Jembatan Bailey Modular di Desa Meriah Jaya Rampung, Akses Warga Kembali Normal Pasca Banjir dan Longsor

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Pembangunan Jembatan Bailey modular di Desa Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, resmi rampung dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat. Jembatan sepanjang 15 meter dengan konstruksi 5 petak tipe 2-1 tersebut dibangun sebagai solusi cepat atas terputusnya akses akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Peresmian dilaksanakan penuh khidmat.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan oleh prajurit dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina bersama personel Batalyon Zeni Konstruksi 13/Karya Etmaka yang bertindak sebagai operator alat berat (excavator). Sinergi kedua satuan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian TNI AD dalam membantu percepatan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak bencana.

Sebelumnya, derasnya arus banjir bandang yang disertai material lumpur dan bebatuan besar menyebabkan jembatan penghubung utama di desa tersebut mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat dilalui. Kondisi ini sempat menghambat aktivitas masyarakat, termasuk distribusi kebutuhan pokok, akses pendidikan, serta layanan kesehatan.

Dengan selesainya pembangunan Jembatan Bailey modular ini, akses transportasi warga kini kembali normal. Kehadiran jembatan tersebut tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian desa yang sempat terganggu.

Prosesi peresmian ditandai dengan tradisi peusijuk dan doa bersama yang diikuti oleh para prajurit serta masyarakat setempat. Suasana penuh rasa syukur dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas rampungnya pembangunan jembatan yang sangat dinantikan.

Salah seorang warga setempat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan serta kerja keras para prajurit dalam membangun kembali jembatan penghubung desa mereka. Ia menuturkan bahwa selama jembatan rusak, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang cukup jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah bekerja tanpa mengenal lelah. Sekarang anak-anak bisa kembali berangkat sekolah dengan aman dan para petani juga lebih mudah membawa hasil kebunnya,” ujarnya.

Ia juga berharap agar jembatan yang telah dibangun ini dapat dijaga dan dirawat bersama oleh seluruh masyarakat sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang serta tetap aman dilalui.

Pembangunan Jembatan Bailey modular ini menjadi bukti nyata komitmen TNI AD dalam membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana serta pemulihan infrastruktur vital. Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan, diharapkan Desa Meriah Jaya dapat bangkit dan berkembang lebih baik ke depannya.

Jembatan Bailey Modular di Desa Meriah Jaya Rampung, Akses Warga Kembali Normal Pasca Banjir dan Longsor

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Pembangunan Jembatan Bailey modular di Desa Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, resmi rampung dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat. Jembatan sepanjang 15 meter dengan konstruksi 5 petak tipe 2-1 tersebut dibangun sebagai solusi cepat atas terputusnya akses akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Peresmian dilaksanakan penuh khidmat.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan oleh prajurit dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina bersama personel Batalyon Zeni Konstruksi 13/Karya Etmaka yang bertindak sebagai operator alat berat (excavator). Sinergi kedua satuan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian TNI AD dalam membantu percepatan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak bencana.

Sebelumnya, derasnya arus banjir bandang yang disertai material lumpur dan bebatuan besar menyebabkan jembatan penghubung utama di desa tersebut mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat dilalui. Kondisi ini sempat menghambat aktivitas masyarakat, termasuk distribusi kebutuhan pokok, akses pendidikan, serta layanan kesehatan.

Dengan selesainya pembangunan Jembatan Bailey modular ini, akses transportasi warga kini kembali normal. Kehadiran jembatan tersebut tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian desa yang sempat terganggu.

Prosesi peresmian ditandai dengan tradisi peusijuk dan doa bersama yang diikuti oleh para prajurit serta masyarakat setempat. Suasana penuh rasa syukur dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas rampungnya pembangunan jembatan yang sangat dinantikan.

Salah seorang warga setempat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan serta kerja keras para prajurit dalam membangun kembali jembatan penghubung desa mereka. Ia menuturkan bahwa selama jembatan rusak, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang cukup jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah bekerja tanpa mengenal lelah. Sekarang anak-anak bisa kembali berangkat sekolah dengan aman dan para petani juga lebih mudah membawa hasil kebunnya,” ujarnya.

Ia juga berharap agar jembatan yang telah dibangun ini dapat dijaga dan dirawat bersama oleh seluruh masyarakat sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang serta tetap aman dilalui.

