Debu Tak Pernah Usai, Warga Jalan Transito Kembali Jadi Korban Hauling PT LKT lauser karya tambang
Aceh Barat Daya | 10 Januari 2026—(Aceh dalam berita.com) Aktivitas hauling material biji besi milik PT Lauser Karya Tambang (PT LKT) kembali memantik amarah warga. Material yang selama ini menumpuk di lokasi penumpukan Desa Padang Baru, Kecamatan Susoh, terpantau diangkut tanpa disertai penyiraman jalan maupun upaya pengendalian debu.
Hilir mudik truk bermuatan berat memicu kepulan debu pekat yang menyelimuti Jalan Transito, jalur yang sejak lama dijadikan lintasan utama menuju pelabuhan dan lokasi penumpukan material biji besi oleh sejumlah perusahaan tambang di Aceh Barat Daya (Abdya). Debu beterbangan bebas, menempel di rumah warga, dan dihirup setiap hari oleh masyarakat yang tak punya pilihan lain selain bertahan di jalur tersebut.
Material milik PT LKT diketahui diangkut dari Padang Baru menuju lokasi pengolahan di Desa Babahrot. Namun sangat disayangkan, aktivitas yang menghasilkan keuntungan besar itu justru mengabaikan aspek paling mendasar: kesehatan lingkungan dan keselamatan warga.
“Sudah lama kami jadi korban. Debu ini bukan sehari dua hari, tapi bertahun-tahun. Setiap kali truk lewat, kami yang menanggung dampaknya,” ungkap salah seorang warga Jalan Transito dengan nada kesal.
Warga menilai regulasi hauling tambang selama ini seolah tidak pernah berpihak kepada masyarakat. Aturan ada, kewajiban penyiraman jelas, namun pelanggaran terus terjadi tanpa sanksi tegas. Pengawasan terkesan tumpul, bahkan nyaris tak terasa di lapangan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan keras di tengah masyarakat: haruskah menunggu keributan, korban jatuh, atau viral di media sosial baru hukum ditegakkan? Apakah keselamatan warga hanya dianggap penting setelah muncul kegaduhan publik?
Bagi warga Jalan Transito, debu tambang bukan lagi sekadar polusi, melainkan simbol pembiaran. Selama truk terus melaju tanpa kendali dan aturan hanya menjadi formalitas, maka selama itu pula masyarakat akan terus menjadi korban—korban dari aktivitas tambang yang berjalan tanpa nurani.
Wartawan Aceh dalam berita telah mengirimkan pesan chat melalui saluran WA kepada pengelola PT LKT namun tidak mendapatkan respon ,Sampai berita ini diterbitkan pihak dari PT lkt belum memberikan keterangan terkait kegiatan houling mereka

