, kondisi korban dinyatakan dalam keadaan normal dan tidak ditemukan adanya patah tulang pada bagian dada maupun bahu kiri. Meski demikian, pihak keluarga tetap diminta untuk memantau kondisi korban secara berkala guna memastikan pemulihan berjalan optimal.

Selanjutnya, oknum prajurit bersama keluarga korban menandatangani surat pernyataan damai yang disaksikan langsung oleh aparatur Desa Panggong. Penandatanganan tersebut menandai berakhirnya proses mediasi secara resmi.

Meski telah tercapai kesepakatan damai antara kedua belah pihak, berdasarkan arahan Danrem 012/TU, proses hukum terhadap oknum prajurit tetap dilimpahkan ke satuan masing-masing untuk diproses sesuai ketentuan hukum militer yang berlaku. Hal ini sebagai bentuk komitmen institusi dalam menegakkan disiplin dan menjaga marwah TNI di tengah masyarakat.

Melalui penyelesaian ini, diharapkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, tetap terjaga dengan kondusif. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi seluruh prajurit TNI untuk senantiasa menjunjung tinggi disiplin, etika, serta profesionalisme dalam menjalankan tugas, serta membangun hubungan harmonis dengan masyarakat di setiap wilayah penugasan.

TNI Percepat Pembangunan Jembatan Gantung Burni Bius, Aceh Tengah

Aceh Tengah  ( Aceh dalam berita ) Prajurit TNI dari Kodim 0106/Aceh Tengah bersama personel Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 854/Dharma Kersaka terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman. Hingga Kamis (21/2/2026) pukul 16.30 WIB, progres pembangunan jembatan gantung di Desa Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah telah mencapai 51 persen.

Pembangunan jembatan gantung sepanjang 75 meter tersebut merupakan infrastruktur vital yang akan menghubungkan Desa Burni Bius dengan Dusun Gantung Langit. Kehadiran jembatan ini sangat dinantikan masyarakat karena menjadi akses utama untuk memperlancar mobilitas warga, mempercepat distribusi hasil pertanian, serta membuka jalur transportasi yang lebih aman dan efisien. Sebelumnya, wilayah tersebut sempat terdampak bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan terganggunya akses penghubung antarwilayah.

Percepatan pembangunan ini merupakan wujud nyata peran TNI dalam mendukung pemerataan pembangunan di wilayah teritorial, khususnya pada daerah dengan keterbatasan akses infrastruktur. Melalui semangat kemanunggalan TNI dan rakyat, pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan unsur masyarakat setempat.

Sebanyak 10 personel dari Kodim 0106/Aceh Tengah bersama 20 personel Yonif TP 854/Dharma Kersaka diterjunkan langsung ke lokasi pembangunan. Mereka bekerja bahu-membahu dengan warga yang secara sukarela turut membantu proses pengerjaan demi mempercepat penyelesaian jembatan tersebut.

Pada tahap pengerjaan hari ini, personel TNI melaksanakan pemasangan bantalan papan jembatan serta bantalan seling yang menjadi bagian penting dari struktur utama konstruksi. Tahapan ini dinilai krusial untuk memastikan kekuatan, keseimbangan, dan kestabilan jembatan dalam jangka panjang. Selanjutnya, tim dijadwalkan melakukan pemasangan tiang besi di titik B1 serta melanjutkan pemasangan bantalan papan jembatan guna mengejar target penyelesaian pada Februari 2026.

Dalam pelaksanaannya, tim dihadapkan pada sejumlah tantangan, terutama kondisi medan yang cukup berat dan akses jalan yang terbatas. Lokasi pembangunan berada di kawasan yang tidak dapat dijangkau kendaraan pengangkut material secara langsung. Untuk menyiasati hal tersebut, material konstruksi harus diangkut menggunakan kendaraan roda dua hingga titik tertentu, kemudian dipindahkan secara manual oleh personel TNI bersama warga menuju lokasi pembangunan.