Pembangunan Jembatan Bailey modular ini menjadi bukti nyata komitmen TNI AD dalam membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana serta pemulihan infrastruktur vital. Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan, diharapkan Desa Meriah Jaya dapat bangkit dan berkembang lebih baik ke depannya.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW Salurkan Bantuan Perlengkapan

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Dengan penuh kepedulian dan semangat kebersamaan, Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) dari Yonzipur 5/ABW menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada ratusan siswa di Kabupaten Aceh Utara. Bantuan tersebut diberikan kepada 365 siswa SD Negeri 2 Langkahan serta 375 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 Aceh Utara, sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak bencana alam di wilayah tersebut.

Kegiatan sosial ini merupakan wujud nyata dukungan dan perhatian dari Kodam V/Brawijaya bersama para donatur dari Provinsi Jawa Timur yang secara konsisten menunjukkan solidaritas kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan yang disalurkan meliputi seragam sekolah, tas, serta berbagai alat tulis yang sangat dibutuhkan siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Penyaluran bantuan dilaksanakan secara tertib dan tepat sasaran, dengan melibatkan pihak sekolah serta tokoh masyarakat setempat guna memastikan seluruh siswa yang berhak dapat menerima manfaat secara merata. Kehadiran personel Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW di tengah-tengah para siswa dan dewan guru disambut dengan penuh antusias dan rasa syukur.

Di tengah keterbatasan akibat dampak bencana, wajah-wajah ceria anak-anak kembali terpancar saat menerima perlengkapan sekolah yang baru. Bagi mereka, tas dan seragam tersebut bukan sekadar kebutuhan pendidikan, melainkan simbol harapan dan semangat baru untuk kembali belajar dengan penuh percaya diri serta meraih cita-cita di masa depan.

Komandan Satgas menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen TNI Angkatan Darat untuk senantiasa hadir membantu kesulitan masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan pascabencana. Selain menjalankan tugas utama dalam penanganan bencana dan pembangunan infrastruktur darurat, Satgas juga berupaya memberikan dukungan moril dan sosial bagi masyarakat, terutama generasi muda sebagai aset bangsa.

“Setiap bantuan yang kami salurkan merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral untuk membantu meringankan beban masyarakat. Kami berharap perlengkapan sekolah ini dapat memotivasi anak-anak agar tetap semangat belajar dan tidak kehilangan harapan meski berada dalam situasi yang sulit,” ujarnya.

Melalui sinergi kemanusiaan antara TNI AD, para donatur, dan masyarakat, terjalin kebersamaan yang semakin kuat. Nilai gotong royong dan solidaritas menjadi fondasi penting dalam upaya pemulihan pascabencana, sekaligus mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam membangun semangat dan optimisme. Karena setiap senyum anak Indonesia adalah cerminan masa depan bangsa yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW Salurkan Bantuan Perlengkapan

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Dengan penuh kepedulian dan semangat kebersamaan, Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) dari Yonzipur 5/ABW menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada ratusan siswa di Kabupaten Aceh Utara. Bantuan tersebut diberikan kepada 365 siswa SD Negeri 2 Langkahan serta 375 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 Aceh Utara, sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak bencana alam di wilayah tersebut.

Kegiatan sosial ini merupakan wujud nyata dukungan dan perhatian dari Kodam V/Brawijaya bersama para donatur dari Provinsi Jawa Timur yang secara konsisten menunjukkan solidaritas kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan yang disalurkan meliputi seragam sekolah, tas, serta berbagai alat tulis yang sangat dibutuhkan siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Penyaluran bantuan dilaksanakan secara tertib dan tepat sasaran, dengan melibatkan pihak sekolah serta tokoh masyarakat setempat guna memastikan seluruh siswa yang berhak dapat menerima manfaat secara merata. Kehadiran personel Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW di tengah-tengah para siswa dan dewan guru disambut dengan penuh antusias dan rasa syukur.

Di tengah keterbatasan akibat dampak bencana, wajah-wajah ceria anak-anak kembali terpancar saat menerima perlengkapan sekolah yang baru. Bagi mereka, tas dan seragam tersebut bukan sekadar kebutuhan pendidikan, melainkan simbol harapan dan semangat baru untuk kembali belajar dengan penuh percaya diri serta meraih cita-cita di masa depan.

