Satgas Gulbencal Percepat Pembangunan Jembatan Bailey di Karang Rejo, Wujud Nyata Kepedulian TNI Pulihkan Akses Pascabencana

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Jum’at 20-2-2026 Dalam rangka mempercepat pemulihan infrastruktur pascabencana alam yang sempat memutus akses transportasi masyarakat, Satuan Tugas (Satgas) Gulbencal yang terdiri dari personel Kodim 0119/BM, Batalyon Zeni Konstruksi 13/Karya Etmaka, serta Detasemen Zeni Tempur 3/Agni Tirta Dharma terus mempercepat pembangunan jembatan Bailey di Desa Karang Rejo, Kecamatan Bukit, Jumat (20/02/2026).

Pembangunan jembatan tersebut menjadi langkah prioritas guna membuka kembali jalur penghubung vital yang selama ini menjadi urat nadi aktivitas masyarakat. Jalur tersebut tidak hanya menghubungkan antarpermukiman, tetapi juga menjadi akses utama menuju pusat perekonomian, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, serta sarana pemerintahan. Sejak terputus akibat bencana beberapa waktu lalu, mobilitas warga menjadi terganggu dan distribusi hasil pertanian mengalami hambatan yang cukup signifikan.

Sebagai solusi cepat dalam situasi darurat, pembangunan jembatan Bailey dinilai efektif untuk memulihkan konektivitas wilayah dalam waktu relatif singkat. Dengan konstruksi rangka baja yang kuat dan sistem pemasangan yang terukur, jembatan ini dirancang agar mampu menahan beban kendaraan dan aktivitas masyarakat secara aman.

Di tengah pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan, para prajurit tetap menunjukkan dedikasi dan loyalitas tinggi dalam melaksanakan tugas. Sejak pagi hingga sore hari, personel Satgas bekerja secara maksimal, menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan mulai dari penyiapan pondasi, perakitan rangka baja, hingga proses pemasangan dan penguatan struktur. Seluruh pekerjaan dilakukan secara cermat dan penuh kehati-hatian guna memastikan kualitas konstruksi tetap terjaga serta aman saat digunakan nantinya.

Komandan Kodim 0119/BM, Letkol Inf Ahmad Fauzi, menegaskan bahwa percepatan pembangunan jembatan Bailey merupakan bentuk nyata kepedulian TNI terhadap kesulitan rakyat, khususnya dalam kondisi pascabencana.

“Pembangunan jembatan Bailey ini menjadi prioritas untuk mendukung mobilitas warga. Personel bekerja tanpa henti agar jembatan ini segera bisa dilintasi dan aktivitas masyarakat dapat segera pulih, meskipun sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa jembatan Bailey ini diharapkan dapat menjadi solusi sementara yang efektif hingga pembangunan jembatan permanen dapat direalisasikan oleh instansi terkait. Dengan terbukanya kembali akses transportasi, roda perekonomian masyarakat diyakini akan kembali bergerak normal, terutama dalam mendukung distribusi hasil kebun dan kebutuhan pokok warga.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Karang Rejo, Suryadi (45), menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas percepatan pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, selama akses terputus, warga harus memutar cukup jauh untuk menjangkau pasar, sekolah, dan fasilitas umum lainnya, sehingga menambah biaya dan waktu tempuh.

“Kami sangat terbantu dengan adanya pembangunan jembatan ini. Selama ini kami kesulitan mengangkut hasil kebun dan harus menempuh jalan alternatif yang jauh. Semoga jembatan ini cepat selesai supaya kami bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Terima kasih kepada TNI yang sudah membantu masyarakat,” ungkapnya.

Pembangunan jembatan Bailey di Desa Karang Rejo diharapkan segera rampung dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal. Selain memperlancar mobilitas dan mempercepat pemulihan ekonomi, keberadaan jembatan tersebut juga menjadi simbol kuat sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menghadapi serta bangkit dari dampak bencana. Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen TNI untuk senantiasa hadir di tengah masyarakat sebagai solusi dalam mengatasi kesulitan rakyat di wilayah Kabupaten Bener Meriah.