Meski menghadapi kendala distribusi logistik dan kondisi geografis yang menantang, semangat dan disiplin prajurit tetap terjaga. Pekerjaan dilaksanakan secara terencana, sistematis, dan bergiliran guna menjaga efektivitas pengerjaan sekaligus mengutamakan faktor keselamatan kerja di lapangan.

Keberadaan jembatan gantung ini memiliki arti penting bagi masyarakat Desa Burni Bius dan sekitarnya. Selama ini, warga harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan dengan kondisi jalan licin dan arus sungai yang meningkat. Dengan terbangunnya jembatan baru, aktivitas ekonomi, pendidikan, serta kegiatan sosial masyarakat diharapkan dapat berjalan lebih lancar dan aman.
Salah satu warga Desa Burni Bius, Ibu Rusni (52), mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas pembangunan jembatan tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah membantu membangun jembatan ini. Selama ini kami kesulitan kalau mau ke dusun sebelah, apalagi saat musim hujan. Kalau jembatan ini sudah selesai, tentu akan sangat memudahkan kami membawa hasil kebun dan anak-anak juga lebih aman saat pergi ke sekolah,” ujarnya.

Ia berharap pembangunan dapat selesai tepat waktu agar manfaatnya segera dirasakan oleh seluruh warga. Antusiasme dan dukungan masyarakat setempat menjadi motivasi tambahan bagi para prajurit untuk menuntaskan pekerjaan sesuai target yang telah ditetapkan.

Dengan progres yang telah menembus angka 51 persen, pembangunan Jembatan Gantung Burni Bius menunjukkan perkembangan yang positif dan signifikan. Sinergi antara TNI dan masyarakat diharapkan terus terjaga hingga tahap akhir pengerjaan, sehingga jembatan ini nantinya dapat difungsikan sebagai sarana penghubung yang kokoh, aman, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan serta kemajuan wilayah Kecamatan Silih Nara dan sekitarnya.

TNI Percepat Pembangunan Jembatan Gantung Burni Bius, Aceh Tengah

Aceh Tengah  ( Aceh dalam berita ) Prajurit TNI dari Kodim 0106/Aceh Tengah bersama personel Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 854/Dharma Kersaka terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di wilayah pedalaman. Hingga Kamis (21/2/2026) pukul 16.30 WIB, progres pembangunan jembatan gantung di Desa Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah telah mencapai 51 persen.

Pembangunan jembatan gantung sepanjang 75 meter tersebut merupakan infrastruktur vital yang akan menghubungkan Desa Burni Bius dengan Dusun Gantung Langit. Kehadiran jembatan ini sangat dinantikan masyarakat karena menjadi akses utama untuk memperlancar mobilitas warga, mempercepat distribusi hasil pertanian, serta membuka jalur transportasi yang lebih aman dan efisien. Sebelumnya, wilayah tersebut sempat terdampak bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan terganggunya akses penghubung antarwilayah.

Percepatan pembangunan ini merupakan wujud nyata peran TNI dalam mendukung pemerataan pembangunan di wilayah teritorial, khususnya pada daerah dengan keterbatasan akses infrastruktur. Melalui semangat kemanunggalan TNI dan rakyat, pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan unsur masyarakat setempat.

Sebanyak 10 personel dari Kodim 0106/Aceh Tengah bersama 20 personel Yonif TP 854/Dharma Kersaka diterjunkan langsung ke lokasi pembangunan. Mereka bekerja bahu-membahu dengan warga yang secara sukarela turut membantu proses pengerjaan demi mempercepat penyelesaian jembatan tersebut.

Pada tahap pengerjaan hari ini, personel TNI melaksanakan pemasangan bantalan papan jembatan serta bantalan seling yang menjadi bagian penting dari struktur utama konstruksi. Tahapan ini dinilai krusial untuk memastikan kekuatan, keseimbangan, dan kestabilan jembatan dalam jangka panjang. Selanjutnya, tim dijadwalkan melakukan pemasangan tiang besi di titik B1 serta melanjutkan pemasangan bantalan papan jembatan guna mengejar target penyelesaian pada Februari 2026.

