Bank Aceh Hadirkan “Gampong Ramadhan in Action 2026” di Masjid Raya Baiturrahman, Dapatkan Promo Belanja Hanya Rp. 1

Banda Aceh ( Aceh dalam berita ) Minggu 1-3-2026 Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan, Bank Aceh dengan bangga mempersembahkan Gampong Ramadhan in Action 2026. Acara ini merupakan bagian utama dari rangkaian Aceh Ramadhan Festival 2026 yang telah masuk dalam agenda bergengsi Kharisma Event Nusantara (KEN).

​Kegiatan ini akan dipusatkan di kawasan ikonik Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, mulai tanggal 1 hingga 7 Maret 2026. “Bank Aceh mengundang seluruh lapisan masyarakat untuk hadir dan merasakan pengalaman spiritual serta keseruan festival yang autentik”, ujar Fadhil Direktur Utama Bank Aceh.

​Gampong Ramadhan in Action akan dimeriahkan oleh berbagai program yang mengombinasikan pemberdayaan ekonomi umat dengan syiar Islam, di antaranya menghadirkan 70 stand bazar UMKM produk kuliner dan fashion pilihan dari pelaku usaha binaan dengan harga yang lebih terjangkau. Talkshow Interaktif Edukasi keuangan syariah bersama pakar dari Bank Aceh, Bank Indonesia, dan OJK. Fashion Street Ramadhan yang menampilkan tren busana muslim lokal yang modest dan elegan.Pameran & Lomba mulai dari pameran artefak Islam, mushaf Al-Qur’an, hingga lomba kaligrafi nasional. Serta program Bank Aceh Ramadhan Berbagi: Kegiatan sosial dan tadarus bersama untuk mempererat silaturahmi.

​Fadhil menambahkan bagi pengunjung yang hadir, Bank Aceh menyediakan berbagai keuntungan melalui aplikasi Action Mobile yaitu Voucher Belanja Cukup scan QRIS senilai Rp1, dapatkan voucher belanja senilai Rp10.000 di merchant terpilih. Juga tersedia programRacing Merchant & Transaksi dengan Hadiah total belasan juta rupiah bagi merchant dan pengguna Action Mobile dengan frekuensi transaksi tertinggi.

​”Kami ingin menjadikan Ramadhan tahun ini lebih bermakna. Melalui Gampong Ramadhan in Action, kami menyediakan ruang bagi UMKM untuk berkembang sekaligus memberikan hiburan edukatif bagi masyarakat. Mari ajak keluarga dan kerabat untuk berkunjung, berbelanja produk lokal, dan menikmati suasana religius di jantung kota Banda Aceh,” ujar Fadhil.

​Jangan lewatkan kesempatan untuk berburu kuliner berbuka puasa, melihat pameran bersejarah, hingga berswafoto di Photo Booth estetik yang telah disediakan.
​Sampai jumpa di Gampong Ramadhan in Action 2026!

249 Mahasiswa STIK Selesai Pengabdian Masyarakat di Aceh, Wakapolda Pimpin Apel Pelepasan

Banda Aceh ( Aceh dalam berita ) Minggu 1-3-2026 Wakapolda Aceh, Brigjen Pol. Ari Wahyu Widodo, S.I.K., memimpin apel pelepasan 249 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Angkatan ke-83/WPS yang telah menuntaskan tugas Pengabdian Masyarakat (Dianmas) di sejumlah daerah terdampak bencana di Provinsi Aceh.

Apel pelepasan berlangsung di Meuligoe Polda Aceh yang dihadiri para Paping mahasiswa STIK, seluruh mahasiswa peserta Dianmas, Irwasda Polda Aceh, Karo SDM Polda Aceh, Kabidpropam Polda Aceh, Kabidhumas Polda Aceh, serta tamu undangan lainnya.

Dalam amanat Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M. M, yang dibacakan Wakapolda Aceh, mengatakan bahwa sejak 9 Februari 2026, sebanyak 249 mahasiswa STIK Angkatan ke-83/WPS telah tiba di Aceh untuk melaksanakan Dianmas di 12 kabupaten/kota terdampak bencana alam.

