Jembatan Bailey Modular di Desa Meriah Jaya Rampung, Akses Warga Kembali Normal Pasca Banjir dan Longsor

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Pembangunan Jembatan Bailey modular di Desa Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, resmi rampung dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat. Jembatan sepanjang 15 meter dengan konstruksi 5 petak tipe 2-1 tersebut dibangun sebagai solusi cepat atas terputusnya akses akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Peresmian dilaksanakan penuh khidmat.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan oleh prajurit dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina bersama personel Batalyon Zeni Konstruksi 13/Karya Etmaka yang bertindak sebagai operator alat berat (excavator). Sinergi kedua satuan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian TNI AD dalam membantu percepatan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak bencana.

Sebelumnya, derasnya arus banjir bandang yang disertai material lumpur dan bebatuan besar menyebabkan jembatan penghubung utama di desa tersebut mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat dilalui. Kondisi ini sempat menghambat aktivitas masyarakat, termasuk distribusi kebutuhan pokok, akses pendidikan, serta layanan kesehatan.

Dengan selesainya pembangunan Jembatan Bailey modular ini, akses transportasi warga kini kembali normal. Kehadiran jembatan tersebut tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian desa yang sempat terganggu.

Prosesi peresmian ditandai dengan tradisi peusijuk dan doa bersama yang diikuti oleh para prajurit serta masyarakat setempat. Suasana penuh rasa syukur dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas rampungnya pembangunan jembatan yang sangat dinantikan.

Salah seorang warga setempat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan serta kerja keras para prajurit dalam membangun kembali jembatan penghubung desa mereka. Ia menuturkan bahwa selama jembatan rusak, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang cukup jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah bekerja tanpa mengenal lelah. Sekarang anak-anak bisa kembali berangkat sekolah dengan aman dan para petani juga lebih mudah membawa hasil kebunnya,” ujarnya.

Ia juga berharap agar jembatan yang telah dibangun ini dapat dijaga dan dirawat bersama oleh seluruh masyarakat sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang serta tetap aman dilalui.

Pembangunan Jembatan Bailey modular ini menjadi bukti nyata komitmen TNI AD dalam membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana serta pemulihan infrastruktur vital. Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan, diharapkan Desa Meriah Jaya dapat bangkit dan berkembang lebih baik ke depannya.

Jembatan Bailey Modular di Desa Meriah Jaya Rampung, Akses Warga Kembali Normal Pasca Banjir dan Longsor

Bener Meriah ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Pembangunan Jembatan Bailey modular di Desa Meriah Jaya, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, resmi rampung dan siap dimanfaatkan oleh masyarakat. Jembatan sepanjang 15 meter dengan konstruksi 5 petak tipe 2-1 tersebut dibangun sebagai solusi cepat atas terputusnya akses akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Peresmian dilaksanakan penuh khidmat.

Pembangunan jembatan ini dilaksanakan oleh prajurit dari Batalyon Zeni Tempur 5/Arati Bhaya Wighina bersama personel Batalyon Zeni Konstruksi 13/Karya Etmaka yang bertindak sebagai operator alat berat (excavator). Sinergi kedua satuan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian TNI AD dalam membantu percepatan pemulihan infrastruktur di wilayah terdampak bencana.

Sebelumnya, derasnya arus banjir bandang yang disertai material lumpur dan bebatuan besar menyebabkan jembatan penghubung utama di desa tersebut mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat dilalui. Kondisi ini sempat menghambat aktivitas masyarakat, termasuk distribusi kebutuhan pokok, akses pendidikan, serta layanan kesehatan.

Dengan selesainya pembangunan Jembatan Bailey modular ini, akses transportasi warga kini kembali normal. Kehadiran jembatan tersebut tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan kembali roda perekonomian desa yang sempat terganggu.

Prosesi peresmian ditandai dengan tradisi peusijuk dan doa bersama yang diikuti oleh para prajurit serta masyarakat setempat. Suasana penuh rasa syukur dan kebersamaan tampak mewarnai kegiatan tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas rampungnya pembangunan jembatan yang sangat dinantikan.

Salah seorang warga setempat mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan serta kerja keras para prajurit dalam membangun kembali jembatan penghubung desa mereka. Ia menuturkan bahwa selama jembatan rusak, warga harus memutar melalui jalur alternatif yang cukup jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kami sangat berterima kasih kepada bapak-bapak TNI yang sudah bekerja tanpa mengenal lelah. Sekarang anak-anak bisa kembali berangkat sekolah dengan aman dan para petani juga lebih mudah membawa hasil kebunnya,” ujarnya.

Ia juga berharap agar jembatan yang telah dibangun ini dapat dijaga dan dirawat bersama oleh seluruh masyarakat sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang serta tetap aman dilalui.