Dalam pelaksanaannya, tim dihadapkan pada sejumlah tantangan, terutama kondisi medan yang cukup berat dan akses jalan yang terbatas. Lokasi pembangunan berada di kawasan yang tidak dapat dijangkau kendaraan pengangkut material secara langsung. Untuk menyiasati hal tersebut, material konstruksi harus diangkut menggunakan kendaraan roda dua hingga titik tertentu, kemudian dipindahkan secara manual oleh personel TNI bersama warga menuju lokasi pembangunan.

Meski menghadapi kendala distribusi logistik dan kondisi geografis yang menantang, semangat dan disiplin prajurit tetap terjaga. Pekerjaan dilaksanakan secara terencana, sistematis, dan bergiliran guna menjaga efektivitas pengerjaan sekaligus mengutamakan faktor keselamatan kerja di lapangan.

Keberadaan jembatan gantung ini memiliki arti penting bagi masyarakat Desa Burni Bius dan sekitarnya. Selama ini, warga harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan dengan kondisi jalan licin dan arus sungai yang meningkat. Dengan terbangunnya jembatan baru, aktivitas ekonomi, pendidikan, serta kegiatan sosial masyarakat diharapkan dapat berjalan lebih lancar dan aman.
Salah satu warga Desa Burni Bius, Ibu Rusni (52), mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas pembangunan jembatan tersebut.

“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah membantu membangun jembatan ini. Selama ini kami kesulitan kalau mau ke dusun sebelah, apalagi saat musim hujan. Kalau jembatan ini sudah selesai, tentu akan sangat memudahkan kami membawa hasil kebun dan anak-anak juga lebih aman saat pergi ke sekolah,” ujarnya.

Ia berharap pembangunan dapat selesai tepat waktu agar manfaatnya segera dirasakan oleh seluruh warga. Antusiasme dan dukungan masyarakat setempat menjadi motivasi tambahan bagi para prajurit untuk menuntaskan pekerjaan sesuai target yang telah ditetapkan.

Dengan progres yang telah menembus angka 51 persen, pembangunan Jembatan Gantung Burni Bius menunjukkan perkembangan yang positif dan signifikan. Sinergi antara TNI dan masyarakat diharapkan terus terjaga hingga tahap akhir pengerjaan, sehingga jembatan ini nantinya dapat difungsikan sebagai sarana penghubung yang kokoh, aman, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan serta kemajuan wilayah Kecamatan Silih Nara dan sekitarnya.

Satgas Gulbencal Percepat Pembangunan Jembatan Bailey di Karang Rejo, Wujud Nyata Kepedulian TNI Pulihkan Akses Pascabencana

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Jum’at 20-2-2026 Dalam rangka mempercepat pemulihan infrastruktur pascabencana alam yang sempat memutus akses transportasi masyarakat, Satuan Tugas (Satgas) Gulbencal yang terdiri dari personel Kodim 0119/BM, Batalyon Zeni Konstruksi 13/Karya Etmaka, serta Detasemen Zeni Tempur 3/Agni Tirta Dharma terus mempercepat pembangunan jembatan Bailey di Desa Karang Rejo, Kecamatan Bukit, Jumat (20/02/2026).

Pembangunan jembatan tersebut menjadi langkah prioritas guna membuka kembali jalur penghubung vital yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas masyarakat. Jalur tersebut tidak hanya menghubungkan antarpermukiman, tetapi juga menjadi akses utama menuju pusat perekonomian, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta sarana pemerintahan. Sejak terputus akibat bencana beberapa waktu lalu, mobilitas warga menjadi terganggu dan distribusi hasil pertanian mengalami hambatan yang cukup signifikan.

Sebagai solusi cepat dalam situasi darurat, pembangunan jembatan Bailey dinilai efektif untuk memulihkan konektivitas wilayah dalam waktu relatif singkat. Dengan konstruksi rangka baja yang kuat dan sistem pemasangan yang terukur, jembatan ini dirancang agar mampu menahan beban kendaraan dan aktivitas masyarakat secara aman.