Disebutkan, kehadiran para mahasiswa bukan sekadar bagian dari kurikulum pendidikan, melainkan wujud komitmen Polri dalam menyiapkan pemimpin masa depan yang tidak hanya cakap secara konseptual, tetapi juga teruji secara moral, emosional, dan sosial di tengah masyarakat.

“Penugasan tersebut menuntut kepekaan, kemampuan adaptasi, serta kepemimpinan lapangan yang nyata. Dalam situasi pascabencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga kehadiran negara yang menenangkan, menguatkan, dan memberikan harapan. Di sinilah saudara hadir sebagai wajah Polri yang humanis dan solutif,” demikian amanat Kapolda Aceh.

Selama pelaksanaan Dianmas, para mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, antara lain penyaluran bantuan, pembersihan fasilitas umum, pemberian trauma healing, pelayanan kesehatan, serta kegiatan sosial lainnya. Kegiatan tersebut dinilai tidak hanya mempercepat pemulihan fisik pascabencana, tetapi juga membangun kembali optimisme masyarakat.

Kapolda Aceh juga menyampaikan bahwa pada Rapim Polda Aceh tanggal 24 Februari 2026 lalu, telah diberikan penghargaan kepada para Paping dan perwakilan mahasiswa STIK Angkatan ke-83 sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusi nyata yang telah diberikan.

“Penghargaan tersebut merupakan refleksi bahwa kerja keras, loyalitas, dan keikhlasan tidak pernah luput dari perhatian,” ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan, pengalaman selama melaksanakan Dianmas di Aceh hendaknya menjadi laboratorium kepemimpinan yang sangat berharga. Para mahasiswa belajar bahwa memimpin bukan sekadar memberi perintah, tetapi juga mendengar; bukan hanya mengatur, tetapi merasakan; serta tidak sekadar hadir secara fisik, melainkan hadir dengan empati.
Ke depan, para mahasiswa akan mengemban amanah yang lebih besar sebagai perwira Polri dengan tantangan tugas yang semakin kompleks. Karena itu, mereka diharapkan menanamkan nilai integritas, profesionalisme, dan kemanusiaan dalam setiap pelaksanaan tugas.

Menutup amanatnya, Kapolda Aceh menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada para Paping dan seluruh mahasiswa STIK Angkatan ke-83/WPS atas dedikasi, disiplin, serta semangat pengabdian selama pelaksanaan Dianmas di wilayah hukum Polda Aceh.

“Saudara telah bekerja dengan penuh tanggung jawab, menjaga nama baik institusi, serta memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, aman, dan selaras dengan tujuan pendidikan. Semoga seluruh pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran yang telah dicurahkan menjadi amal pengabdian yang bernilai dan membanggakan, baik bagi institusi maupun bagi diri pribadi,” pungkas Kapolda Aceh dalam amanatnya.

Pembangunan Jembatan Bailey di Lukup Sabun Barat Capai 20 Persen, Perkuat Konektivitas Antar Desa di Kute Panang

Aceh Tengah ( Aceh dalam berita ) Minggu 1-3-2026 Pembangunan Jembatan Bailey di Desa Lukup Sabun Barat, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah, terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. progres pengerjaan fisik jembatan telah mencapai 20 persen dan seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai dengan perencanaan teknis yang telah disusun sebelumnya.

Jembatan tipe konvensional dengan panjang bentang 12 meter tersebut dibangun menggunakan material Bailey, yang dikenal memiliki kekuatan struktur tinggi, fleksibel, serta efektif dalam proses pemasangannya. Pembangunan jembatan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat akses penghubung antar desa yang selama ini menjadi jalur vital bagi masyarakat dalam menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

Pengerjaan konstruksi dilaksanakan oleh delapan personel Satgas Gulbencal dari Kodim 0106/Aceh Tengah bersama personel Satuan Zeni Angkatan Darat (Zidam). Para prajurit bekerja secara profesional dan terukur dengan tetap mengutamakan standar keamanan dan kualitas konstruksi. Di lapangan, setiap tahapan mulai dari persiapan fondasi, perakitan rangka baja, hingga penyesuaian struktur dilakukan dengan penuh ketelitian guna memastikan hasil akhir yang kokoh dan aman digunakan.