Pembangunan Jembatan Bailey modular ini menjadi bukti nyata komitmen TNI AD dalam membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam penanggulangan bencana serta pemulihan infrastruktur vital. Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan, diharapkan Desa Meriah Jaya dapat bangkit dan berkembang lebih baik ke depannya.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW Salurkan Bantuan Perlengkapan

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Dengan penuh kepedulian dan semangat kebersamaan, Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) dari Yonzipur 5/ABW menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada ratusan siswa di Kabupaten Aceh Utara. Bantuan tersebut diberikan kepada 365 siswa SD Negeri 2 Langkahan serta 375 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 Aceh Utara, sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak bencana alam di wilayah tersebut.

Kegiatan sosial ini merupakan wujud nyata dukungan dan perhatian dari Kodam V/Brawijaya bersama para donatur dari Provinsi Jawa Timur yang secara konsisten menunjukkan solidaritas kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan yang disalurkan meliputi seragam sekolah, tas, serta berbagai alat tulis yang sangat dibutuhkan siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Penyaluran bantuan dilaksanakan secara tertib dan tepat sasaran, dengan melibatkan pihak sekolah serta tokoh masyarakat setempat guna memastikan seluruh siswa yang berhak dapat menerima manfaat secara merata. Kehadiran personel Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW di tengah-tengah para siswa dan dewan guru disambut dengan penuh antusias dan rasa syukur.

Di tengah keterbatasan akibat dampak bencana, wajah-wajah ceria anak-anak kembali terpancar saat menerima perlengkapan sekolah yang baru. Bagi mereka, tas dan seragam tersebut bukan sekadar kebutuhan pendidikan, melainkan simbol harapan dan semangat baru untuk kembali belajar dengan penuh percaya diri serta meraih cita-cita di masa depan.

Komandan Satgas menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen TNI Angkatan Darat untuk senantiasa hadir membantu kesulitan masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan pascabencana. Selain menjalankan tugas utama dalam penanganan bencana dan pembangunan infrastruktur darurat, Satgas juga berupaya memberikan dukungan moril dan sosial bagi masyarakat, terutama generasi muda sebagai aset bangsa.

“Setiap bantuan yang kami salurkan merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral untuk membantu meringankan beban masyarakat. Kami berharap perlengkapan sekolah ini dapat memotivasi anak-anak agar tetap semangat belajar dan tidak kehilangan harapan meski berada dalam situasi yang sulit,” ujarnya.

Melalui sinergi kemanusiaan antara TNI AD, para donatur, dan masyarakat, terjalin kebersamaan yang semakin kuat. Nilai gotong royong dan solidaritas menjadi fondasi penting dalam upaya pemulihan pascabencana, sekaligus mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam membangun semangat dan optimisme. Karena setiap senyum anak Indonesia adalah cerminan masa depan bangsa yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW Salurkan Bantuan Perlengkapan

Aceh Utara ( Aceh dalam berita ) Sabtu 28-2-2026 Dengan penuh kepedulian dan semangat kebersamaan, Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gulbencal) dari Yonzipur 5/ABW menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada ratusan siswa di Kabupaten Aceh Utara. Bantuan tersebut diberikan kepada 365 siswa SD Negeri 2 Langkahan serta 375 siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 18 Aceh Utara, sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang terdampak bencana alam di wilayah tersebut.

Kegiatan sosial ini merupakan wujud nyata dukungan dan perhatian dari Kodam V/Brawijaya bersama para donatur dari Provinsi Jawa Timur yang secara konsisten menunjukkan solidaritas kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan yang disalurkan meliputi seragam sekolah, tas, serta berbagai alat tulis yang sangat dibutuhkan siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Penyaluran bantuan dilaksanakan secara tertib dan tepat sasaran, dengan melibatkan pihak sekolah serta tokoh masyarakat setempat guna memastikan seluruh siswa yang berhak dapat menerima manfaat secara merata. Kehadiran personel Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW di tengah-tengah para siswa dan dewan guru disambut dengan penuh antusias dan rasa syukur.

Di tengah keterbatasan akibat dampak bencana, wajah-wajah ceria anak-anak kembali terpancar saat menerima perlengkapan sekolah yang baru. Bagi mereka, tas dan seragam tersebut bukan sekadar kebutuhan pendidikan, melainkan simbol harapan dan semangat baru untuk kembali belajar dengan penuh percaya diri serta meraih cita-cita di masa depan.

Komandan Satgas menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen TNI Angkatan Darat untuk senantiasa hadir membantu kesulitan masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan pascabencana. Selain menjalankan tugas utama dalam penanganan bencana dan pembangunan infrastruktur darurat, Satgas juga berupaya memberikan dukungan moril dan sosial bagi masyarakat, terutama generasi muda sebagai aset bangsa.