Di tengah pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan, para prajurit tetap menunjukkan dedikasi dan loyalitas tinggi dalam melaksanakan tugas. Sejak pagi hingga sore hari, personel Satgas bekerja secara maksimal, menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan mulai dari penyiapan pondasi, perakitan rangka baja, hingga proses pemasangan dan penguatan struktur. Seluruh pekerjaan dilakukan secara cermat dan penuh kehati-hatian guna memastikan kualitas konstruksi tetap terjaga serta aman saat digunakan nantinya.

Komandan Kodim 0119/BM, Letkol Inf Ahmad Fauzi, menegaskan bahwa percepatan pembangunan jembatan Bailey merupakan bentuk nyata kepedulian TNI terhadap kesulitan rakyat, khususnya dalam kondisi pascabencana.

“Pembangunan jembatan Bailey ini menjadi prioritas untuk mendukung mobilitas warga. Personel bekerja tanpa henti agar jembatan ini segera bisa dilintasi dan aktivitas masyarakat dapat segera pulih, meskipun sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa jembatan Bailey ini diharapkan dapat menjadi solusi sementara yang efektif hingga pembangunan jembatan permanen dapat direalisasikan oleh instansi terkait. Dengan terbukanya kembali akses transportasi, roda perekonomian masyarakat diyakini akan kembali bergerak normal, terutama dalam mendukung distribusi hasil kebun dan kebutuhan pokok warga.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Karang Rejo, Suryadi (45), menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas percepatan pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, selama akses terputus, warga harus memutar cukup jauh untuk menjangkau pasar, sekolah, dan fasilitas umum lainnya, sehingga menambah biaya dan waktu tempuh.

“Kami sangat terbantu dengan adanya pembangunan jembatan ini. Selama ini kami kesulitan mengangkut hasil kebun dan harus menempuh jalan alternatif yang jauh. Semoga jembatan ini cepat selesai supaya kami bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Terima kasih kepada TNI yang sudah membantu masyarakat,” ungkapnya.

Pembangunan jembatan Bailey di Desa Karang Rejo diharapkan segera rampung dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. Selain memperlancar mobilitas dan mempercepat pemulihan ekonomi, keberadaan jembatan tersebut juga menjadi simbol kuat sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menghadapi serta bangkit dari dampak bencana. Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen TNI untuk senantiasa hadir di tengah masyarakat sebagai solusi dalam mengatasi kesulitan rakyat di wilayah Kabupaten Bener Meriah.

Progres 56 Persen, Pembangunan Jembatan Gantung Desa Burlah Jadi Harapan Baru Konektivitas Wilayah Pedalaman Aceh Tengah

Aceh Tengah ( Aceh dalam berita ) Jum’at 20-2-2026 Pembangunan Jembatan Gantung Desa Burlah yang berada di wilayah teritorial Kodim 0106/Aceh Tengah terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. progres fisik pembangunan telah mencapai 56 persen dan berjalan sesuai dengan tahapan perencanaan yang telah ditetapkan.

Jembatan gantung sepanjang 120 meter tersebut dirancang sebagai penghubung strategis antara Desa Kala Ketol dengan Desa Burlah, Desa Kekuyang, Desa Buge Ara, dan Desa Bintang Pepara di Kabupaten Aceh Tengah. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu mengakhiri keterisolasian sejumlah wilayah pedalaman sekaligus memperlancar arus transportasi, distribusi logistik, serta mobilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Pembangunan jembatan ini merupakan wujud nyata sinergi antara TNI Angkatan Darat dan masyarakat dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil. Seluruh material utama jembatan disiapkan oleh TNI AD, sementara pengerjaan di lapangan melibatkan personel gabungan dari Koramil 09/Ketol, Kodim 0106/Aceh Tengah, Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 854/Dharma Kersaka, serta personel dari Pusat Zeni Angkatan Darat. Kegiatan teknis di lapangan dikoordinir oleh DPP Serka Bahtiar guna memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan terarah dan terintegrasi.