Selain keterlibatan personel TNI, pembangunan jembatan ini juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat. Warga secara sukarela turut membantu proses pengerjaan, baik dalam penyediaan tenaga tambahan, pengangkutan material, maupun pekerjaan pendukung lainnya. Semangat gotong royong yang terjalin antara TNI dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat progres pembangunan.

Meskipun capaian saat ini baru mencapai 20 persen, seluruh rangkaian pekerjaan berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Para prajurit terus mengoptimalkan tenaga, waktu, serta koordinasi di lapangan agar pembangunan dapat selesai tepat waktu sesuai target yang telah ditetapkan. Pengawasan teknis juga dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas konstruksi tetap terjaga.

Pembangunan Jembatan Bailey ini tidak hanya berorientasi pada penyelesaian fisik semata, namun juga menitikberatkan pada kekuatan dan daya tahan struktur dalam jangka panjang. Jembatan dirancang agar mampu dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat secara aman, sehingga benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat pengguna.

Adapun ruas jalan yang akan terhubung melalui jembatan ini meliputi Desa Ratawali, Desa Tawardi, Desa Tawarmiko, Desa Lukup Sabun, Desa Lukup Sabun Tengah, hingga Desa Lukup Sabun Barat di Kecamatan Kute Panang. Selama ini, akses di jalur tersebut kerap mengalami hambatan, terutama pada musim hujan ketika debit air sungai meningkat. Kondisi tersebut sering memperlambat mobilitas warga, termasuk dalam mendistribusikan hasil pertanian ke pasar.

Salah seorang warga Desa Lukup Sabun Barat, Rahmat (45), menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, keberadaan jembatan Bailey sangat dinantikan oleh masyarakat karena menjadi penghubung utama antar desa.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas pembangunan jembatan ini. Selama ini kalau air sungai naik, kami kesulitan membawa hasil kebun ke pasar. Dengan adanya jembatan ini nanti, akses akan lebih mudah dan aman,” ungkapnya.

Diketahui, sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di Kecamatan Kute Panang. Komoditas seperti kopi, sayur-mayur, serta berbagai hasil perkebunan lainnya merupakan sumber penghasilan utama warga. Dengan terbangunnya jembatan ini, distribusi hasil pertanian diharapkan menjadi lebih lancar, efisien, dan tidak lagi terhambat oleh kondisi cuaca.

Melalui sinergi yang solid antara TNI dan masyarakat, progres pembangunan Jembatan Bailey di Desa Lukup Sabun Barat diharapkan terus meningkat hingga selesai sesuai jadwal. Kehadiran jembatan ini nantinya tidak hanya memperkuat konektivitas antar desa, tetapi juga menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Kabupaten Aceh Tengah secara berkelanjutan.

Pembangunan Jembatan Bailey di Lukup Sabun Barat Capai 20 Persen, Perkuat Konektivitas Antar Desa di Kute Panang

Aceh Tengah ( Aceh dalam berita ) Minggu 1-3-2026 Pembangunan Jembatan Bailey di Desa Lukup Sabun Barat, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah, terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. progres pengerjaan fisik jembatan telah mencapai 20 persen dan seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai dengan perencanaan teknis yang telah disusun sebelumnya.

Jembatan tipe konvensional dengan panjang bentang 12 meter tersebut dibangun menggunakan material Bailey, yang dikenal memiliki kekuatan struktur tinggi, fleksibel, serta efektif dalam proses pemasangannya. Pembangunan jembatan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat akses penghubung antar desa yang selama ini menjadi jalur vital bagi masyarakat dalam menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.

Pengerjaan konstruksi dilaksanakan oleh delapan personel Satgas Gulbencal dari Kodim 0106/Aceh Tengah bersama personel Satuan Zeni Angkatan Darat (Zidam). Para prajurit bekerja secara profesional dan terukur dengan tetap mengutamakan standar keamanan dan kualitas konstruksi. Di lapangan, setiap tahapan mulai dari persiapan fondasi, perakitan rangka baja, hingga penyesuaian struktur dilakukan dengan penuh ketelitian guna memastikan hasil akhir yang kokoh dan aman digunakan.