Polda Aceh Tangkap 50 Kg Ganja di Bireuen, Satu Terduga Pelaku Diamankan

Bireuen ( Aceh dalam berita ) Jum’at 20-2-2026 Tim Khusus Direktorat Reserse Narkoba Polda Aceh berhasil mengungkap kasus peredaran narkotika jenis ganja seberat kurang lebih kurang 50 kilogram. Dalam pengungkapan tersebut, petugas turut mengamankan satu orang terduga pelaku berinisial AW (58), warga Aceh Tengah yang berprofesi sebagai petani.

Penangkapan dilakukan pada Minggu, 15 Februari 2026, sekira pukul 02.54 WIB di Jalan Lintas Banda Aceh–Medan, tepatnya sebelum Jembatan Kuta Blang, Desa Kulu, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, S.I.K., menyampaikan bahwa, barang bukti yang diamankan berupa tiga karung goni besar warna putih dan satu karung goni kecil warna putih yang berisikan narkotika jenis ganja dengan total berat sekitar lebih kurang 50 kilogram.

Selain itu, polisi juga menyita satu unit mobil Toyota Avanza warna hitam dengan nomor polisi BL 1841 GW, satu unit telepon genggam merek Nokia warna abu-abu, serta satu lembar KTP milik tersangka AW, sambungnya.

Kabid Humas menjelaskan, bahwa pengungkapan kasus ini bermula pada Jumat, 13 Februari 2026, saat personel Timsus Ditresnarkoba menerima informasi dari masyarakat bahwa AW akan melakukan transaksi ganja menggunakan mobil Toyota Avanza warna hitam BL 1841 GW dari wilayah Betong, Kabupaten Nagan Raya.

Menindaklanjuti informasi tersebut, tim segera melakukan penyelidikan. Pada Sabtu, 14 Februari 2026, diperoleh informasi bahwa terduga pelaku telah berangkat dari Betong, Kabupaten Nagan Raya menuju Kabupaten Bireuen. Tim kemudian bergerak melakukan pemantauan di wilayah tersebut.

Pada Minggu, 15 Februari 2026 sekira pukul 02.00 WIB, tim mendapatkan informasi bahwa kendaraan yang dicurigai telah berada di Kabupaten Bireuen. Saat melintas di Jalan Lintas Medan–Banda Aceh, tepatnya di Desa Kulu, Kecamatan Kuta Blang, petugas melihat mobil Toyota Avanza yang dimaksud dan langsung melakukan pengejaran hingga akhirnya berhasil menghentikan serta mengamankan AW pada pukul 02.54 WIB.

Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan karung goni yang ditutup terpal hitam di dalam mobil. Kepada petugas, AW mengakui bahwa karung tersebut berisi narkotika jenis ganja yang diambil dari wilayah Beutong Ateuh, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, dari seseorang berinisial Z yang saat ini masih dalam penyelidikan.

Rencananya, ganja tersebut akan diantarkan ke wilayah Geudong, Kabupaten Aceh Utara, kepada penerima berinisial G. Namun saat tim melakukan pengejaran terhadap G di pinggir Jalan Lintas Medan–Banda Aceh, tepatnya di Desa Geudong, Kecamatan Geureudong Pasee, Kabupaten Aceh Utara, yang bersangkutan berhasil melarikan diri dan kini masih dalam pengejaran.

Selanjutnya, terduga pelaku AW beserta seluruh barang bukti diamankan di Ditresnarkoba Polda Aceh guna kepentingan penyelidikan, pengembangan, dan penyidikan lebih lanjut, jelas Kabid Humas lagi.

Pemberantasan peredaran narkotika jenis ganja ini merupakan tindak lanjut atas instruksi Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., sebagai bentuk komitmen untuk mewujudkan Aceh yang bersih dari peredaran ganja, pungkas Kabid Humas.

Polda Aceh Tangkap 50 Kg Ganja di Bireuen, Satu Terduga Pelaku Diamankan

Bireuen ( Aceh dalam berita ) Jum’at 20-2-2026 Tim Khusus Direktorat Reserse Narkoba Polda Aceh berhasil mengungkap kasus peredaran narkotika jenis ganja seberat kurang lebih kurang 50 kilogram. Dalam pengungkapan tersebut, petugas turut mengamankan satu orang terduga pelaku berinisial AW (58), warga Aceh Tengah yang berprofesi sebagai petani.