Saat ini, pekerjaan difokuskan pada pemasangan gelagar lintang sebagai elemen penting penopang lantai jembatan, serta perapian lintasan sling yang menghubungkan pilon dengan pondasi tarik sling di sisi tepi jauh. Tahapan ini menjadi bagian krusial dalam memperkuat struktur utama jembatan agar kokoh, stabil, serta memenuhi standar keamanan konstruksi sebelum nantinya difungsikan untuk masyarakat.

Serda Suherman menjelaskan bahwa seluruh personel bekerja secara maksimal untuk menjaga konsistensi progres sekaligus memastikan kualitas hasil pekerjaan. Menurutnya, keselamatan kerja dan mutu konstruksi menjadi prioritas utama dalam setiap tahap pembangunan.

“Saat ini kami fokus pada pemasangan gelagar lintang serta perapian sling agar konstruksi benar-benar kokoh dan aman. Kami optimis dengan kerja sama yang solid, target penyelesaian pada Februari 2026 dapat tercapai,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi geografis wilayah perbukitan serta dinamika cuaca menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pekerjaan. Namun demikian, semangat kebersamaan dan koordinasi yang baik antar unsur pelaksana, ditambah dukungan aktif dari masyarakat setempat, mampu menjaga ritme pembangunan tetap sesuai target.

Secara ekonomi, keberadaan jembatan gantung ini diproyeksikan memberi dampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan warga. Selama ini, akses antar desa kerap terkendala, terutama saat musim hujan ketika jalur darat menjadi licin dan sulit dilalui. Kondisi tersebut berdampak pada distribusi hasil pertanian serta kebutuhan pokok yang kurang optimal. Dengan hadirnya jembatan ini, waktu tempuh antar desa akan lebih singkat dan biaya transportasi dapat ditekan secara signifikan.

Tidak hanya itu, akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan juga akan semakin mudah. Anak-anak sekolah tidak lagi harus menempuh jalur memutar yang jauh dan berisiko, sementara warga yang membutuhkan layanan kesehatan darurat dapat lebih cepat menjangkau fasilitas terdekat.

Partisipasi masyarakat turut menjadi elemen penting dalam kelancaran proyek ini. Warga secara swadaya membantu pengangkutan material serta menjaga keamanan dan ketertiban di sekitar lokasi pembangunan. Kebersamaan tersebut mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dalam mewujudkan infrastruktur yang menjadi kebutuhan bersama.

Salah seorang warga Desa Burlah, Muhammad (52), menyampaikan rasa syukur atas pembangunan jembatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas pembangunan jembatan ini. Selama ini kalau mau ke desa sebelah harus memutar cukup jauh, apalagi saat musim hujan jalannya licin dan sulit dilewati. Dengan adanya jembatan gantung ini, kami yakin aktivitas ekonomi akan lebih lancar dan anak-anak juga lebih mudah pergi ke sekolah,” ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan simbol perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat di wilayah pedalaman. Ia berharap seluruh tahapan pekerjaan dapat berjalan lancar hingga tuntas dan segera dimanfaatkan secara optimal oleh warga.

Dengan progres yang telah melampaui separuh tahapan pekerjaan, optimisme pun semakin menguat bahwa Jembatan Gantung Desa Burlah akan segera menjadi penghubung harapan, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah.

Kodim 0117/Aceh Tamiang Siapkan 2.500 Porsi Kuah Beulangong untuk Bukber Perdana di Huntara, Sambut Kehadiran Mendagri

Aceh Tamiang  ( Aceh dalam berita ) Kamis 19-2-2026 Jajaran TNI dari Kodim 0117/Aceh Tamiang menunjukkan kepedulian dan kebersamaan dengan masyarakat terdampak bencana melalui kegiatan memasak 2.500 porsi kuah beulangong untuk buka puasa bersama (bukber) perdana di hunian sementara (huntara) korban bencana alam Kabupaten Aceh Tamiang.
Kegiatan tersebut dipusatkan di Masjid Darussalam, kompleks huntara Desa Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang,  Sejak pagi hari, puluhan personel TNI tampak sibuk mempersiapkan bahan, menata perlengkapan masak, hingga membangun tenda dan menyiapkan sarana ibadah bagi warga.