Selain keterlibatan personel TNI, pembangunan jembatan ini juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat. Warga secara sukarela turut membantu proses pengerjaan, baik dalam penyediaan tenaga tambahan, pengangkutan material, maupun pekerjaan pendukung lainnya. Semangat gotong royong yang terjalin antara TNI dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat progres pembangunan.

Meskipun capaian saat ini baru mencapai 20 persen, seluruh rangkaian pekerjaan berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Para prajurit terus mengoptimalkan tenaga, waktu, serta koordinasi di lapangan agar pembangunan dapat selesai tepat waktu sesuai target yang telah ditetapkan. Pengawasan teknis juga dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas konstruksi tetap terjaga.

Pembangunan Jembatan Bailey ini tidak hanya berorientasi pada penyelesaian fisik semata, namun juga menitikberatkan pada kekuatan dan daya tahan struktur dalam jangka panjang. Jembatan dirancang agar mampu dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat secara aman, sehingga benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat pengguna.

Adapun ruas jalan yang akan terhubung melalui jembatan ini meliputi Desa Ratawali, Desa Tawardi, Desa Tawarmiko, Desa Lukup Sabun, Desa Lukup Sabun Tengah, hingga Desa Lukup Sabun Barat di Kecamatan Kute Panang. Selama ini, akses di jalur tersebut kerap mengalami hambatan, terutama pada musim hujan ketika debit air sungai meningkat. Kondisi tersebut sering memperlambat mobilitas warga, termasuk dalam mendistribusikan hasil pertanian ke pasar.

Salah seorang warga Desa Lukup Sabun Barat, Rahmat (45), menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas pembangunan jembatan tersebut. Menurutnya, keberadaan jembatan Bailey sangat dinantikan oleh masyarakat karena menjadi penghubung utama antar desa.

“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas pembangunan jembatan ini. Selama ini kalau air sungai naik, kami kesulitan membawa hasil kebun ke pasar. Dengan adanya jembatan ini nanti, akses akan lebih mudah dan aman,” ungkapnya.

Diketahui, sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di Kecamatan Kute Panang. Komoditas seperti kopi, sayur-mayur, serta berbagai hasil perkebunan lainnya merupakan sumber penghasilan utama warga. Dengan terbangunnya jembatan ini, distribusi hasil pertanian diharapkan menjadi lebih lancar, efisien, dan tidak lagi terhambat oleh kondisi cuaca.

Melalui sinergi yang solid antara TNI dan masyarakat, progres pembangunan Jembatan Bailey di Desa Lukup Sabun Barat diharapkan terus meningkat hingga selesai sesuai jadwal. Kehadiran jembatan ini nantinya tidak hanya memperkuat konektivitas antar desa, tetapi juga menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah Kabupaten Aceh Tengah secara berkelanjutan.

Jembatan Bailey Modular di Desa Meriah Jaya Rampung, Akses Warga Kembali Normal Pasca Banjir dan Longsor

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Pembangunan Jembatan Bailey modular di Desa Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, resmi rampung dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat. Jembatan sepanjang 15 meter dengan konstruksi 5 petak tipe 2-1 tersebut dibangun sebagai solusi cepat atas terputusnya akses akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Peresmian dilaksanakan penuh khidmat.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan oleh prajurit dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina bersama personel Batalyon Zeni Konstruksi 13/Karya Etmaka yang bertindak sebagai operator alat berat (excavator). Sinergi kedua satuan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian TNI AD dalam membantu percepatan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak bencana.

Sebelumnya, derasnya arus banjir bandang yang disertai material lumpur dan bebatuan besar menyebabkan jembatan penghubung utama di desa tersebut mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat dilalui. Kondisi ini sempat menghambat aktivitas masyarakat, termasuk distribusi kebutuhan pokok, akses pendidikan, serta layanan kesehatan.

Dengan selesainya pembangunan Jembatan Bailey modular ini, akses transportasi warga kini kembali normal. Kehadiran jembatan tersebut tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian desa yang sempat terganggu.

Prosesi peresmian ditandai dengan tradisi peusijuk dan doa bersama yang diikuti oleh para prajurit serta masyarakat setempat. Suasana penuh rasa syukur dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas rampungnya pembangunan jembatan yang sangat dinantikan.