“Setiap bantuan yang kami salurkan merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral untuk membantu meringankan beban masyarakat. Kami berharap perlengkapan sekolah ini dapat memotivasi anak-anak agar tetap semangat belajar dan tidak kehilangan harapan meski berada dalam situasi yang sulit,” ujarnya.

Melalui sinergi kemanusiaan antara TNI AD, para donatur, dan masyarakat, terjalin kebersamaan yang semakin kuat. Nilai gotong royong dan solidaritas menjadi fondasi penting dalam upaya pemulihan pascabencana, sekaligus mempererat hubungan antara TNI dan rakyat.

Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam membangun semangat dan optimisme. Karena setiap senyum anak Indonesia adalah cerminan masa depan bangsa yang harus dijaga dan diperjuangkan bersama.

Asril Ibrahim : Kinerja Bupati Aceh Timur Dinilai Lebih Banyak Konsep Ketimbang Realisasi

Aceh Timur ( Aceh dalam berita ) Jum’at 28-2-2026 Kinerja Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky mulai menjadi sorotan sejumlah kalangan masyarakat. Sejak resmi dilantik pada 19 Maret 2025, hingga mendekati satu tahun masa kepemimpinan, keduanya dinilai belum menunjukkan langkah konkret yang signifikan dalam merealisasikan program-program unggulan yang pernah dijanjikan saat kampanye.

Sejumlah pihak menilai, berbagai kegiatan seperti inspeksi mendadak (sidak) maupun kunjungan ke instansi di bawah naungan pemerintah daerah lebih terkesan sebagai rutinitas seremonial. Hingga kini, implementasi program prioritas yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dinilai belum terlihat secara nyata.

“Sejauh ini yang terlihat lebih banyak konsep dan wacana. Realisasi program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat belum tampak signifikan,” ujar Asril Ibrahim Tokoh Masyarakat Aceh Timur Idi Rayeuk kepa media di Aceh Timur.

Di sisi lain, geliat pembangunan yang tampak di beberapa titik wilayah dinilai bukan sepenuhnya merupakan hasil inisiatif pemerintah kabupaten. Sebagaimana diketahui, Aceh Timur merupakan salah satu daerah yang terdampak cukup parah akibat banjir bandang pada akhir tahun 2025. Kondisi tersebut secara otomatis menarik perhatian pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk melakukan percepatan rehabilitasi dan pemulihan infrastruktur serta kehidupan sosial masyarakat.

“Kalaupun ada denyut pembangunan, itu lebih karena faktor penanganan pascabanjir. Itu memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah di semua tingkatan untuk memastikan daerah terdampak segera pulih,” tambah Asril.

Masyarakat Aceh Timur saat ini berharap agar pasangan kepala daerah tersebut segera membuktikan komitmen politiknya melalui program yang terukur dan berdampak langsung. Janji-janji kampanye yang dahulu digaungkan dinilai perlu segera direalisasikan agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Selain dinilai minim realisasi program prioritas, lambannya pembangunan juga disebut-sebut berkaitan dengan belum tertatanya struktur birokrasi secara definitif. Hingga kini, banyak jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang masih diisi oleh pejabat berstatus Pelaksana Tugas (Plt), baik pada level kepala dinas maupun pejabat struktural eselon III dan IV.

Kondisi tersebut dinilai berdampak pada kurang optimalnya pengambilan kebijakan dan percepatan program kerja. “Bagaimana mungkin akselerasi pembangunan bisa berjalan maksimal jika hampir satu tahun masih banyak jabatan penting berstatus Plt. Ini tentu memengaruhi stabilitas dan keberanian dalam mengambil keputusan,”ujar Asril

Menurutnya, hingga saat ini pejabat yang telah didefinitifkan secara luas justru berada di level pemerintahan desa, yakni kepala desa (keuchik) yang langsung dilantik oleh Bupati. Sementara pada level organisasi perangkat daerah (OPD), proses penetapan pejabat definitif dinilai berjalan lamban.

Sejumlah pengamat menilai bahwa ketidakpastian jabatan dalam waktu yang cukup panjang berpotensi menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. Bahkan muncul dugaan adanya dinamika politik atau pertimbangan non-teknis dalam proses pengisian jabatan tersebut. Namun demikian, dugaan tersebut masih sebatas persepsi publik dan belum dapat dibuktikan secara faktual.

“Di beberapa daerah lain, dalam rentang waktu yang sama, proses penataan birokrasi sudah selesai bahkan sudah beberapa kali dilakukan pelantikan pejabat struktural. Sementara di Aceh Timur, masyarakat masih menunggu kepastian,” tambah Asril.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Timur segera melakukan penataan birokrasi secara profesional dan transparan agar roda pemerintahan berjalan efektif. Kepastian kepemimpinan di tingkat OPD dinilai menjadi salah satu kunci percepatan realisasi program pembangunan dan pemulihan ekonomi masyarakat, terutama pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025 lalu.Pungkas Asril Ibrahim.