Komandan Kodim 0117/Aceh Tamiang, Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa pihaknya memasak kuah beulangong untuk sekitar 2.500 orang yang akan berkumpul di Masjid Darussalam dalam rangka buka puasa bersama.
“Kami sedang memasak kuah beulangong untuk sekitar 2.500 orang yang akan berkumpul di Masjid Darussalam di kompleks huntara ini,” ujar Dandim saat dikonfirmasi oleh Penerangan Kodim 0117/Aceh Tamiang di lokasi kegiatan.

Lebih lanjut, Letkol Arm Raden Subhi menjelaskan bahwa kegiatan buka puasa bersama tersebut juga digelar dalam rangka menyambut kehadiran Menteri Dalam Negeri, Bapak Tito Karnavian, yang dijadwalkan akan melaksanakan buka puasa bersama warga di kompleks huntara tersebut.

“Buka puasa bersama ini juga dalam rangka menyambut kunjungan Bapak Menteri Dalam Negeri yang dijadwalkan akan berbuka puasa bersama warga di sini. Kami membantu penyiapannya serta ikut menyukseskan kegiatan buka bersama di Aceh Tamiang ini,” jelasnya.

Pemilihan menu kuah beulangong bukan tanpa alasan. Dandim menuturkan bahwa hidangan tersebut merupakan salah satu masakan khas Aceh yang memiliki nilai kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat. Kuah beulangong adalah gulai tradisional berbahan dasar daging kambing atau sapi yang dimasak bersama nangka muda di dalam kuali besar (beulangong) menggunakan kayu bakar, sehingga menghasilkan cita rasa khas yang kaya rempah.

Untuk menyajikan hidangan bagi ribuan warga tersebut, Kodim 0117/Aceh Tamiang menyiapkan sedikitnya 180 kilogram daging. Proses memasak dilakukan secara gotong royong oleh sekitar 40 personel TNI yang dibagi dalam beberapa tim. Selain bertugas memasak, personel juga membantu menyiapkan masjid sebagai tempat ibadah, menata lokasi acara, serta mendirikan tenda guna menampung para jamaah.

“Ini jamuan untuk seluruh warga yang ada di kompleks ini, kurang lebih 600 kepala keluarga. Menu buka puasa ini juga digabung dengan masyarakat sekitar, bukan hanya warga huntara saja yang bisa bergabung di sini,” pungkas perwira berpangkat dua melati tersebut.

Kegiatan buka puasa bersama ini menjadi momentum mempererat silaturahmi antara TNI, pemerintah, dan masyarakat, khususnya para korban bencana yang saat ini masih menempati hunian sementara. Kehadiran TNI di tengah-tengah warga tidak hanya dalam konteks penanganan bencana dan pengamanan, tetapi juga dalam membangun kebersamaan serta memberikan dukungan moril.

Salah seorang warga setempat, Sahrul, mengungkapkan rasa haru dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh jajaran TNI. Ia menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama tersebut sangat berarti bagi warga huntara yang tengah berupaya bangkit dari kondisi pascabencana.

“Kami merasa diperhatikan dan tidak sendiri. Kehadiran bapak-bapak TNI yang memasak dan menyiapkan acara ini membuat kami semakin semangat menjalani Ramadhan meski masih tinggal di huntara,” ungkapnya.

Sahrul berharap kebersamaan seperti ini dapat terus terjalin dan menjadi penyemangat bagi warga untuk bangkit serta menata kembali kehidupan mereka ke depan.
Melalui kegiatan tersebut, Kodim 0117/Aceh Tamiang kembali menegaskan komitmennya untuk selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam tugas pertahanan dan keamanan, tetapi juga dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, khususnya pada momentum bulan suci Ramadhan yang penuh berkah.