Salah seorang warga setempat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan serta kerja keras para prajurit dalam membangun kembali jembatan penghubung desa mereka. Ia menuturkan bahwa selama jembatan rusak, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang cukup jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah bekerja tanpa mengenal lelah. Sekarang anak-anak bisa kembali berangkat sekolah dengan aman dan para petani juga lebih mudah membawa hasil kebunnya,” ujarnya.

Ia juga berharap agar jembatan yang telah dibangun ini dapat dijaga dan dirawat bersama oleh seluruh masyarakat sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang serta tetap aman dilalui.

Pembangunan Jembatan Bailey modular ini menjadi bukti nyata komitmen TNI AD dalam membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana serta pemulihan infrastruktur vital. Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan, diharapkan Desa Meriah Jaya dapat bangkit dan berkembang lebih baik ke depannya.

Jembatan Bailey Modular di Desa Meriah Jaya Rampung, Akses Warga Kembali Normal Pasca Banjir dan Longsor

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Pembangunan Jembatan Bailey modular di Desa Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, resmi rampung dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat. Jembatan sepanjang 15 meter dengan konstruksi 5 petak tipe 2-1 tersebut dibangun sebagai solusi cepat atas terputusnya akses akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Peresmian dilaksanakan penuh khidmat.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan oleh prajurit dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina bersama personel Batalyon Zeni Konstruksi 13/Karya Etmaka yang bertindak sebagai operator alat berat (excavator). Sinergi kedua satuan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian TNI AD dalam membantu percepatan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak bencana.

Sebelumnya, derasnya arus banjir bandang yang disertai material lumpur dan bebatuan besar menyebabkan jembatan penghubung utama di desa tersebut mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat dilalui. Kondisi ini sempat menghambat aktivitas masyarakat, termasuk distribusi kebutuhan pokok, akses pendidikan, serta layanan kesehatan.

Dengan selesainya pembangunan Jembatan Bailey modular ini, akses transportasi warga kini kembali normal. Kehadiran jembatan tersebut tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian desa yang sempat terganggu.

Prosesi peresmian ditandai dengan tradisi peusijuk dan doa bersama yang diikuti oleh para prajurit serta masyarakat setempat. Suasana penuh rasa syukur dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas rampungnya pembangunan jembatan yang sangat dinantikan.

Salah seorang warga setempat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan serta kerja keras para prajurit dalam membangun kembali jembatan penghubung desa mereka. Ia menuturkan bahwa selama jembatan rusak, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang cukup jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah bekerja tanpa mengenal lelah. Sekarang anak-anak bisa kembali berangkat sekolah dengan aman dan para petani juga lebih mudah membawa hasil kebunnya,” ujarnya.

Ia juga berharap agar jembatan yang telah dibangun ini dapat dijaga dan dirawat bersama oleh seluruh masyarakat sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang serta tetap aman dilalui.

Pembangunan Jembatan Bailey modular ini menjadi bukti nyata komitmen TNI AD dalam membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana serta pemulihan infrastruktur vital. Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan, diharapkan Desa Meriah Jaya dapat bangkit dan berkembang lebih baik ke depannya.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW Salurkan Bantuan Perlengkapan

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Dengan penuh kepedulian dan semangat kebersamaan, Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) dari Yonzipur 5/ABW menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada ratusan siswa di Kabupaten Aceh Utara. Bantuan tersebut diberikan kepada 365 siswa SD Negeri 2 Langkahan serta 375 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 Aceh Utara, sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak bencana alam di wilayah tersebut.

Kegiatan sosial ini merupakan wujud nyata dukungan dan perhatian dari Kodam V/Brawijaya bersama para donatur dari Provinsi Jawa Timur yang secara konsisten menunjukkan solidaritas kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan yang disalurkan meliputi seragam sekolah, tas, serta berbagai alat tulis yang sangat dibutuhkan siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Penyaluran bantuan dilaksanakan secara tertib dan tepat sasaran, dengan melibatkan pihak sekolah serta tokoh masyarakat setempat guna memastikan seluruh siswa yang berhak dapat menerima manfaat secara merata. Kehadiran personel Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW di tengah-tengah para siswa dan dewan guru disambut dengan penuh antusias dan rasa syukur.