Komandan Satgas menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen TNI Angkatan Darat untuk senantiasa hadir membantu kesulitan masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan pascabencana. Selain menjalankan tugas utama dalam penanganan bencana dan pembangunan infrastruktur darurat, Satgas juga berupaya memberikan dukungan moril dan sosial bagi masyarakat, terutama generasi muda sebagai aset bangsa.

“Setiap bantuan yang kami salurkan merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral untuk membantu meringankan beban masyarakat. Kami berharap perlengkapan sekolah ini dapat memotivasi anak-anak agar tetap semangat belajar dan tidak kehilangan harapan meski berada dalam situasi yang sulit,” ujarnya.

Melalui sinergi kemanusiaan antara TNI AD, para donatur, dan masyarakat, terjalin kebersamaan yang semakin kuat. Nilai gotong royong dan solidaritas menjadi fondasi penting dalam upaya pemulihan pascabencana, sekaligus mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam membangun semangat dan optimisme. Karena setiap senyum anak Indonesia adalah cerminan masa depan bangsa yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama.

Asril Ibrahim : Kinerja Bupati Aceh Timur Dinilai Lebih Banyak Konsep Ketimbang Realisasi

Aceh Timur ( Aceh dalam berita ) Jum’at 28-2-2026 Kinerja Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky mulai menjadi sorotan sejumlah kalangan masyarakat. Sejak resmi dilantik pada 19 Maret 2025, hingga mendekati satu tahun masa kepemimpinan, keduanya dinilai belum menunjukkan langkah konkret yang signifikan dalam merealisasikan program-program unggulan yang pernah dijanjikan saat kampanye.

Sejumlah pihak menilai, berbagai kegiatan seperti inspeksi mendadak (sidak) maupun kunjungan ke instansi di bawah naungan pemerintah daerah lebih terkesan sebagai rutinitas seremonial. Hingga kini, implementasi program prioritas yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dinilai belum terlihat secara nyata.

“Sejauh ini yang terlihat lebih banyak konsep dan wacana. Realisasi program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat belum tampak signifikan,” ujar Asril Ibrahim Tokoh Masyarakat Aceh Timur Idi Rayeuk kepa media di Aceh Timur.

Di sisi lain, geliat pembangunan yang tampak di beberapa titik wilayah dinilai bukan sepenuhnya merupakan hasil inisiatif pemerintah kabupaten. Sebagaimana diketahui, Aceh Timur merupakan salah satu daerah yang terdampak cukup parah akibat banjir bandang pada akhir tahun 2025. Kondisi tersebut secara otomatis menarik perhatian pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk melakukan percepatan rehabilitasi dan pemulihan infrastruktur serta kehidupan sosial masyarakat.

“Kalaupun ada denyut pembangunan, itu lebih karena faktor penanganan pascabanjir. Itu memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah di semua tingkatan untuk memastikan daerah terdampak segera pulih,” tambah Asril.

Masyarakat Aceh Timur saat ini berharap agar pasangan kepala daerah tersebut segera membuktikan komitmen politiknya melalui program yang terukur dan berdampak langsung. Janji-janji kampanye yang dahulu digaungkan dinilai perlu segera direalisasikan agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Selain dinilai minim realisasi program prioritas, lambannya pembangunan juga disebut-sebut berkaitan dengan belum tertatanya struktur birokrasi secara definitif. Hingga kini, banyak jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang masih diisi oleh pejabat berstatus Pelaksana Tugas (Plt), baik pada level kepala dinas maupun pejabat struktural eselon III dan IV.

Kondisi tersebut dinilai berdampak pada kurang optimalnya pengambilan kebijakan dan percepatan program kerja. “Bagaimana mungkin akselerasi pembangunan bisa berjalan maksimal jika hampir satu tahun masih banyak jabatan penting berstatus Plt. Ini tentu memengaruhi stabilitas dan keberanian dalam mengambil keputusan,”ujar Asril

Menurutnya, hingga saat ini pejabat yang telah didefinitifkan secara luas justru berada di level pemerintahan desa, yakni kepala desa (keuchik) yang langsung dilantik oleh Bupati. Sementara pada level organisasi perangkat daerah (OPD), proses penetapan pejabat definitif dinilai berjalan lamban.

Sejumlah pengamat menilai bahwa ketidakpastian jabatan dalam waktu yang cukup panjang berpotensi menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. Bahkan muncul dugaan adanya dinamika politik atau pertimbangan non-teknis dalam proses pengisian jabatan tersebut. Namun demikian, dugaan tersebut masih sebatas persepsi publik dan belum dapat dibuktikan secara faktual.