Kodim 0117/Aceh Tamiang Siapkan 2.500 Porsi Kuah Beulangong untuk Bukber Perdana di Huntara, Sambut Kehadiran Mendagri

Aceh Tamiang  ( Aceh dalam berita ) Kamis 19-2-2026 Jajaran TNI dari Kodim 0117/Aceh Tamiang menunjukkan kepedulian dan kebersamaan dengan masyarakat terdampak bencana melalui kegiatan memasak 2.500 porsi kuah beulangong untuk buka puasa bersama (bukber) perdana di hunian sementara (huntara) korban bencana alam Kabupaten Aceh Tamiang.
Kegiatan tersebut dipusatkan di Masjid Darussalam, kompleks huntara Desa Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang,  Sejak pagi hari, puluhan personel TNI tampak sibuk mempersiapkan bahan, menata perlengkapan masak, hingga membangun tenda dan menyiapkan sarana ibadah bagi warga.

Komandan Kodim 0117/Aceh Tamiang, Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa pihaknya memasak kuah beulangong untuk sekitar 2.500 orang yang akan berkumpul di Masjid Darussalam dalam rangka buka puasa bersama.
“Kami sedang memasak kuah beulangong untuk sekitar 2.500 orang yang akan berkumpul di Masjid Darussalam di kompleks huntara ini,” ujar Dandim saat dikonfirmasi oleh Penerangan Kodim 0117/Aceh Tamiang di lokasi kegiatan.

Lebih lanjut, Letkol Arm Raden Subhi menjelaskan bahwa kegiatan buka puasa bersama tersebut juga digelar dalam rangka menyambut kehadiran Menteri Dalam Negeri, Bapak Tito Karnavian, yang dijadwalkan akan melaksanakan buka puasa bersama warga di kompleks huntara tersebut.

“Buka puasa bersama ini juga dalam rangka menyambut kunjungan Bapak Menteri Dalam Negeri yang dijadwalkan akan berbuka puasa bersama warga di sini. Kami membantu penyiapannya serta ikut menyukseskan kegiatan buka bersama di Aceh Tamiang ini,” jelasnya.

Pemilihan menu kuah beulangong bukan tanpa alasan. Dandim menuturkan bahwa hidangan tersebut merupakan salah satu masakan khas Aceh yang memiliki nilai kebersamaan dan kekeluargaan yang kuat. Kuah beulangong adalah gulai tradisional berbahan dasar daging kambing atau sapi yang dimasak bersama nangka muda di dalam kuali besar (beulangong) menggunakan kayu bakar, sehingga menghasilkan cita rasa khas yang kaya rempah.

Untuk menyajikan hidangan bagi ribuan warga tersebut, Kodim 0117/Aceh Tamiang menyiapkan sedikitnya 180 kilogram daging. Proses memasak dilakukan secara gotong royong oleh sekitar 40 personel TNI yang dibagi dalam beberapa tim. Selain bertugas memasak, personel juga membantu menyiapkan masjid sebagai tempat ibadah, menata lokasi acara, serta mendirikan tenda guna menampung para jamaah.

“Ini jamuan untuk seluruh warga yang ada di kompleks ini, kurang lebih 600 kepala keluarga. Menu buka puasa ini juga digabung dengan masyarakat sekitar, bukan hanya warga huntara saja yang bisa bergabung di sini,” pungkas perwira berpangkat dua melati tersebut.

Kegiatan buka puasa bersama ini menjadi momentum mempererat silaturahmi antara TNI, pemerintah, dan masyarakat, khususnya para korban bencana yang saat ini masih menempati hunian sementara. Kehadiran TNI di tengah-tengah warga tidak hanya dalam konteks penanganan bencana dan pengamanan, tetapi juga dalam membangun kebersamaan serta memberikan dukungan moril.

Salah seorang warga setempat, Sahrul, mengungkapkan rasa haru dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh jajaran TNI. Ia menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama tersebut sangat berarti bagi warga huntara yang tengah berupaya bangkit dari kondisi pascabencana.

“Kami merasa diperhatikan dan tidak sendiri. Kehadiran bapak-bapak TNI yang memasak dan menyiapkan acara ini membuat kami semakin semangat menjalani Ramadhan meski masih tinggal di huntara,” ungkapnya.