Di tengah keterbatasan akibat dampak bencana, wajah-wajah ceria anak-anak kembali terpancar saat menerima perlengkapan sekolah yang baru. Bagi mereka, tas dan seragam tersebut bukan sekadar kebutuhan pendidikan, melainkan simbol harapan dan semangat baru untuk kembali belajar dengan penuh percaya diri serta meraih cita-cita di masa depan.

Komandan Satgas menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen TNI Angkatan Darat untuk senantiasa hadir membantu kesulitan masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan pascabencana. Selain menjalankan tugas utama dalam penanganan bencana dan pembangunan infrastruktur darurat, Satgas juga berupaya memberikan dukungan moril dan sosial bagi masyarakat, terutama generasi muda sebagai aset bangsa.

“Setiap bantuan yang kami salurkan merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral untuk membantu meringankan beban masyarakat. Kami berharap perlengkapan sekolah ini dapat memotivasi anak-anak agar tetap semangat belajar dan tidak kehilangan harapan meski berada dalam situasi yang sulit,” ujarnya.

Melalui sinergi kemanusiaan antara TNI AD, para donatur, dan masyarakat, terjalin kebersamaan yang semakin kuat. Nilai gotong royong dan solidaritas menjadi fondasi penting dalam upaya pemulihan pascabencana, sekaligus mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam membangun semangat dan optimisme. Karena setiap senyum anak Indonesia adalah cerminan masa depan bangsa yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW Salurkan Bantuan Perlengkapan

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Dengan penuh kepedulian dan semangat kebersamaan, Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) dari Yonzipur 5/ABW menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada ratusan siswa di Kabupaten Aceh Utara. Bantuan tersebut diberikan kepada 365 siswa SD Negeri 2 Langkahan serta 375 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 Aceh Utara, sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak bencana alam di wilayah tersebut.

Kegiatan sosial ini merupakan wujud nyata dukungan dan perhatian dari Kodam V/Brawijaya bersama para donatur dari Provinsi Jawa Timur yang secara konsisten menunjukkan solidaritas kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan yang disalurkan meliputi seragam sekolah, tas, serta berbagai alat tulis yang sangat dibutuhkan siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Penyaluran bantuan dilaksanakan secara tertib dan tepat sasaran, dengan melibatkan pihak sekolah serta tokoh masyarakat setempat guna memastikan seluruh siswa yang berhak dapat menerima manfaat secara merata. Kehadiran personel Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW di tengah-tengah para siswa dan dewan guru disambut dengan penuh antusias dan rasa syukur.

Di tengah keterbatasan akibat dampak bencana, wajah-wajah ceria anak-anak kembali terpancar saat menerima perlengkapan sekolah yang baru. Bagi mereka, tas dan seragam tersebut bukan sekadar kebutuhan pendidikan, melainkan simbol harapan dan semangat baru untuk kembali belajar dengan penuh percaya diri serta meraih cita-cita di masa depan.

Komandan Satgas menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen TNI Angkatan Darat untuk senantiasa hadir membantu kesulitan masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan pascabencana. Selain menjalankan tugas utama dalam penanganan bencana dan pembangunan infrastruktur darurat, Satgas juga berupaya memberikan dukungan moril dan sosial bagi masyarakat, terutama generasi muda sebagai aset bangsa.

“Setiap bantuan yang kami salurkan merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral untuk membantu meringankan beban masyarakat. Kami berharap perlengkapan sekolah ini dapat memotivasi anak-anak agar tetap semangat belajar dan tidak kehilangan harapan meski berada dalam situasi yang sulit,” ujarnya.

Melalui sinergi kemanusiaan antara TNI AD, para donatur, dan masyarakat, terjalin kebersamaan yang semakin kuat. Nilai gotong royong dan solidaritas menjadi fondasi penting dalam upaya pemulihan pascabencana, sekaligus mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam membangun semangat dan optimisme. Karena setiap senyum anak Indonesia adalah cerminan masa depan bangsa yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama.