“Di beberapa daerah lain, dalam rentang waktu yang sama, proses penataan birokrasi sudah selesai bahkan sudah beberapa kali dilakukan pelantikan pejabat struktural. Sementara di Aceh Timur, masyarakat masih menunggu kepastian,” tambah Asril.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Timur segera melakukan penataan birokrasi secara profesional dan transparan agar roda pemerintahan berjalan efektif. Kepastian kepemimpinan di tingkat OPD dinilai menjadi salah satu kunci percepatan realisasi program pembangunan dan pemulihan ekonomi masyarakat, terutama pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025 lalu.Pungkas Asril Ibrahim.

Pembangunan Jembatan Perintis Dusun Gantung Langit, Aceh Tengah terus dikebut, Progres capai 51,8 Persen.

Takengon ( Aceh dalam berita ) Jum’at 27-2-2026 Pembangunan Jembatan Gantung di Dusun Gantung Langit, Desa Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. progres pengerjaan fisik telah mencapai 51,8 persen dari total target pembangunan yang telah direncanakan sebelumnya.

Jembatan gantung sepanjang 75 meter ini dibangun sebagai sarana penghubung vital bagi masyarakat Desa Burni Bius, khususnya warga Dusun Gantung Langit, yang selama ini menghadapi keterbatasan akses transportasi. Pada musim hujan, peningkatan debit air sungai kerap menghambat aktivitas warga. Tidak jarang masyarakat harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu demi mencapai kebun, sekolah, fasilitas kesehatan, maupun kampung tetangga.

Kehadiran jembatan gantung ini diharapkan mampu menjadi solusi atas kendala tersebut. Selain memperlancar mobilitas warga, jembatan ini juga akan mempermudah distribusi hasil pertanian yang menjadi sumber utama penghasilan masyarakat setempat. Dengan akses yang lebih baik, roda perekonomian desa diyakini akan semakin berkembang.

Pembangunan jembatan ini berada di wilayah binaan Koramil 08/Silih Nara yang merupakan bagian dari jajaran Kodim 0106/Aceh Tengah. Dalam pelaksanaannya, personel Kodim diterjunkan langsung ke lokasi bersama personel Yon TP 854/DK. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat setempat yang turut membantu proses pengerjaan di lapangan secara bergotong royong.

Adapun progres pekerjaan yang telah dicapai saat ini meliputi pemasangan jari-jari penahan sebagai penguat konstruksi utama jembatan, pengecoran pondasi sayap guna memperkokoh struktur penopang, serta pengecatan tiang besi B1 untuk mencegah korosi dan meningkatkan daya tahan material terhadap pengaruh cuaca. Seluruh tahapan pengerjaan dilaksanakan secara cermat dan terukur dengan tetap mengedepankan standar kualitas konstruksi serta faktor keamanan demi menjamin kekuatan dan umur panjang jembatan.

Para prajurit di lapangan terus mengoptimalkan pengerjaan agar pembangunan dapat selesai tepat waktu sesuai target yang telah ditentukan. Selain mengejar progres, kualitas konstruksi tetap menjadi prioritas utama. Setiap proses dilakukan secara maksimal dengan memperhatikan aspek teknis dan keselamatan kerja, sehingga hasil akhir nantinya benar-benar kokoh dan aman digunakan masyarakat dalam jangka panjang.

Semangat gotong royong dan kebersamaan antara TNI dan warga menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran pembangunan ini. Partisipasi aktif masyarakat tidak hanya mempercepat progres pekerjaan, tetapi juga mencerminkan tingginya kepedulian dan rasa memiliki terhadap infrastruktur yang sedang dibangun di desa mereka.

Pembangunan infrastruktur seperti jembatan gantung memiliki dampak strategis terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Akses yang lebih mudah akan mempermudah anak-anak menuju sekolah tanpa khawatir terhambat kondisi sungai, mempercepat jangkauan layanan kesehatan, serta menunjang aktivitas ekonomi warga, khususnya para petani dalam mengangkut hasil panen ke pasar.

Salah seorang warga Desa Burni Bius, Murdani (50), menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas pembangunan jembatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya pembangunan jembatan ini. Selama ini kalau air sungai naik, kami harus memutar cukup jauh untuk ke kebun atau ke kampung sebelah. Dengan adanya jembatan gantung ini, tentu akan sangat membantu aktivitas kami sehari-hari. Terima kasih kepada TNI dan semua pihak yang telah membantu,” ungkapnya.