Sahrul berharap kebersamaan seperti ini dapat terus terjalin dan menjadi penyemangat bagi warga untuk bangkit serta menata kembali kehidupan mereka ke depan.
Melalui kegiatan tersebut, Kodim 0117/Aceh Tamiang kembali menegaskan komitmennya untuk selalu hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam tugas pertahanan dan keamanan, tetapi juga dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, khususnya pada momentum bulan suci Ramadhan yang penuh berkah.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW Kebut Pembangunan Jembatan Aramco di Mesidah Bener Meriah

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Kamis 19-2-2026 Progres pembangunan Jembatan Aramco di Desa Jamur Atu, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah, yang dikerjakan oleh Satuan Tugas Penanggulangan Bencana dan Alam (Satgas Gulbencal) dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina, kini telah mencapai 35 persen.  personel di lapangan terus mengoptimalkan pekerjaan guna mempercepat penyelesaian jembatan tersebut agar segera dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Pembangunan Jembatan Aramco ini merupakan bagian dari langkah percepatan pemulihan dan peningkatan infrastruktur pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang beberapa waktu lalu melanda wilayah Kabupaten Bener Meriah. Bencana tersebut sempat mengganggu akses transportasi warga, khususnya di Kecamatan Mesidah, sehingga berdampak pada mobilitas masyarakat dan distribusi hasil pertanian.

Keberadaan jembatan ini diharapkan menjadi solusi strategis dalam memulihkan konektivitas antarwilayah. Selain memperlancar akses transportasi, jembatan tersebut juga akan menunjang aktivitas perekonomian warga, terutama dalam mendistribusikan hasil perkebunan dan pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat setempat.

Memasuki awal bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, semangat dan dedikasi personel Satgas Gulbencal tidak surut. Meskipun menjalankan ibadah puasa, para prajurit tetap bekerja secara profesional dan penuh tanggung jawab di lapangan. Komitmen tersebut menjadi wujud nyata pengabdian TNI kepada masyarakat, khususnya dalam membantu percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana.

Sejumlah tahapan pekerjaan telah dilaksanakan sesuai rencana kerja yang telah disusun. Dimulai dari persiapan dan pembersihan lokasi, perakitan gorong-gorong Aramco, hingga pemasangan struktur utama jembatan dilakukan secara bertahap, sistematis, dan terukur. Setiap tahapan pekerjaan berada dalam pengawasan teknis yang ketat guna memastikan kualitas konstruksi memenuhi standar keamanan dan kelayakan.

Koordinasi antarpersonel di lapangan juga terus ditingkatkan agar proses pembangunan berjalan efektif dan efisien. Dengan progres yang telah mencapai 35 persen, diharapkan dalam waktu dekat Jembatan Aramco tersebut sudah dapat dilintasi kendaraan roda empat. Apabila telah berfungsi sepenuhnya, jembatan ini akan sangat membantu kelancaran distribusi kebutuhan pokok serta hasil pertanian masyarakat.

Salah seorang warga Desa Jamur Atu, Rahmat (43), mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, selama ini masyarakat cukup mengalami kesulitan dalam mengangkut hasil kebun, terutama ketika kondisi cuaca kurang bersahabat.

“Kami sangat terbantu dengan adanya pembangunan jembatan ini. Kalau sudah bisa dilewati mobil, tentu biaya angkut hasil pertanian akan lebih ringan dan waktu tempuh juga lebih cepat. Semoga pengerjaannya lancar sampai selesai,” ujarnya.

Dengan progres yang terus menunjukkan perkembangan positif, pembangunan Jembatan Aramco diharapkan dapat selesai tepat waktu serta menjadi solusi nyata atas kebutuhan akses transportasi masyarakat di Kecamatan Mesidah. Selain mempercepat pemulihan pascabencana, keberadaan jembatan ini juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan memperkuat ketahanan infrastruktur di wilayah Kabupaten Bener Meriah secara berkelanjutan.