Asril Ibrahim : Kinerja Bupati Aceh Timur Dinilai Lebih Banyak Konsep Ketimbang Realisasi

Aceh Timur ( Aceh dalam berita ) Jum’at 28-2-2026 Kinerja Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky mulai menjadi sorotan sejumlah kalangan masyarakat. Sejak resmi dilantik pada 19 Maret 2025, hingga mendekati satu tahun masa kepemimpinan, keduanya dinilai belum menunjukkan langkah konkret yang signifikan dalam merealisasikan program-program unggulan yang pernah dijanjikan saat kampanye.

Sejumlah pihak menilai, berbagai kegiatan seperti inspeksi mendadak (sidak) maupun kunjungan ke instansi di bawah naungan pemerintah daerah lebih terkesan sebagai rutinitas seremonial. Hingga kini, implementasi program prioritas yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dinilai belum terlihat secara nyata.

“Sejauh ini yang terlihat lebih banyak konsep dan wacana. Realisasi program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat belum tampak signifikan,” ujar Asril Ibrahim Tokoh Masyarakat Aceh Timur Idi Rayeuk kepa media di Aceh Timur.

Di sisi lain, geliat pembangunan yang tampak di beberapa titik wilayah dinilai bukan sepenuhnya merupakan hasil inisiatif pemerintah kabupaten. Sebagaimana diketahui, Aceh Timur merupakan salah satu daerah yang terdampak cukup parah akibat banjir bandang pada akhir tahun 2025. Kondisi tersebut secara otomatis menarik perhatian pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk melakukan percepatan rehabilitasi dan pemulihan infrastruktur serta kehidupan sosial masyarakat.

“Kalaupun ada denyut pembangunan, itu lebih karena faktor penanganan pascabanjir. Itu memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah di semua tingkatan untuk memastikan daerah terdampak segera pulih,” tambah Asril.

Masyarakat Aceh Timur saat ini berharap agar pasangan kepala daerah tersebut segera membuktikan komitmen politiknya melalui program yang terukur dan berdampak langsung. Janji-janji kampanye yang dahulu digaungkan dinilai perlu segera direalisasikan agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Selain dinilai minim realisasi program prioritas, lambannya pembangunan juga disebut-sebut berkaitan dengan belum tertatanya struktur birokrasi secara definitif. Hingga kini, banyak jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang masih diisi oleh pejabat berstatus Pelaksana Tugas (Plt), baik pada level kepala dinas maupun pejabat struktural eselon III dan IV.

Kondisi tersebut dinilai berdampak pada kurang optimalnya pengambilan kebijakan dan percepatan program kerja. “Bagaimana mungkin akselerasi pembangunan bisa berjalan maksimal jika hampir satu tahun masih banyak jabatan penting berstatus Plt. Ini tentu memengaruhi stabilitas dan keberanian dalam mengambil keputusan,”ujar Asril

Menurutnya, hingga saat ini pejabat yang telah didefinitifkan secara luas justru berada di level pemerintahan desa, yakni kepala desa (keuchik) yang langsung dilantik oleh Bupati. Sementara pada level organisasi perangkat daerah (OPD), proses penetapan pejabat definitif dinilai berjalan lamban.

Sejumlah pengamat menilai bahwa ketidakpastian jabatan dalam waktu yang cukup panjang berpotensi menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. Bahkan muncul dugaan adanya dinamika politik atau pertimbangan non-teknis dalam proses pengisian jabatan tersebut. Namun demikian, dugaan tersebut masih sebatas persepsi publik dan belum dapat dibuktikan secara faktual.

“Di beberapa daerah lain, dalam rentang waktu yang sama, proses penataan birokrasi sudah selesai bahkan sudah beberapa kali dilakukan pelantikan pejabat struktural. Sementara di Aceh Timur, masyarakat masih menunggu kepastian,” tambah Asril.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Timur segera melakukan penataan birokrasi secara profesional dan transparan agar roda pemerintahan berjalan efektif. Kepastian kepemimpinan di tingkat OPD dinilai menjadi salah satu kunci percepatan realisasi program pembangunan dan pemulihan ekonomi masyarakat, terutama pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025 lalu.Pungkas Asril Ibrahim.

Pembangunan Jembatan Perintis Dusun Gantung Langit, Aceh Tengah terus dikebut, Progres capai 51,8 Persen.