Dengan semangat kebersamaan dan kerja sama yang solid antara TNI dan masyarakat, pembangunan Jembatan Gantung Dusun Gantung Langit diharapkan dapat segera rampung sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kehadirannya kelak diyakini akan menjadi infrastruktur vital yang membawa manfaat besar dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Burni Bius serta wilayah sekitarnya, sekaligus menjadi simbol nyata sinergi TNI dan rakyat dalam membangun desa.

Pembangunan Jembatan Perintis Dusun Gantung Langit, Aceh Tengah terus dikebut, Progres capai 51,8 Persen.

Takengon ( Aceh dalam berita ) Jum’at 27-2-2026 Pembangunan Jembatan Gantung di Dusun Gantung Langit, Desa Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. progres pengerjaan fisik telah mencapai 51,8 persen dari total target pembangunan yang telah direncanakan sebelumnya.

Jembatan gantung sepanjang 75 meter ini dibangun sebagai sarana penghubung vital bagi masyarakat Desa Burni Bius, khususnya warga Dusun Gantung Langit, yang selama ini menghadapi keterbatasan akses transportasi. Pada musim hujan, peningkatan debit air sungai kerap menghambat aktivitas warga. Tidak jarang masyarakat harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu demi mencapai kebun, sekolah, fasilitas kesehatan, maupun kampung tetangga.

Kehadiran jembatan gantung ini diharapkan mampu menjadi solusi atas kendala tersebut. Selain memperlancar mobilitas warga, jembatan ini juga akan mempermudah distribusi hasil pertanian yang menjadi sumber utama penghasilan masyarakat setempat. Dengan akses yang lebih baik, roda perekonomian desa diyakini akan semakin berkembang.

Pembangunan jembatan ini berada di wilayah binaan Koramil 08/Silih Nara yang merupakan bagian dari jajaran Kodim 0106/Aceh Tengah. Dalam pelaksanaannya, personel Kodim diterjunkan langsung ke lokasi bersama personel Yon TP 854/DK. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat setempat yang turut membantu proses pengerjaan di lapangan secara bergotong royong.

Adapun progres pekerjaan yang telah dicapai saat ini meliputi pemasangan jari-jari penahan sebagai penguat konstruksi utama jembatan, pengecoran pondasi sayap guna memperkokoh struktur penopang, serta pengecatan tiang besi B1 untuk mencegah korosi dan meningkatkan daya tahan material terhadap pengaruh cuaca. Seluruh tahapan pengerjaan dilaksanakan secara cermat dan terukur dengan tetap mengedepankan standar kualitas konstruksi serta faktor keamanan demi menjamin kekuatan dan umur panjang jembatan.

Para prajurit di lapangan terus mengoptimalkan pengerjaan agar pembangunan dapat selesai tepat waktu sesuai target yang telah ditentukan. Selain mengejar progres, kualitas konstruksi tetap menjadi prioritas utama. Setiap proses dilakukan secara maksimal dengan memperhatikan aspek teknis dan keselamatan kerja, sehingga hasil akhir nantinya benar-benar kokoh dan aman digunakan masyarakat dalam jangka panjang.

Semangat gotong royong dan kebersamaan antara TNI dan warga menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran pembangunan ini. Partisipasi aktif masyarakat tidak hanya mempercepat progres pekerjaan, tetapi juga mencerminkan tingginya kepedulian dan rasa memiliki terhadap infrastruktur yang sedang dibangun di desa mereka.

Pembangunan infrastruktur seperti jembatan gantung memiliki dampak strategis terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Akses yang lebih mudah akan mempermudah anak-anak menuju sekolah tanpa khawatir terhambat kondisi sungai, mempercepat jangkauan layanan kesehatan, serta menunjang aktivitas ekonomi warga, khususnya para petani dalam mengangkut hasil panen ke pasar.

Salah seorang warga Desa Burni Bius, Murdani (50), menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas pembangunan jembatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya pembangunan jembatan ini. Selama ini kalau air sungai naik, kami harus memutar cukup jauh untuk ke kebun atau ke kampung sebelah. Dengan adanya jembatan gantung ini, tentu akan sangat membantu aktivitas kami sehari-hari. Terima kasih kepada TNI dan semua pihak yang telah membantu,” ungkapnya.