Penangkapan dilakukan pada Minggu, 15 Februari 2026, sekira pukul 02.54 WIB di Jalan Lintas Banda Aceh–Medan, tepatnya sebelum Jembatan Kuta Blang, Desa Kulu, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, S.I.K., menyampaikan bahwa, barang bukti yang diamankan berupa tiga karung goni besar warna putih dan satu karung goni kecil warna putih yang berisikan narkotika jenis ganja dengan total berat sekitar lebih kurang 50 kilogram.

Selain itu, polisi juga menyita satu unit mobil Toyota Avanza warna hitam dengan nomor polisi BL 1841 GW, satu unit telepon genggam merek Nokia warna abu-abu, serta satu lembar KTP milik tersangka AW, sambungnya.

Kabid Humas menjelaskan, bahwa pengungkapan kasus ini bermula pada Jumat, 13 Februari 2026, saat personel Timsus Ditresnarkoba menerima informasi dari masyarakat bahwa AW akan melakukan transaksi ganja menggunakan mobil Toyota Avanza warna hitam BL 1841 GW dari wilayah Betong, Kabupaten Nagan Raya.

Menindaklanjuti informasi tersebut, tim segera melakukan penyelidikan. Pada Sabtu, 14 Februari 2026, diperoleh informasi bahwa terduga pelaku telah berangkat dari Betong, Kabupaten Nagan Raya menuju Kabupaten Bireuen. Tim kemudian bergerak melakukan pemantauan di wilayah tersebut.

Pada Minggu, 15 Februari 2026 sekira pukul 02.00 WIB, tim mendapatkan informasi bahwa kendaraan yang dicurigai telah berada di Kabupaten Bireuen. Saat melintas di Jalan Lintas Medan–Banda Aceh, tepatnya di Desa Kulu, Kecamatan Kuta Blang, petugas melihat mobil Toyota Avanza yang dimaksud dan langsung melakukan pengejaran hingga akhirnya berhasil menghentikan serta mengamankan AW pada pukul 02.54 WIB.

Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan karung goni yang ditutup terpal hitam di dalam mobil. Kepada petugas, AW mengakui bahwa karung tersebut berisi narkotika jenis ganja yang diambil dari wilayah Beutong Ateuh, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, dari seseorang berinisial Z yang saat ini masih dalam penyelidikan.

Rencananya, ganja tersebut akan diantarkan ke wilayah Geudong, Kabupaten Aceh Utara, kepada penerima berinisial G. Namun saat tim melakukan pengejaran terhadap G di pinggir Jalan Lintas Medan–Banda Aceh, tepatnya di Desa Geudong, Kecamatan Geureudong Pasee, Kabupaten Aceh Utara, yang bersangkutan berhasil melarikan diri dan kini masih dalam pengejaran.

Selanjutnya, terduga pelaku AW beserta seluruh barang bukti diamankan di Ditresnarkoba Polda Aceh guna kepentingan penyelidikan, pengembangan, dan penyidikan lebih lanjut, jelas Kabid Humas lagi.

Pemberantasan peredaran narkotika jenis ganja ini merupakan tindak lanjut atas instruksi Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., sebagai bentuk komitmen untuk mewujudkan Aceh yang bersih dari peredaran ganja, pungkas Kabid Humas.

Progres 56 Persen, Pembangunan Jembatan Gantung Desa Burlah Jadi Harapan Baru Konektivitas Wilayah Pedalaman Aceh Tengah

Aceh Tengah ( Aceh dalam berita ) Jum’at 20-2-2026 Pembangunan Jembatan Gantung Desa Burlah yang berada di wilayah teritorial Kodim 0106/Aceh Tengah terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. progres fisik pembangunan telah mencapai 56 persen dan berjalan sesuai dengan tahapan perencanaan yang telah ditetapkan.