Takengon ( Aceh dalam berita ) Jum’at 27-2-2026 Pembangunan Jembatan Gantung di Dusun Gantung Langit, Desa Burni Bius, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. progres pengerjaan fisik telah mencapai 51,8 persen dari total target pembangunan yang telah direncanakan sebelumnya.

Jembatan gantung sepanjang 75 meter ini dibangun sebagai sarana penghubung vital bagi masyarakat Desa Burni Bius, khususnya warga Dusun Gantung Langit, yang selama ini menghadapi keterbatasan akses transportasi. Pada musim hujan, peningkatan debit air sungai kerap menghambat aktivitas warga. Tidak jarang masyarakat harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu demi mencapai kebun, sekolah, fasilitas kesehatan, maupun kampung tetangga.

Kehadiran jembatan gantung ini diharapkan mampu menjadi solusi atas kendala tersebut. Selain memperlancar mobilitas warga, jembatan ini juga akan mempermudah distribusi hasil pertanian yang menjadi sumber utama penghasilan masyarakat setempat. Dengan akses yang lebih baik, roda perekonomian desa diyakini akan semakin berkembang.

Pembangunan jembatan ini berada di wilayah binaan Koramil 08/Silih Nara yang merupakan bagian dari jajaran Kodim 0106/Aceh Tengah. Dalam pelaksanaannya, personel Kodim diterjunkan langsung ke lokasi bersama personel Yon TP 854/DK. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat setempat yang turut membantu proses pengerjaan di lapangan secara bergotong royong.

Adapun progres pekerjaan yang telah dicapai saat ini meliputi pemasangan jari-jari penahan sebagai penguat konstruksi utama jembatan, pengecoran pondasi sayap guna memperkokoh struktur penopang, serta pengecatan tiang besi B1 untuk mencegah korosi dan meningkatkan daya tahan material terhadap pengaruh cuaca. Seluruh tahapan pengerjaan dilaksanakan secara cermat dan terukur dengan tetap mengedepankan standar kualitas konstruksi serta faktor keamanan demi menjamin kekuatan dan umur panjang jembatan.

Para prajurit di lapangan terus mengoptimalkan pengerjaan agar pembangunan dapat selesai tepat waktu sesuai target yang telah ditentukan. Selain mengejar progres, kualitas konstruksi tetap menjadi prioritas utama. Setiap proses dilakukan secara maksimal dengan memperhatikan aspek teknis dan keselamatan kerja, sehingga hasil akhir nantinya benar-benar kokoh dan aman digunakan masyarakat dalam jangka panjang.

Semangat gotong royong dan kebersamaan antara TNI dan warga menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran pembangunan ini. Partisipasi aktif masyarakat tidak hanya mempercepat progres pekerjaan, tetapi juga mencerminkan tingginya kepedulian dan rasa memiliki terhadap infrastruktur yang sedang dibangun di desa mereka.

Pembangunan infrastruktur seperti jembatan gantung memiliki dampak strategis terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Akses yang lebih mudah akan mempermudah anak-anak menuju sekolah tanpa khawatir terhambat kondisi sungai, mempercepat jangkauan layanan kesehatan, serta menunjang aktivitas ekonomi warga, khususnya para petani dalam mengangkut hasil panen ke pasar.

Salah seorang warga Desa Burni Bius, Murdani (50), menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas pembangunan jembatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur dengan adanya pembangunan jembatan ini. Selama ini kalau air sungai naik, kami harus memutar cukup jauh untuk ke kebun atau ke kampung sebelah. Dengan adanya jembatan gantung ini, tentu akan sangat membantu aktivitas kami sehari-hari. Terima kasih kepada TNI dan semua pihak yang telah membantu,” ungkapnya.

Dengan semangat kebersamaan dan kerja sama yang solid antara TNI dan masyarakat, pembangunan Jembatan Gantung Dusun Gantung Langit diharapkan dapat segera rampung sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kehadirannya kelak diyakini akan menjadi infrastruktur vital yang membawa manfaat besar dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Burni Bius serta wilayah sekitarnya, sekaligus menjadi simbol nyata sinergi TNI dan rakyat dalam membangun desa.