Dengan semangat kebersamaan dan kerja sama yang solid antara TNI dan masyarakat, pembangunan Jembatan Gantung Dusun Gantung Langit diharapkan dapat segera rampung sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kehadirannya kelak diyakini akan menjadi infrastruktur vital yang membawa manfaat besar dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Burni Bius serta wilayah sekitarnya, sekaligus menjadi simbol nyata sinergi TNI dan rakyat dalam membangun desa.

Di Bulan Ramadan 1447 H, Polda Aceh Bagikan 2,7 Ton Kurma Tahap I ke 53 Lokasi di Banda Aceh dan Aceh Besar

BANDA ACEH ( Aceh dalam berita ) Jum’at 27-2-2026 Polda Aceh melalui Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) kembali menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat dengan menyalurkan bantuan kurma tahap I sebanyak 2,7 ton atau 2.700 kilogram selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Bantuan tersebut didistribusikan ke 53 lokasi yang tersebar di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Pembagian kurma ini merupakan wujud perhatian Kapolda Aceh dalam berbagi di bulan Ramadan, sekaligus mendukung kebutuhan berbuka puasa masyarakat di berbagai gampong, dayah, masjid, meunasah, panti asuhan, hingga komunitas pekerja.

KabidHumas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, S. I. K, dalam keterangannya menyampaikan bahwa, kegiatan tersebut merupakan penyaluran tahap pertama yang dilaksanakan oleh Ditbinmas Polda Aceh.

“Pembagian kurma ini merupakan tahap I. Total sebanyak 2,7 ton kurma disalurkan ke 53 lokasi di Banda Aceh dan Aceh Besar. Ini adalah bentuk kepedulian dan kebersamaan Polda Aceh dengan masyarakat dalam menyambut dan mengisi bulan suci Ramadan,” ujarnya.

Adapun lokasi penerima bantuan meliputi sejumlah dayah, pesantren, masjid, meunasah, panti asuhan, perguruan tinggi, perkantoran, hingga komunitas transportasi dan pekerja informal. Masing-masing lokasi menerima bantuan rata-rata 50 kilogram kurma, sementara beberapa titik seperti petugas parkir dan komunitas becak di Masjid Raya menerima 75 kilogram.

Secara keseluruhan, total kurma yang dibagikan pada tahap pertama ini mencapai 2.700 kilogram atau 2,7 ton.

Kabid Humas menjelaskan bantuan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya sebagai tambahan menu berbuka puasa selama Ramadan.

Semoga bantuan kurma ini dapat membantu dan bermanfaat bagi masyarakat dalam menjalani ibadah puasa, serta semakin mempererat silaturahmi antara Polri dan masyarakat, harapnya.

Kegiatan sosial ini menjadi bagian dari komitmen Polda Aceh dalam menghadirkan institusi Polri yang humanis dan penuh ketulusan dalam melayani masyarakat, sejalan dengan semangat “Polda Aceh Meutuah, Menuju Aceh Meusyeuhu,” pungkas Kabid Humas.

Mewakili Kapolda Aceh, Ditlantas dan Polresta Banda Aceh Laksanakan Survei Teknis Traffic Light Guna Optimalisasi Manajemen Lalu Lintas Perkotaan

Banda Aceh  ( Aceh dalam berita ) Jum’at 27-2-2026 Ditlantas Polda Aceh bersama Polresta Banda Aceh melaksanakan survei dan evaluasi kinerja Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) di Simpang Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (USK), Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, pukul 07.00 WIB.

Kegiatan tersebut dilaksanakan mewakili Kapolda Aceh Irjen Pol Drs, Marzuki Ali Basyah., M.M dan dipimpin oleh Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol. Andi Kirana, didampingi Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Aceh AKBP Sabri yang mewakili Dirlantas Polda Aceh, serta diikuti jajaran Ditlantas Polda Aceh, Satlantas Polresta Banda Aceh, dan personel Bidhumas Polda Aceh.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, S.I.K., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah preventif guna memastikan optimalisasi fungsi traffic light pada salah satu simpang dengan mobilitas tinggi, khususnya pada jam sibuk aktivitas mahasiswa dan masyarakat.

“Evaluasi ini bertujuan menilai kesesuaian durasi lampu merah, kuning, dan hijau dengan volume arus kendaraan, mengidentifikasi potensi kemacetan maupun kecelakaan, serta mengukur tingkat kepatuhan pengguna jalan,” ujar Joko.

Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan durasi nyala lampu sebagai berikut:
Arah Gerbang Kopelma: Merah 65 detik, Kuning 1 detik, Hijau 12 detik.
Arah FKIP USK: Merah 65 detik, Kuning 1 detik, Hijau 14 detik.
Arah Tungkop: Merah 65 detik, Kuning 1 detik, Hijau 14 detik.
Arah UIN Ar-Raniry: Merah 54 detik, Hijau 12 detik.

Selain evaluasi teknis, petugas juga mendapati adanya pengguna jalan yang tidak tertib dengan menerobos lampu lalu lintas. Personel di lapangan memberikan imbauan secara humanis guna meningkatkan disiplin dan kesadaran keselamatan berlalu lintas.

Sebagai tindak lanjut, Ditlantas Polda Aceh dan Polresta Banda Aceh akan menempatkan personel pada titik strong point di jam rawan kepadatan serta berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Aceh selaku penanggung jawab teknis APILL untuk melakukan evaluasi dan penyesuaian manajemen rekayasa lalu lintas apabila diperlukan.

“Kehadiran jajaran Polda Aceh di lapangan merupakan wujud komitmen dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Diharapkan melalui langkah preventif dan kolaboratif ini, situasi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas tetap terjaga secara optimal,” tutup Kabidhumas.

Upaya ini sekaligus menegaskan peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat dalam membangun budaya tertib berlalu lintas di Kota Banda Aceh.

Mewakili Kapolda Aceh, Ditlantas dan Polresta Banda Aceh Laksanakan Survei Teknis Traffic Light Guna Optimalisasi Manajemen Lalu Lintas Perkotaan

Banda Aceh  ( Aceh dalam berita ) Jum’at 27-2-2026 Ditlantas Polda Aceh bersama Polresta Banda Aceh melaksanakan survei dan evaluasi kinerja Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) di Simpang Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (USK), Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, pukul 07.00 WIB.

Kegiatan tersebut dilaksanakan mewakili Kapolda Aceh Irjen Pol Drs, Marzuki Ali Basyah., M.M dan dipimpin oleh Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol. Andi Kirana, didampingi Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Aceh AKBP Sabri yang mewakili Dirlantas Polda Aceh, serta diikuti jajaran Ditlantas Polda Aceh, Satlantas Polresta Banda Aceh, dan personel Bidhumas Polda Aceh.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Joko Krisdiyanto, S.I.K., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah preventif guna memastikan optimalisasi fungsi traffic light pada salah satu simpang dengan mobilitas tinggi, khususnya pada jam sibuk aktivitas mahasiswa dan masyarakat.

“Evaluasi ini bertujuan menilai kesesuaian durasi lampu merah, kuning, dan hijau dengan volume arus kendaraan, mengidentifikasi potensi kemacetan maupun kecelakaan, serta mengukur tingkat kepatuhan pengguna jalan,” ujar Joko.

Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan durasi nyala lampu sebagai berikut:
Arah Gerbang Kopelma: Merah 65 detik, Kuning 1 detik, Hijau 12 detik.
Arah FKIP USK: Merah 65 detik, Kuning 1 detik, Hijau 14 detik.
Arah Tungkop: Merah 65 detik, Kuning 1 detik, Hijau 14 detik.
Arah UIN Ar-Raniry: Merah 54 detik, Hijau 12 detik.

Selain evaluasi teknis, petugas juga mendapati adanya pengguna jalan yang tidak tertib dengan menerobos lampu lalu lintas. Personel di lapangan memberikan imbauan secara humanis guna meningkatkan disiplin dan kesadaran keselamatan berlalu lintas.

Sebagai tindak lanjut, Ditlantas Polda Aceh dan Polresta Banda Aceh akan menempatkan personel pada titik strong point di jam rawan kepadatan serta berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Provinsi Aceh selaku penanggung jawab teknis APILL untuk melakukan evaluasi dan penyesuaian manajemen rekayasa lalu lintas apabila diperlukan.

“Kehadiran jajaran Polda Aceh di lapangan merupakan wujud komitmen dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Diharapkan melalui langkah preventif dan kolaboratif ini, situasi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas tetap terjaga secara optimal,” tutup Kabidhumas.

Upaya ini sekaligus menegaskan peran Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat dalam membangun budaya tertib berlalu lintas di Kota Banda Aceh.