Jembatan gantung sepanjang 120 meter tersebut dirancang sebagai penghubung strategis antara Desa Kala Ketol dengan Desa Burlah, Desa Kekuyang, Desa Buge Ara, dan Desa Bintang Pepara di Kabupaten Aceh Tengah. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu mengakhiri keterisolasian sejumlah wilayah pedalaman sekaligus memperlancar arus transportasi, distribusi logistik, serta mobilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Pembangunan jembatan ini merupakan wujud nyata sinergi antara TNI Angkatan Darat dan masyarakat dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di daerah terpencil. Seluruh material utama jembatan disiapkan oleh TNI AD, sementara pengerjaan di lapangan melibatkan personel gabungan dari Koramil 09/Ketol, Kodim 0106/Aceh Tengah, Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 854/Dharma Kersaka, serta personel dari Pusat Zeni Angkatan Darat. Kegiatan teknis di lapangan dikoordinir oleh DPP Serka Bahtiar guna memastikan setiap tahapan pekerjaan berjalan terarah dan terintegrasi.

Saat ini, pekerjaan difokuskan pada pemasangan gelagar lintang sebagai elemen penting penopang lantai jembatan, serta perapian lintasan sling yang menghubungkan pilon dengan pondasi tarik sling di sisi tepi jauh. Tahapan ini menjadi bagian krusial dalam memperkuat struktur utama jembatan agar kokoh, stabil, serta memenuhi standar keamanan konstruksi sebelum nantinya difungsikan untuk masyarakat.

Serda Suherman menjelaskan bahwa seluruh personel bekerja secara maksimal untuk menjaga konsistensi progres sekaligus memastikan kualitas hasil pekerjaan. Menurutnya, keselamatan kerja dan mutu konstruksi menjadi prioritas utama dalam setiap tahap pembangunan.

“Saat ini kami fokus pada pemasangan gelagar lintang serta perapian sling agar konstruksi benar-benar kokoh dan aman. Kami optimis dengan kerja sama yang solid, target penyelesaian pada Februari 2026 dapat tercapai,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi geografis wilayah perbukitan serta dinamika cuaca menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pekerjaan. Namun demikian, semangat kebersamaan dan koordinasi yang baik antar unsur pelaksana, ditambah dukungan aktif dari masyarakat setempat, mampu menjaga ritme pembangunan tetap sesuai target.

Secara ekonomi, keberadaan jembatan gantung ini diproyeksikan memberi dampak signifikan bagi peningkatan kesejahteraan warga. Selama ini, akses antar desa kerap terkendala, terutama saat musim hujan ketika jalur darat menjadi licin dan sulit dilalui. Kondisi tersebut berdampak pada distribusi hasil pertanian serta kebutuhan pokok yang kurang optimal. Dengan hadirnya jembatan ini, waktu tempuh antar desa akan lebih singkat dan biaya transportasi dapat ditekan secara signifikan.

Tidak hanya itu, akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan juga akan semakin mudah. Anak-anak sekolah tidak lagi harus menempuh jalur memutar yang jauh dan berisiko, sementara warga yang membutuhkan layanan kesehatan darurat dapat lebih cepat menjangkau fasilitas terdekat.

Partisipasi masyarakat turut menjadi elemen penting dalam kelancaran proyek ini. Warga secara swadaya membantu pengangkutan material serta menjaga keamanan dan ketertiban di sekitar lokasi pembangunan. Kebersamaan tersebut mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dalam mewujudkan infrastruktur yang menjadi kebutuhan bersama.

Salah seorang warga Desa Burlah, Muhammad (52), menyampaikan rasa syukur atas pembangunan jembatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas pembangunan jembatan ini. Selama ini kalau mau ke desa sebelah harus memutar cukup jauh, apalagi saat musim hujan jalannya licin dan sulit dilewati. Dengan adanya jembatan gantung ini, kami yakin aktivitas ekonomi akan lebih lancar dan anak-anak juga lebih mudah pergi ke sekolah,” ungkapnya.

Menurutnya, pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan simbol perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat di wilayah pedalaman. Ia berharap seluruh tahapan pekerjaan dapat berjalan lancar hingga tuntas dan segera dimanfaatkan secara optimal oleh warga.

Dengan progres yang telah melampaui separuh tahapan pekerjaan, optimisme pun semakin menguat bahwa Jembatan Gantung Desa Burlah akan segera menjadi penghubung harapan, memperkuat konektivitas antarwilayah, serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah.